Bayangkan, baru sehari menikah, eh, sudah harus siap mental didatangi seratus hidangan berbeda selama 40 hari berturut-turut. Kedengarannya seperti mimpi buruk bagi yang sedang diet, tapi inilah yang terjadi dalam tradisi Puyyappla Perukkal di Thalassery, Kerala. Lebih dari sekadar pesta makan, ini adalah cara unik untuk "memelihara" menantu laki-laki.

Puyyappla Perukkal: Lebih dari Sekadar Makan Enak

Dikenal sebagai Puyyappla Perukkal ("nurturing the son‑in‑law"), tradisi kuno ini mengharuskan pengantin pria untuk tinggal di rumah pengantin wanita selama 40 hari. Selama itu, ibu mertua dan kerabat lainnya akan menyiapkan hingga 100 hidangan berbeda yang jarang diulang. Setiap hari, pengantin pria akan disuguhi berbagai makanan mewah yang disiapkan di bawah bimbingan juru masak rumahan yang matriarkal.

Tradisi ini dipercaya berakar pada sistem Marumakkathayam, sebuah sistem matrilineal kuno di Kerala di mana properti dan warisan diturunkan melalui perempuan di beberapa komunitas Hindu. Seiring waktu, sistem ini dianggap telah menginspirasi umat Muslim di Thalassery untuk menciptakan Puyyappla Perukkal untuk menghormati menantu laki-laki mereka dan memperkuat ikatan keluarga. Meskipun beberapa komunitas Mappila lainnya di kota-kota terdekat mulai mengadopsi pesta 40 hari yang epik ini dalam beberapa dekade terakhir, menurut PM Jabir dari keluarga Maliyakkal yang terkenal di daerah tersebut, "tradisi ini dipinjam dari apa yang kami ikuti di sini di Thalassery".

Dulu, setiap keluarga Mappila di Thalassery mempraktikkan Puyyappla Perukkal. Dalam budaya Mappila, menyambut menantu laki-laki ke dalam keluarga adalah tanda hormat yang besar, dan di seluruh India, angka 40 dianggap signifikan dalam peristiwa kehidupan dan melambangkan berkah dan refleksi dalam budaya Islam setempat. Jika ibu pengantin wanita meninggal, sakit, atau tidak dapat menjalankan tugasnya, peran tersebut akan diambil alih oleh sesepuh perempuan lainnya.

"Sehari setelah pernikahan, saat fajar, pengantin pria disajikan roti yang mendesis dalam ghee (mentega klarifikasi), pazham vatti (goreng pisang) dan telur rebus, diikuti dengan sarapan berbagai jenis pathiri (roti pipih tepung beras), ari rotti (roti pipih beras) atau ney pathiri emas (roti beras yang digoreng dengan ghee) dipasangkan dengan kari domba," kata Rubeena Kalathiyath, seorang juru masak di The Heritage 1866, sebuah restoran dan rumah warisan berusia 159 tahun yang terletak di Thalassery.

Sejarah Panjang di Balik Tradisi yang Unik

Marumakkathayam, sistem matrilineal yang menjadi dasar Puyyappla Perukkal, adalah warisan budaya yang menarik. Dalam sistem ini, perempuan memiliki peran sentral dalam keluarga dan masyarakat. Warisan dan properti diturunkan melalui garis perempuan, memberikan mereka kekuasaan dan otoritas yang signifikan. Puyyappla Perukkal dapat dilihat sebagai perpanjangan dari sistem ini, di mana menantu laki-laki dihormati dan dihargai sebagai anggota baru keluarga.

Namun, seiring berjalannya waktu, sistem matrilineal mulai memudar dan digantikan oleh sistem patrilineal yang lebih umum. Meskipun demikian, Puyyappla Perukkal tetap menjadi pengingat akan masa lalu yang unik dan pentingnya peran perempuan dalam budaya Kerala. Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana budaya dapat beradaptasi dan berkembang, dengan unsur-unsur dari berbagai agama dan komunitas yang bergabung untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bermakna.

Filosofi Mendalam di Balik Hidangan yang Melimpah

Puyyappla Perukkal bukan hanya tentang kuantitas makanan, tetapi juga kualitas dan keragaman hidangan yang disajikan. Setiap hidangan disiapkan dengan cermat dan penuh cinta, menggunakan bahan-bahan segar dan rempah-rempah aromatik. Lebih dari sekadar memuaskan rasa lapar, makanan dalam Puyyappla Perukkal memiliki makna simbolis yang mendalam.

Setiap hidangan mewakili berkah, kemakmuran, dan harapan untuk masa depan yang bahagia bagi pasangan pengantin baru. Keragaman hidangan juga mencerminkan kekayaan budaya dan kuliner Kerala. Dari hidangan manis hingga hidangan gurih, dari hidangan vegetarian hingga hidangan daging, setiap hidangan menawarkan pengalaman rasa yang unik dan memuaskan. Menantu laki-laki tidak hanya dimanjakan dengan makanan enak, tetapi juga diperkenalkan dengan warisan kuliner yang kaya dan beragam.

Lebih dari Sekadar Tradisi: Investasi Jangka Panjang dalam Keluarga

Mungkin terdengar berlebihan, tetapi Puyyappla Perukkal sebenarnya adalah investasi jangka panjang dalam hubungan keluarga. Dengan memanjakan menantu laki-laki selama 40 hari, keluarga pengantin wanita berharap untuk membangun ikatan yang kuat dan abadi. Ini adalah cara untuk menunjukkan rasa hormat, cinta, dan dukungan kepada anggota keluarga baru. Lebih dari sekadar tradisi, Puyyappla Perukkal adalah komitmen untuk menjaga hubungan keluarga yang harmonis dan saling mendukung.

Namun, di era modern ini, tradisi seperti Puyyappla Perukkal mungkin tampak tidak relevan atau bahkan memberatkan. Dengan gaya hidup yang serba cepat dan tuntutan ekonomi yang semakin meningkat, tidak semua keluarga mampu atau bersedia untuk melaksanakan tradisi ini. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa ada cara lain yang lebih praktis dan efisien untuk membangun hubungan keluarga yang kuat.

Meskipun demikian, Puyyappla Perukkal tetap menjadi pengingat akan pentingnya waktu, perhatian, dan upaya dalam membangun hubungan keluarga. Di dunia yang semakin individualistis dan terhubung secara digital, tradisi ini menawarkan kesempatan untuk memperlambat, berinteraksi secara langsung, dan membangun kenangan yang tak terlupakan. Puyyappla Perukkal mungkin bukan untuk semua orang, tetapi tradisi ini menawarkan pelajaran berharga tentang nilai-nilai keluarga, rasa hormat, dan cinta.

Puyyappla Perukkal: Antara Tradisi, Beban, dan Investasi Cinta Mertua

Puyyappla Perukkal mungkin terdengar seperti mimpi bagi para foodies, tetapi juga bisa menjadi mimpi buruk bagi mertua yang harus menyiapkan ratusan hidangan. Namun, di balik semua kerumitan dan pengorbanan, tradisi ini menyimpan pesan yang mendalam tentang pentingnya keluarga, rasa hormat, dan cinta. Di era modern ini, mungkin sulit untuk mempertahankan tradisi seperti ini, tetapi semangat di baliknya tetap relevan. Bagaimana dengan Anda? Siapkah Anda "dipelihara" selama 40 hari?