Dunia ini memang penuh kejutan, termasuk dalam dunia komputasi. Dulu, kita cuma kenal CPU dan GPU. Sekarang, muncul lagi QPU. Apa itu? Tenang, ini bukan nama makanan atau singkatan partai politik. Ini tentang komputasi kuantum yang katanya bisa memecahkan masalah lebih cepat dari mantanmu move on.
Quantum Itu Apa Sih? Kok Kayak Nama Tokoh di Film Marvel?
Sebelum kita terjun lebih dalam, mari kita samakan persepsi dulu. Quantum itu bukan cuma nama film atau tokoh fiksi. Dalam dunia fisika, quantum adalah unit terkecil dari energi. Nah, dalam dunia komputasi, quantum computing memanfaatkan prinsip-prinsip fisika quantum untuk melakukan perhitungan. Bedanya dengan komputer biasa? Komputer biasa pakai bit yang cuma bisa 0 atau 1, sedangkan komputer quantum pakai qubit yang bisa 0, 1, atau keduanya sekaligus (superposisi). Bingung? Sama!
Tapi intinya, dengan qubit, komputer quantum bisa melakukan banyak perhitungan sekaligus. Ibaratnya, kalau komputer biasa itu kalkulator, komputer quantum itu semacam dukun matematika yang bisa meramal jawaban sebelum soalnya selesai ditulis. Tapi ingat, ini bukan sihir. Ini sains yang (mungkin) akan mengubah dunia.
Lantas, bagaimana SAS, perusahaan raksasa di bidang analitik, melihat fenomena quantum ini? Bill Wisotsky, Principal Quantum Systems Architect di SAS, punya pandangan menarik. Baginya, QPU (Quantum Processing Unit) itu ya sama saja dengan CPU atau GPU. Cuma beda rasa.
SAS: Bukan Maskapai, Bukan Sepatu, Apalagi Software As A Service
Buat yang belum tahu, SAS itu bukan maskapai penerbangan Skandinavia, bukan pula merek sepatu. SAS adalah perusahaan perangkat lunak analitik yang sudah malang melintang sejak tahun 70-an. Mereka jagoan di bidang machine learning, AI, business intelligence, dan data management. Hampir semua perusahaan yang mainan data pasti kenal SAS.
Jadi, ketika SAS mulai melirik quantum computing, ini bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ini langkah strategis untuk memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin di bidang analitik. Tapi, kenapa baru sekarang? Apa yang membuat quantum computing jadi menarik di mata SAS?
Menurut Wisotsky, ketertarikannya pada quantum computing berawal dari rasa penasaran pribadi. Saat kuliah dulu, dia sempat belajar tentang fisika quantum dan terpukau dengan eksperimen celah ganda. Kemudian, saat pandemi melanda dan waktu luang jadi berlimpah, dia mulai mendalami quantum computing dan menyadari potensinya untuk diintegrasikan dengan solusi SAS.
Dari Hobi Jadi Profesi: Kisah Inspiratif Bill Wisotsky
Kisah Wisotsky ini menarik karena menunjukkan bahwa inovasi bisa datang dari mana saja. Dia bukan fisikawan dengan gelar PhD, tapi berkat kegigihan dan rasa ingin tahu yang besar, dia berhasil meyakinkan SAS untuk berinvestasi di quantum computing. Ini pelajaran penting buat kita semua: jangan pernah berhenti belajar dan jangan takut mengejar passion.
Awalnya, Wisotsky bergerak sendiri. Presentasi demi presentasi, proof of concept demi proof of concept, hingga akhirnya ada departemen yang tertarik dan menjadi sponsor. Puncaknya, CTO SAS ikut turun tangan dan memberikan dukungan penuh. Dari situ, tim quantum SAS terbentuk dan Wisotsky resmi pindah ke divisi R&D sebagai principal quantum systems architect.
Lalu, apa saja proyek menarik yang sudah dikerjakan tim quantum SAS dalam empat tahun terakhir? Wisotsky menyebut beberapa contoh, seperti proyek Kidney Exchange yang menggunakan D-Wave untuk mencari solusi optimal dalam pertukaran ginjal. Ada juga proyek quantum machine learning untuk deteksi penipuan dan prediksi kebangkrutan, serta kerja sama dengan QuEra dalam disaster response.
Quantum Advantage: Bukan Cuma Soal Kecepatan
Salah satu poin menarik dari wawancara ini adalah definisi "quantum advantage" yang dianut SAS. Bagi mereka, quantum advantage bukan cuma soal seberapa cepat komputer quantum bisa memecahkan masalah. Lebih dari itu, quantum advantage adalah nilai yang bisa diberikan kepada pelanggan.
Misalnya, dalam proyek Kidney Exchange, solusi optimal bisa ditemukan dalam hitungan detik berkat kombinasi komputer quantum dan solver klasik. Ini jelas merupakan quantum advantage dalam hal kecepatan. Tapi, dalam kasus quantum machine learning, quantum advantage bisa berupa akurasi model yang lebih tinggi atau kemampuan untuk melatih model dengan data yang lebih sedikit.
Wisotsky menekankan bahwa dalam proyek-proyek quantum SAS, kolaborasi dengan pelanggan sangat penting. Mereka tidak menjanjikan solusi ajaib, tapi lebih fokus pada eksplorasi bersama untuk melihat di mana quantum computing bisa memberikan nilai tambah. Ekspektasi pelanggan pun realistis. Mereka paham bahwa quantum computing masih dalam tahap awal dan hanya cocok untuk masalah-masalah tertentu.
Quantum: Cuma Satu Anak Panah di Busur SAS?
Jadi, apakah quantum computing sudah menjadi bagian integral dari solusi SAS? Apakah ini cuma sekadar mainan baru atau benar-benar bisa memberikan dampak signifikan? Menurut Wisotsky, quantum computing adalah salah satu "PU" (Processing Unit) di SAS, sejajar dengan CPU dan GPU. Mereka tidak melihatnya sebagai sesuatu yang fundamental berbeda.
SAS ingin menghilangkan kompleksitas quantum computing dari pelanggan. Mereka ingin pelanggan bisa menggunakan solusi SAS tanpa harus peduli apakah model deep learning dijalankan di GPU, CPU, atau QPU. Yang penting, model tersebut selesai dengan cepat dan akurat.
Lalu, komputer quantum mana yang jadi favorit Wisotsky? Jawabannya mengejutkan: tidak ada. Dia justru melihat kekuatan dan kelemahan pada setiap jenis komputer quantum. SAS berusaha mempelajari berbagai modalitas quantum computing (neutral atoms, trapped ions, photonics, superconducting) karena semuanya punya peran masing-masing dalam "puzzle quantum".
Vendor Quantum yang Ideal: Bukan Cuma Soal Hardware
Bagi SAS, vendor quantum yang baik bukan cuma soal hardware yang canggih. Tim yang mudah diajak kerja sama, dokumentasi yang lengkap, dan software development kit yang mudah diintegrasikan juga sangat penting. Jika tim vendor sulit dihubungi atau kurang responsif, pengembangan solusi quantum akan jadi lebih sulit.
Wisotsky juga menekankan pentingnya untuk terus belajar. Dulu, banyak yang bilang quantum computing baru akan matang 20-30 tahun lagi. Tapi, berkat inovasi dari berbagai vendor, horizon tersebut semakin dekat. Dia juga menyadari bahwa quantum advantage bisa dicapai tanpa harus menunggu komputer quantum besar dengan koreksi kesalahan yang sempurna.
Terakhir, Wisotsky ditanya tentang pesaing SAS. Apakah mereka juga menggunakan quantum computing? Dia mengaku tidak tahu pasti. Ada beberapa vendor yang lebih kecil dan fokus pada niche tertentu yang juga terlibat dalam quantum computing, tapi dia tidak yakin apakah mereka bisa disebut sebagai pesaing langsung SAS.
Sebagai penutup, Wisotsky ditanya siapa tokoh quantum yang ingin dia ajak makan malam. Jawabannya adalah Roger Penrose, fisikawan dan filsuf yang terkenal dengan teori Orchestrated Objective Reduction (Orch-OR) tentang kesadaran. Wisotsky tertarik dengan teori ini karena menghubungkan kesadaran dengan proses quantum di dalam neuron. Sebuah pandangan yang menarik, terutama bagi seseorang dengan latar belakang neuroscience seperti dirinya.
Jadi, begitulah perjalanan SAS dalam menjelajahi dunia quantum computing. Dari hobi pribadi seorang karyawan hingga menjadi bagian dari strategi perusahaan. Sebuah kisah inspiratif tentang bagaimana rasa ingin tahu dan kegigihan bisa membawa kita ke tempat yang tak terduga.
