Thom Yorke, sang vokalis Radiohead, dengan nada seorang guru yang menunggu kelasnya tenang, berkata, "Whenever you're ready," saat bandnya bersiap untuk memainkan encore di O2 Arena, London. Sebuah kalimat humor langka dari seorang frontman yang biasanya hanya bergumam "terima kasih". Tapi, ini juga pengakuan betapa lamanya penggemar menunggu pertunjukan ini. Bayangkan, 10 tahun tanpa materi baru, 99 bulan tanpa konser di Inggris. Lebih lama dari masa jabatan anggota dewan!

Radiohead Kembali: Nostalgia atau Reuni yang Dipaksakan?

Penantian kembalinya Radiohead telah memuncak sejak pengumuman konser terbatas pada bulan September. Daftar lagu dari konser awal di Spanyol dan Italia menjadi berita utama, dengan penggemar menganalisis setiap pilihan lagu. Kabarnya, mereka telah berlatih 65 lagu berbeda. Sebuah dedikasi yang patut diacungi jempol, atau mungkin juga indikasi overthinking?

Di O2 Arena, Radiohead mengarungi seluruh diskografi mereka - dari anthem arena rock 1994, The Bends, hingga balada surgawi A Moon Shaped Pool, dan elektronik berlapis dari Kid A, yang kini merayakan ulang tahun ke-25. Sebuah perjalanan waktu musikal yang epik, atau sekadar nostalgia yang dikemas ulang?

Ada beberapa tanda bahwa Radiohead sedikit berkarat. Beberapa masalah timing dan tuning muncul, yang bisa saja akibat malam pertama di venue baru. Tapi, ini terasa aneh untuk band dengan kemampuan teknis yang begitu tinggi. Apakah ini bagian dari pesona indie mereka, atau pertanda bahwa mereka perlu lebih banyak latihan?

Namun, ketika semuanya menyatu, pemandangannya mempesona dan memikat. Seperti menonton pesulap profesional yang sedikit lupa triknya, tapi tetap berhasil memukau penonton.

Mereka memulai dengan Planet Telex yang spacey dan menghipnotis, lalu diikuti dengan versi crunchy dari 2+2=5, yang ditulis pada tahun 2003 sebagai reaksi terhadap "Perang Melawan Teror" George W. Bush. Lagu ini kini memiliki urgensi baru di dunia di mana norma-norma politik tampaknya telah terbalik. Sebuah lagu protes yang relevan, atau sekadar pengingat bahwa dunia ini memang sudah gila sejak dulu?

Ketika Colin Greenwood Gagal Mengajak Penonton Bertepuk Tangan: Momen Nodding Dog Convention?

Pada lagu ketiga, Sit Down, Stand Up, mereka memamerkan otot-otot musik mereka, dengan outro panjang yang penuh kegilaan perkusi, dibantu oleh musisi sesi AS, Chris Vatalaro. Penambahan ini menjadi petunjuk. Rahasia Radiohead selalu terletak pada bagian ritme mereka - yang berhasil menemukan alur yang lentur dan mudah ditarikan, bahkan ketika disajikan dengan materi bandmate mereka yang paling menantang.

Garis bass National Anthem yang mengintai dan loop drum Idioteque yang membanting, khususnya, memberi penonton kesempatan luas untuk melompat-lompat. Energi yang menular, atau sekadar pelepasan emosi yang tertahan?

Konon, lucu melihat bassis Colin Greenwood mencoba (dan gagal) membuat penonton bertepuk tangan mengikuti ritme 15 Step yang glitchy dan tidak konvensional. Alih-alih, sebagian besar dari mereka hanya menganggukkan kepala ke atas dan ke bawah dalam apresiasi terpadu terhadap musik. Kadang-kadang, itu terlihat seperti konvensi anjing yang mengangguk. Sebuah momen lucu yang tak disengaja, atau representasi sempurna dari penggemar Radiohead yang setia?

Namun, di antara lagu-lagu yang lebih eksperimental, ada lagu-lagu yang benar-benar memuaskan penonton: versi elegi dari Lucky, No Surprises yang diputar dengan indah, dan versi Weird Fishes/Arpeggi yang benar-benar sublime. Momen-momen keindahan musikal yang langka, atau sekadar nostalgia yang dipoles?

Saya punya teori, bagaimanapun, bahwa ketidaksukaan band yang terkenal terhadap "barang lama" adalah tipu daya yang rumit. Mereka tidak pernah benar-benar berhenti memainkan lagu-lagu dari The Bends dan OK Computer - tetapi anggapan bahwa mereka tidak akan membuat semuanya menjadi lebih menarik ketika mereka masuk ke sesuatu yang anthemik seperti Fake Plastic Trees. Sebuah strategi pemasaran yang brilian, atau sekadar permainan psikologis dengan penggemar?

Lagu itu membuka encore Jumat malam, yang sebagian besar berkutat pada materi tahun 90-an mereka, termasuk Let Down - deep cut yang mendapat kehidupan baru di TikTok - dan Paranoid Android yang epik. Nostalgia tahun 90-an yang dihidupkan kembali, atau bukti bahwa musik bagus tidak mengenal waktu?

Reuni Radiohead: Kembali ke Akar atau Sekadar Pengisi Waktu?

Memperkenalkan versi Just yang berotot, Yorke menjelaskan bahwa lagu itu ditulis "di sebuah peternakan yang sangat dingin pada tahun 1994", pada periode di mana mereka mengira hanya akan diingat untuk satu lagu: Creep, gebrakan mereka pada tahun 1992. Sebuah pengakuan yang jujur, atau sekadar upaya untuk meredakan ekspektasi?

Kita semua tahu cerita itu berakhir berbeda, tetapi reuni ini menemukan Radiohead dalam posisi yang aneh. Tur ini tidak disertai materi baru, dan tujuh tahun terakhir sangat subur dengan proyek sampingan, terutama tiga album Thom Yorke dan gitaris Jonny Greenwood sebagai The Smile, sehingga tampaknya anggota Radiohead mungkin telah pindah secara permanen. Apakah ini akhir dari Radiohead seperti yang kita kenal, atau sekadar istirahat panjang?

Beberapa faktor menghalangi - kesedihan, menjadi orang tua, kesehatan mental, dan rumor tentang ketegangan intra-band atas Israel. Sebagai catatan, pada bulan Agustus lalu, Yorke mengatakan bahwa reuni "tidak ada dalam agenda dari tempat saya duduk". Sebuah kejujuran yang menyegarkan, atau sekadar pernyataan yang menyesatkan?

Semua ini membuat keputusan untuk bermain di tengah arena, dikemas seperti sarden dalam kaleng yang hancur, menjadi semakin signifikan. Grup ini secara simbolis kembali ke ruang latihan, bermain satu sama lain sebanyak mereka bermain untuk penonton. Yorke meluncur melintasi panggung, melakukan tarian yang biasa dia lakukan, berpindah dari gitar akustik ke piano elektrik dan kembali lagi. Sebuah pertunjukan yang intim dan personal, atau sekadar upaya untuk menyembunyikan ketegangan?

Selama Idioteque, gitaris Ed O'Brien menangkapnya di tengah perjalanan, dan mereka meneriakkan lirik langsung satu sama lain. Di awal Jigsaw Falling Into Place, Yorke dan Greenwood saling berhadapan dan memainkan gitar duel. Ini menunjukkan bahwa tur ini telah menjadi tindakan penyembuhan, bahkan jika band ini telah ditugaskan ruang ganti terpisah untuk pertama kalinya dalam karier mereka. Apakah ini awal dari sesuatu yang baru, atau sekadar akhir dari sebuah era?

Apakah itu mengarah pada sesuatu yang lebih masih menjadi perdebatan. "Kami belum memikirkan apa pun setelah tur," kata Yorke baru-baru ini kepada Times. "Saya hanya tercengang kami bisa sejauh ini." Para penggemar yang senang yang mengantre untuk naik Tube pulang sambil menyanyikan Karma Police akan berharap semuanya berada di tempat yang tepat untuk comeback yang sepenuhnya. Sebuah harapan yang optimis, atau sekadar angan-angan?

Daftar Lagu Lengkap: Nostalgia yang Memanjakan atau Sekadar Mengulang Masa Lalu?

Planet Telex, 2 + 2 = 5, Sit Down, Stand Up, Lucky, Bloom, 15 Step, The Gloaming, Kid A, No Surprises, Videotape, Weird Fishes/Arpeggi, Idioteque, Everything in Its Right Place, The National Anthem, Daydreaming, Jigsaw Falling Into Place, Bodysnatchers, There There. Encore: Fake Plastic Trees, Let Down, Paranoid Android, You and Whose Army?, A Wolf at the Door, Just, Karma Police.

Mungkin saja, reuni Radiohead ini adalah sebuah paradoks yang sempurna: sebuah nostalgia yang segar, sebuah perayaan masa lalu yang juga merupakan awal dari sesuatu yang baru. Atau mungkin juga, ini hanyalah sebuah band yang hebat, yang mencoba untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apa pun itu, satu hal yang pasti: kita semua akan terus mendengarkan.