Bayangkan ini: Anda sedang asyik main game, lagi seru-serunya push rank, eh tiba-tiba ping Anda melonjak drastis. Rasanya? Frustrasi tingkat dewa. Nah, kira-kira begitu juga yang dirasakan seorang narapidana bernama Martin Collins. Bedanya, dia bukan frustrasi karena ping, tapi karena dering. Dering telepon yang tak kunjung diangkat oleh tambatan hatinya. Ujung-ujungnya, tragedi.
Kisahnya begini. Martin Collins, seorang napi berusia 66 tahun di HMP Highpoint, Suffolk, Inggris, ditemukan mengakhiri hidupnya di sel pada November 2023 lalu. Ironisnya, sebelum kejadian nahas itu, ia mencoba menghubungi pasangannya sebanyak 61 kali dalam beberapa jam. Hasil investigasi menyimpulkan, ketidakmampuannya menghubungi sang kekasih lewat telepon mungkin menjadi salah satu faktor pemicu depresi hingga berujung maut.
Koroner setempat kemudian mengeluarkan laporan pencegahan kematian di masa depan. Intinya, ia meminta agar pihak penjara memiliki sistem yang bisa memonitor aktivitas telepon yang tidak lazim. Pertanyaannya, seberapa pentingkah sistem pemantauan semacam itu? Dan, kenapa kok baru kepikiran sekarang?
Telepon: Antara Hak Asasi dan Potensi Bunuh Diri
Begini, di satu sisi, narapidana juga manusia. Mereka punya hak untuk berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk keluarga dan orang-orang terdekat. Telepon, dalam hal ini, menjadi jembatan penghubung yang vital. Tapi, di sisi lain, kebebasan berkomunikasi ini juga punya potensi disalahgunakan. Apalagi, jika kondisi mental napi sedang tidak stabil.
Nah, di sinilah letak ironinya. Telepon bisa jadi sumber kekuatan, tapi juga bisa jadi pemicu depresi. Ibarat pedang bermata dua. Makanya, perlu ada mekanisme kontrol yang tepat. Bukan untuk mengekang hak napi, tapi untuk melindungi mereka dari diri mereka sendiri.
Masalahnya, sistem yang ada saat ini belum memadai. Menurut laporan, sistem telepon di penjara belum punya kemampuan otomatis untuk mendeteksi volume panggilan yang tinggi atau tidak lazim. Alhasil, petugas penjara atau tim medis seringkali kecolongan. Mereka baru sadar ada yang aneh setelah semuanya terlambat.
Missed Call: Simbol Jeritan yang Tak Terdengar
Kasus Martin Collins ini adalah contoh nyata betapa pentingnya sistem deteksi dini. Bayangkan, 61 panggilan tak terjawab. Itu bukan sekadar angka. Itu adalah simbol jeritan yang tak terdengar. Teriakan minta tolong dari seseorang yang sedang berjuang melawan kegelapan di dalam dirinya.
Sayangnya, jeritan itu tenggelam dalam hiruk pikuk penjara. Tidak ada yang menyadari, sampai akhirnya Collins menyerah pada keputusasaan. Sebuah tragedi yang seharusnya bisa dicegah jika saja ada sistem yang lebih responsif.
Inilah yang menjadi fokus utama dalam laporan koroner. Kurangnya sistem yang bisa secara otomatis menandai volume panggilan yang mencurigakan dapat menyebabkan hilangnya kesempatan untuk mengidentifikasi pemicu risiko dan mencegah bunuh diri. Singkatnya, sistem yang ada saat ini masih buta huruf dalam membaca sinyal-sinyal bahaya.
Ketika Informasi Tak Sampai: Komunikasi yang Patah di Penjara
Selain masalah sistem telepon, ada juga masalah komunikasi internal di dalam penjara. Inquest menemukan adanya "kurangnya berbagi informasi dan pemahaman" di antara staf tentang riwayat kesehatan mental Collins. Artinya, ada semacam miskomunikasi atau kurangnya koordinasi antar petugas penjara.
Ditambah lagi, ada kesalahpahaman tentang "kemajuan hukuman" Collins dan kegagalan penjara untuk menindaklanjuti kebutuhannya untuk diperiksa oleh tim kesehatan mental. Semua faktor ini, menurut inquest, mungkin berkontribusi pada kematiannya. Jadi, masalahnya bukan hanya soal sistem telepon, tapi juga soal tata kelola informasi dan responsivitas petugas penjara.
Ironisnya, kekhawatiran tentang jumlah panggilan Collins ke pasangannya sebenarnya sudah muncul sejak Maret 2023. Bahkan, ada indikasi bahwa panggilan telepon negatif dapat memicu upaya untuk menyakiti diri sendiri. Tapi, lagi-lagi, informasi ini tidak sampai ke pihak yang tepat atau tidak ditindaklanjuti dengan serius.
100 Panggilan Non-Stop: Tanda Bahaya yang Terabaikan
Menurut laporan, pasangan Collins memberikan kesaksian bahwa panggilan telepon yang kompulsif adalah "tanda jelas bahwa dia menjadi kurang stabil dalam kesehatan mentalnya." Ia bahkan mengaku sering menerima panggilan berulang-ulang dari Collins hingga lebih dari 100 kali tanpa henti.
"Saya terkejut bahwa layanan penjara tidak mengidentifikasi volume panggilan tak terjawab yang dibuat," ujarnya. Sebuah pernyataan yang menggambarkan betapa sistem yang ada saat ini tidak mampu membaca sinyal-sinyal bahaya yang jelas.
Gubernur HMP Highpoint mengakui bahwa staf penjara memang bisa memeriksa setiap log panggilan, tapi tidak ada cara otomatis untuk mengenali pola volume panggilan yang tinggi. Artinya, semuanya masih manual dan sangat bergantung pada ketelitian dan inisiatif petugas penjara. Padahal, dalam situasi darurat, kecepatan dan responsivitas adalah kunci.
Perbaikan Sistem: Antara Teknologi dan Kemanusiaan
Lantas, apa solusinya? Koroner Peter Taheri menyarankan agar Kementerian Kehakiman (MoJ) berupaya melakukan perubahan pada sistem telepon penjara. Meskipun mungkin tidak bisa mengubah perangkat lunak sistem secara langsung, MoJ bisa meminta penyedia teknologi untuk melakukan perubahan yang diperlukan.
Intinya, sistem telepon penjara harus di-upgrade agar bisa secara otomatis mendeteksi pola panggilan yang mencurigakan dan memberikan peringatan kepada petugas penjara atau tim medis. Dengan begitu, potensi tragedi seperti yang dialami Collins bisa dicegah di masa depan.
Tentu saja, perbaikan sistem telepon hanyalah salah satu bagian dari solusi yang lebih besar. Perlu ada peningkatan dalam komunikasi internal, pelatihan petugas penjara, dan akses ke layanan kesehatan mental yang memadai. Pada akhirnya, ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kemanusiaan.
Semoga saja, kasus Martin Collins ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Bahwa setiap panggilan tak terjawab bisa jadi adalah jeritan yang tak terdengar. Dan, tugas kita adalah memastikan bahwa jeritan itu tidak lagi diabaikan.
