Otak kita ini, kan, gudangnya ide dan pengendali raga. Bayangkan 85 miliar neuron di dalamnya kayak lagi main orkestra, kirim sinyal sana-sini buat bikin kita mikir, gerak, bahkan baper. Nah, kebayang nggak sih kalau "orkestra neuron" ini di-copy-paste ke robot? Bukan sekadar robot yang bisa joget atau masak mie instan, tapi robot yang mikirnya ala otak manusia. Kedengarannya kayak film fiksi ilmiah? Tunggu dulu, ini bukan lagi ngarang cerita buat novel distopia.

Neurocellular Automata: Ketika Otak Manusia Jadi Inspirasi Robot

Kasper Støy, profesor robotik dari IT University of Copenhagen, lagi getol banget nih ngembangin "neurocellular automata". Gampangnya, ini tuh paradigma komputasi yang niru struktur neuron di otak. Jadi, robotnya punya kluster neuron yang saling komunikasi, kasih tahu tetangga klusternya gimana cara bertindak, dan akhirnya nentuin gimana robot itu beroperasi. Ibaratnya, robot ini punya "otak" sendiri yang cara kerjanya mirip otak kita. Bedanya, kalau kita mikirin mantan, robot ini mikirin gimana cara mindahin barang yang rapuh tanpa ngerusak.

Proyek MOZART, yang dikoordinasi sama Støy, lagi bikin permukaan yang bisa diatur ulang, dilengkapi sensor lembut, dan dikontrol sama AI. Tujuannya? Buat nangani benda-benda yang ringkih dan delikat. Salah satu partnernya, Italian Institute of Technology (IIT) di Genoa, juga lagi ngembangin sistem buat integrasi teknologi ini ke platform yang bisa gerak. Hasilnya, lahirlah AUTOMAT, sistem manipulasi otomatis yang punya "kulit" sensor. Kulit ini bisa ngerasain objek, nemuin posisinya, dan manipulasi objek itu sesuai karakteristik dan beratnya.

Conveyor Belt 3D: Masa Depan Logistik yang Lebih Lembut

Bayangin conveyor belt di bandara yang cuma bisa mindahin koper dari satu tempat ke tempat lain. Nah, Støy pengen bikin conveyor belt generasi berikutnya yang bisa gerak dalam 3D. Jadi, objek nggak cuma dipindahin, tapi juga bisa dibolak-balik dan diputar. "Permukaannya gerak otomatis, manipulasi objeknya dengan lembut, dan adaptasi sama bentuknya," jelas Støy. Kedengarannya canggih banget, ya? Tapi, jangan bayangin robot humanoid yang gerak-geraknya kaku. Ini lebih kayak permukaan seluas satu meter persegi yang terdiri dari sepuluh modul, yang masing-masing berfungsi sebagai robot.

Støy ngasih analogi yang lebih gampang dicerna. Bayangin membran lembut yang disangga sama modul-modul robot. Modul ini bisa ngangkat permukaan atas dan ngerubah bentuknya sesuai sama objek yang ada di atasnya. "Di sistem kami, nggak cuma ada satu robot, tapi ada beberapa modul yang posisinya berdampingan, kayak papan catur yang isinya robot kecil yang kerja sama. Kalau satu sisi ngangkat dan sisi lain nggak, produknya jatuh. Makanya, mereka semua harus komunikasi dan koordinasi. Nah, di sinilah neurocellular automata berperan," jelasnya.

Machine Learning: Melatih Robot Jadi Lebih Peka

Yang bikin sistem ini makin canggih adalah kemampuannya buat dilatih lewat machine learning. Jadi, robotnya bisa adaptasi perilakunya berdasarkan berat, kelembutan, kerapuhan, dan karakteristik lain dari objek yang ada di atasnya. "Manipulasi objek itu tergantung sama banyak parameter, kayak massa, gesekan, dan sebagainya. Makanya, susah banget buat ngoding manual gimana cara ngelakuin tiap aksi," kata Støy.

Kapan Robot Bisa Menggantikan Tukang Kupas Tuna?

Jadi, alih-alih ngoding perilaku secara manual, Støy dan timnya milih buat ngasih objek ke robot dan biarin robotnya nyoba berbagai kombinasi. Lewat proses ini, robotnya belajar dari variabel-variabel yang ada. Pengetahuan ini kemudian dienkode ke jaringan saraf dari neurocellular automata. Hasilnya, sistem ini diharapkan bisa otomatisasi sektor industri yang selama ini susah banget diotomatisasi. Kita bisa menurunkan harga produk makanan dan bikin lebih terjangkau buat banyak konsumen. Siapa tahu, harga kopi di warung sebelah bisa lebih murah kalau robot udah bisa ngangkat karung kopi.

Food Packaging: Saatnya Robot Beraksi di Dapur Industri

Aplikasi yang lagi dieksplorasi saat ini adalah di sektor food packaging, khususnya buat produk kayak tuna dan unggas. Lucia Beccai dari IIT di Genoa bilang, proses packaging itu berat banget, dan sedikit aja produknya rusak, bisa langsung nggak layak jual. Di sinilah soft robotics bisa jadi penyelamat. Manipulator yang kaku kayak gripper dari metal bisa ngerusak makanan, tapi sensor pintar yang ditanem di robot bisa ngasih gerakan yang lebih natural dan interaksi yang aman dan lembut.

Støy juga nambahin, dampak positif buat kesehatan dan kondisi pekerja juga signifikan. "Bayangin tuna yang udah dimasak. Karena teksturnya lembek banget, susah buat dimanipulasi buat diproses dan dikemas. Pekerjaan ini belum bisa diotomatisasi. Jadi, ada orang yang tiap hari ngangkat dan ngulitin ikan seberat empat sampai delapan kilo, dengan rutinitas yang berat dan bikin capek. Nah, di sinilah teknologi kami bisa bantu," tegasnya. Tukang kupas tuna mungkin bisa sedikit bernapas lega kalau ada robot yang bantuin.

AUTOMAT: Prototipe Robot yang Siap Ngangkat Ayam

Setelah tiga tahun riset, proyek MOZART udah masuk fase praktis buat ngerakit berbagai teknologi yang udah dikembangin. Demonstrasi praktis pertama diperkirakan bakal dilakuin dalam beberapa bulan ke depan. "Resolusi permukaan manipulasi AUTOMAT udah didesain buat nangani objek seukuran ayam," lapor Støy. Tapi, begitu konsepnya udah terbukti, nggak ada yang ngalangin buat ngegedein atau ngecilin ukurannya buat permukaan dan objek yang lebih gede atau lebih kecil.

Masa Depan Soft Robotics: Lebih dari Sekadar Industri Makanan

Aplikasi potensial dari penanganan robotik yang lembut itu banyak banget. Meskipun tingkat biokompatibilitasnya masih harus ditingkatin, teknologi ini bisa diterapin di banyak bidang. Contohnya, bantuin orang tua atau penyandang disabilitas di lingkungan klinis, bantuin perawat mindahin pasien dari satu ranjang ke ranjang lain, atau manipulasi jaringan dan sel yang berbahaya buat manusia. Bayangin, robot bisa jadi asisten yang lebih sabar dan telaten daripada manusia.

Kontak Lebih Lanjut

Buat yang pengen tahu lebih lanjut soal proyek MOZART, bisa langsung kontak Kasper Støy (ksty@itu.dk) atau Davide Valenti (info@mozart_robotics.eu). Jangan lupa juga buat kepoin website dan media sosial mereka di https://mozart-robotics.eu, @mozartrobotics (LinkedIn), dan @mozartrobotics (YouTube).

Jadi, siap-siap aja buat ngeliat robot yang nggak cuma jago joget, tapi juga jago nangani barang-barang rapuh dan bantuin pekerjaan manusia. Siapa tahu, di masa depan, kita bisa nyantai di rumah sambil nunggu robot nganterin kopi dan ngupas tuna buat kita. Tapi, jangan lupa tetep kasih tip, ya!