Seseorang yang pernah bermimpi tentang kota yang tak lekang oleh waktu kini telah tiada. Menno Pennink, seorang visioner yang melihat potensi di balik bangunan-bangunan reyot dan jalanan yang terlupakan, baru saja menghembuskan napas terakhirnya di usia 90 tahun. Bukan sekadar pengusaha atau dokter bedah saraf ulung, ia adalah arsitek kebangkitan sebuah pusat kota yang hampir mati suri. Mari kita selami bagaimana pemikirannya yang tajam, didukung oleh kepekaan seni dan keberanian investasi, membentuk kembali lanskap Hay Street, membuktikan bahwa sebuah visi bisa lebih berharga dari emas.
Di sudut penthouse yang menghadap gemerlap lampu Hay Street, Menno Pennink pernah merenung, tangannya mungkin terasa dingin di atas meja makan mahoni warisan mendiang ibunya. Desain kota yang ia impikan adalah cerminan dari kejayaan masa lalu, era 1950-an dan 1960-an yang penuh kehidupan. Bayangkan pusat kota yang ramai, bukan sekadar jalanan kosong yang ditinggalkan setelah mal modern lahir di tahun 1975 dan kawasan pinggiran kota menjamur. Saat itu, penduduk berbelanja di toko-toko besar, menikmati makan siang di kafe-kafe legendaris, bertemu dengan pedagang yang familier, atau mencari cincin berlian impian. Para remaja berdandan rapi mencari sepatu bermerek, dan bioskop-bioskop memutar film terbaru, menciptakan denyut nadi kota yang tak tergantikan.
Pennink melihat Hotel Prince Charles bukan sebagai bangunan terbengkalai, melainkan sebagai potensi ruang pertemuan mewah untuk acara-acara istimewa. Ia membayangkan ballroomnya menjadi saksi bisu pesta pernikahan, perayaan Natal, dan malam Tahun Baru yang meriah. Demikian pula, Lafayette Hotel yang kini tutup mata, dan bangunan-bangunan kosong di sepanjang Hay Street yang nyaris runtuh, baginya adalah kanvas yang menunggu sentuhan restorasi. Ia tidak melihat kehancuran, melainkan peluang untuk menghidupkan kembali ruh kota, menaburkan benih-benih seni dan budaya di setiap sudut yang terabaikan.
Kecintaannya pada Hay Street bukanlah sekadar sentimentalitas kosong. Sejak tahun 1992, Pennink telah mengidentifikasi potensi revitalisasi yang luar biasa. Ia tidak berdiam diri mengamati. Sebaliknya, ia mengerahkan dana, hati, dan jiwanya untuk mewujudkan visi yang ia yakini. Menno Pennink berani bermimpi, sebuah tindakan yang kerap kali dipandang sebagai kemewahan di tengah realitas pragmatis.
Dia Benar-Benar Meletakkan Fondasi
"Dia selalu melihat pusat kota seperti yang saya lihat, bukan seperti apa adanya, tapi seperti apa jadinya kelak," ujar John Malzone, pemilik properti kawakan di area tersebut. "Dan ia bekerja keras serta berinvestasi besar di kawasan pusat kota. Ia membeli banyak properti demi memastikan semuanya terjaga dan terawat dengan baik, agar generasi mendatang dapat melihatnya." Investasi ini bukan sekadar transaksi bisnis; ini adalah komitmen untuk melestarikan warisan. Pennink sadar bahwa menjaga integritas arsitektur lama adalah kunci untuk mempertahankan karakter unik sebuah kota, sesuatu yang seringkali hilang dalam pusaran pembangunan modern yang seragam.
Malzone menambahkan, "Menno memiliki visi besar untuk masa depan pusat kota. Kontribusinya yang sesungguhnya bukan hanya ia sendiri yang melihatnya, tetapi ia berhasil menularkan kecintaan pada pusat kota dan masa depannya kepada generasi berikutnya. Itulah yang seharusnya kita semua lakukan sekarang." Pernyataan ini menyoroti peran Pennink sebagai mentor tak resmi, menginspirasi orang lain untuk melihat potensi yang sama dan bertindak nyata. Visi tersebut tidak hanya terhenti pada dirinya sendiri, tetapi menjadi api yang menyulut semangat kolektif.
Pennink, yang pensiun sebagai ahli bedah saraf, pernah menggambarkan pusat kota sebagai "satu-satunya pasiennya yang tersisa," sebuah pasien "dalam perawatan intensif." Metafora ini sangat kuat; ia menggambarkan kepedulian mendalam dan rasa tanggung jawab yang ia rasakan terhadap denyut nadi kota. Menempatkan pusat kota sebagai "pasien" menunjukkan bahwa baginya, kesehatan kota adalah masalah medis yang memerlukan diagnosis, perawatan, dan resep yang tepat.
Hank Parfitt, seorang pensiunan urolog yang memiliki City Center Gallery & Books di dekat Pasar Raya bersejarah, juga mengakui peran Pennink. "Saya mengenal Dr. Pennink dari berbagai sudut pandang. Kami sama-sama ahli bedah, sesama promotor seni, dan kami berdua memiliki gairah untuk pusat kota Fayetteville. Dia adalah salah satu yang pertama mengenali nilai potensial bangunan-bangunan tua ini dan manfaat pusat kota yang berkembang bagi seluruh komunitas. Dia benar-benar meletakkan fondasi yang menjadi pijakan banyak dari kami sejak saat itu." Pengakuan ini menegaskan bahwa Pennink bukan hanya seorang individu dengan visi, tetapi juga katalisator perubahan yang memungkinkan orang lain untuk berpartisipasi dan berkontribusi.
Kecuali Jika Mencoba
Elaine Kelley, pemilik Turner Lane, sebuah toko suvenir mungil di dekat Hay Street, adalah salah satu dari banyak orang yang berbagi visi Pennink. Pengalaman bertemu dengannya membuka pintu bagi banyak orang lain yang memiliki impian serupa namun terkendala keraguan. Kelley mengaku, "Saya sangat sedih mendengar kabar meninggalnya Dr. Pennink. Dalam beberapa hari terakhir, saya terus memikirkan percakapan-percakapan kami dan kebaikan hatinya yang tenang dan konsisten setiap kali kami bertemu. Saya pertama kali bertemu Dr. Pennink pada tahun 2009, ketika ia memberi saya kesempatan untuk membuka Turner Lane di pusat kota Fayetteville, menawarkan ruang untuk toko unik saya yang tersembunyi di luar Burgess Street—sesuatu yang saya impikan sebagai babak kedua dalam hidup, meskipun saya tidak tahu banyak tentang bisnis."
Pennink tidak hanya menawarkan ruang, tetapi juga keberanian. "Dia mendengarkan ide saya dan mendorong saya untuk mencoba. Dia berkata, 'Kedengarannya sangat berarti bagimu. Beri kesempatan. Kamu tidak akan tahu kecuali kamu mencoba.'" Kata-kata ini, sederhana namun kuat, menjadi mantra bagi banyak pengusaha kecil yang ragu-ragu. Frasa "Kecuali Jika Mencoba" menjadi pengingat abadi bahwa tindakan, sekecil apapun, adalah langkah pertama menuju pencapaian. Ini adalah filosofi yang melampaui bisnis, menyentuh aspek fundamental dari keberanian manusia.
Kelley melanjutkan, "Saya tahu warisannya mencakup banyak usaha dan proyek bisnis besar yang megah, tetapi yang mungkin tidak mendapat banyak perhatian adalah investasi yang ia lakukan pada orang-orang. Seperti diri saya, tetangga saya, dan orang lain yang telah membangun bisnis kecil. Ia percaya dan berinvestasi pada pusat kota, dan kami adalah hasil dari keyakinan itu." Peran Pennink sebagai investor pada manusia, bukan hanya pada properti, adalah inti dari dampak jangka panjangnya. Ia tidak hanya membangun gedung, tetapi juga membangun komunitas, menumbuhkan ekosistem bisnis yang saling mendukung.
"Banyak proyek yang ia dan keluarganya dukung selama bertahun-tahun, bersama dengan bisnis kecil yang terus berkembang di sini, adalah bagian dari apa yang ia bantu wujudkan. Ia adalah seorang pria sejati—baik hati, berbakat, dan anggun. Pusat kota lebih kuat karena dia. Ia akan sangat dirindukan." Pengakuan ini menutup bagian tentang dampak pribadi Pennink, menyoroti warisan yang berwujud dan tak berwujud yang ia tinggalkan.
Seorang Pria Renaisans Sejati
Ralph Huff, yang berkolaborasi dengan Pennink dalam pembangunan kondominium dan perkantoran di 300 Hay Street, memberikan pujian yang tak kalah membanggakan. "Dia adalah seorang pria Renaisans sejati dengan banyak minat. Masih belajar bahasa Mandarin di usia 89 tahun. Seorang humanis, filantropis, musisi, dan pecinta seni. Tetapi tidak ada yang memiliki gairah, dedikasi, dan investasi di pusat kota lebih dari Menno. Saya sangat mencintainya, dan ia akan sangat dirindukan." Deskripsi "Pria Renaisans" adalah gelar kehormatan yang tepat, mencerminkan spektrum minat dan bakatnya yang luas, dari sains hingga seni dan kemanusiaan.
Gairah Pennink terhadap seni tidak berhenti pada investasi properti. Ia adalah seorang musisi berbakat dengan kecintaan mendalam pada biola. Upayanya untuk mendirikan Museum Seni di kota ini, dan keyakinannya bahwa Festival Park adalah lokasi yang sempurna untuk itu, menunjukkan visinya yang holistik. Ia melihat seni sebagai elemen integral dari kehidupan kota, mampu mengangkat semangat dan menciptakan identitas. Keinginannya untuk seni tidak terbatas pada apresiasi pasif, tetapi manifestasi aktif melalui advokasi dan perencanaan.
Bob Pinson, CEO Arts Council of Fayetteville | Cumberland County yang pensiun, mengakui dampak Pennink di dunia seni. "Yah, izinkan saya katakan, Menno Pennink adalah salah satu dari orang-orang yang membuat sebuah tempat menjadi lebih baik hanya dengan menjadi bagian darinya. Di sini, ketika berbicara tentang seni di Fayetteville, nama Menno pasti akan muncul, dan itu ada alasannya. Ia selalu memiliki apresiasi yang nyata dan tulus terhadap apa yang dibawa seni ke dalam sebuah komunitas. Bukan hanya pertunjukan atau pameran, tetapi cara seni menyatukan orang, memicu sedikit kegembiraan, dan memberi orang sesuatu untuk dibanggakan." Pinson menyoroti kemampuan Pennink untuk melihat nilai seni yang lebih dalam, melampaui estetika semata.
"Dan Menno tidak hanya percaya pada hal itu, ia menunjukkannya berulang kali. Apa yang selalu saya kagumi adalah ia tidak pernah membuat keributan besar tentangnya. Ia hanya menggulung lengan bajunya, memberikan dukungan, dan menjaga semuanya bergerak ke arah yang benar. Komitmen yang mantap dan di belakang layar semacam itu. Itulah jenis hal yang membangun sesuatu yang langgeng." Pinson secara tepat menggambarkan gaya kepemimpinan Pennink yang rendah hati namun efektif, di mana tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Dedikasi tanpa pamrih inilah yang seringkali menghasilkan dampak terbesar.
Pelopor Perawatan Kesehatan
Lahir di Djakarta, Indonesia, Menno Pennink memulai perjalanannya sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, putra Johan Pennink dan Francoise Van Senden. Masa kecilnya membentuk fondasi bagi pribadi yang serba bisa, mengembangkan kecintaan pada musik dan kemampuan berpikir mendalam yang melampaui cakrawala. Ketertarikan dan gairahnya pada tubuh manusia dan perawatan kesehatan membawanya ke Fayetteville pada tahun 1970-an, di mana ia kemudian mengabdi sebagai radiolog dan ahli bedah saraf di Cape Fear Medical Center. Ia tidak hanya menjadi praktisi medis, tetapi juga seorang inovator yang berani memimpin.
Bersama dokter-dokter lain, ia menjadi advokat utama untuk pengadaan teknologi komputer dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) pertama untuk rumah sakit di Cumberland dan Moore counties. Langkah ini menunjukkan pemikirannya yang progresif dan visinya untuk masa depan kedokteran. Ia tidak puas dengan status quo; ia selalu mencari cara untuk meningkatkan perawatan pasien melalui teknologi terbaru. Dedikasinya pada kemajuan medis ini berdampak signifikan pada kualitas layanan kesehatan di wilayah tersebut.
Mike Nagowski, mantan CEO Cape Fear Valley Health, memberikan kesaksian yang kuat: "Dr. Pennink adalah pelopor penting untuk perawatan kesehatan di Carolina Utara bagian tenggara. Dr. Pennink tidak hanya seorang juara bagi perawatan pasien, tetapi juga teknologi dan teknik terbaru. Warisannya terus berlanjut di Cape Fear Valley Health." Pengakuan ini menegaskan peran Pennink sebagai tokoh kunci dalam evolusi sistem kesehatan lokal, seorang inovator yang warisannya masih terasa hingga kini.
Biola di Jalanan Emas
Jejak kaki Menno Pennink tersebar luas di sepanjang Hay Street, dari Hotel Prince Charles (kini The Residences at the Prince Charles) hingga berbagai bangunan bersejarah lainnya, termasuk kondominium 300 Hay Street. Jejaknya juga terlihat jelas di Cape Fear Medical Center, First Health of the Carolinas, dan The CARE Clinic untuk mereka yang membutuhkan. Ia adalah perwujudan nyata dari kepercayaan pada potensi sebuah kawasan. Keterlibatannya yang mendalam dan beragam menunjukkan betapa besar cintanya pada kota ini.
Menno Pennink tidak pernah berhenti percaya pada apa yang bisa dicapai oleh pusat kota Fayetteville. "Dr. Menno Pennink meninggalkan warisan yang luar biasa di Fayetteville," kata Manajer Kota Douglas Hewett. "Visinya membantu membentuk pusat kota, tetapi dampaknya jauh melampaui itu. Warisannya juga hidup dalam keluarga yang ia tinggalkan." Hewett merangkum kontribusi Pennink sebagai sosok yang multidimensional, yang pengaruhnya meresap ke berbagai aspek kehidupan kota.
John Malzone kembali menekankan kedalaman komitmen Pennink: ia mencurahkan "uang, pikiran, dan hatinya" untuk pusat kota dan komunitas ini. George Breece, penduduk lama Fayetteville, menambahkan sentuhan puitis pada sosok Pennink. "Suzanne Pennink menggambarkan suaminya Menno sebagai 'Pria Renaisans,' dan itu adalah kebenaran mutlak. Jejak kaki dan tangan Menno ada di mana-mana di Fayetteville. Mulai dari menjadi ahli bedah saraf kelas dunia, menjadi pengembang, hingga mendukung seni, baik itu museum atau simfoni, Menno memimpin. Komunitas kami beruntung dan diberkati memiliki Menno. Menno pasti sedang berjalan di jalanan emas dengan biolanya di tangan, dan para malaikat menunggu untuk mendengarnya bermain. Betapa baiknya Menno, dan betapa cemerlangnya teladan yang ia tinggalkan untuk kita ikuti." Breece membingkai akhir hidup Pennink sebagai transisi menuju keabadian, di mana bakat dan semangatnya terus dihargai.
Epilog
Pada sore musim semi tahun 2022, di bawah tatapan penuh kasih istrinya, Suzanne, Menno Pennink duduk di meja makan mahoni warisan ibunya. Ada ketenangan dalam pandangannya, sebuah refleksi atas perjalanannya dalam menghidupkan kembali lanskap Hay Street dan bangunan-bangunannya yang pernah tertutup papan. Ia adalah sosok yang rendah hati, selalu menekankan bahwa visi tersebut adalah upaya kolektif, dan ia bersyukur banyak orang lain ikut ambil bagian. "Saya bangga dengan ini," ujarnya kala itu, "Dan senang orang lain mulai menyadarinya." Pengakuan ini mencerminkan kerendahan hati seorang visioner yang melihat keberhasilan bukan sebagai pencapaian pribadi semata, tetapi sebagai bukti kolaborasi dan kebangkitan komunitas.
