Sportradar, perusahaan pengolah data olahraga raksasa yang konon menjadi "FBI-nya judi", belakangan ini mendapati dirinya diterpa badai dugaan yang lebih gelap dari tinta di kontraknya. Bayangkan saja, mitra kepercayaan Riot Games untuk menjaga integritas turnamen *League of Legends* dan *VALORANT* ini, terjerat isu suplainya data dan peluang ke situs-situs judi ilegal. Kabar ini berhembus kencang, membuat sahamnya amblas 30% dalam dua hari. Ini bukan sekadar gosip murahan; ini adalah badai finansial yang nyata, dan semua mata tertuju pada bagaimana Sportradar akan bangkit dari jurang krisis ini, jika memang bisa.
Jauh sebelum skandal terkini membahana, Sportradar AG sudah mengukir namanya sebagai penyedia data olahraga terkemuka. Perusahaan asal Swiss ini ibarat urat nadi bagi media, federasi, bahkan bookmaker, menyediakan segala informasi krusial mulai dari skor, statistik, hingga peluang taruhan. Namun, kesuksesan yang melesat pesat ini justru mulai menimbulkan pertanyaan. Sejak tahun 2020, mereka bermitra erat dengan Riot Games, menjadi pilar penting dalam ekosistem kompetitif berbagai judul game seperti *League of Legends*, *VALORANT*, *Teamfight Tactics*, dan bahkan *2XKO*. Kemitraan ini, walau nampak kokoh, ternyata menyimpan benih-benih kecurigaan yang mulai terkuak lebih dari setahun lalu.
Titik terang isu ini mulai muncul berkat investigasi mendalam dari media Norwegia, Josimar, yang mengendus adanya aliran data Sportradar ke pasar taruhan yang tidak teratur, bahkan ilegal. Laporan tersebut menyoroti bagaimana data yang disediakan Sportradar digunakan oleh platform seperti 1xBet, sebuah nama yang kerap dikaitkan dengan berbagai kontroversi. Ini tentu menjadi tamparan keras bagi Sportradar, yang selama ini mengklaim hanya bekerja sama dengan operator berlisensi dan sangat ketat dalam menerapkan standar kepatuhan dan uji tuntas global. Kenyataan pahitnya, menurut laporan-laporan terkini, justru menunjukkan gambaran yang sangat berbeda.
Krisis Sportradar memuncak dengan terbitnya dua laporan investigasi independen pada 22 April 2026, dari firma riset keuangan "aktivis" Muddy Waters dan Calisto Research. Kedua firma ini, yang berspesialisasi dalam aksi jual kosong (short selling), telah mengumpulkan bukti kuat yang menuduh Sportradar memberikan akses data dan peluang taruhannya ke situs-situs judi ilegal. Parahnya, pendapatan dari sumber-sumber ilegal ini diklaim menyumbang porsi signifikan, diperkirakan antara 20% hingga 40% dari total pendapatan mereka yang mencapai €1.2 miliar pada tahun 2025. Sportradar tentu saja membantah keras, menyebut laporan tersebut sebagai kesalahpahaman fundamental tentang bisnis mereka dan upaya jahat para short seller untuk merusak nilai saham.
Sportradar: Sang FBI Judi yang Dituduh Bermain Dua Kaki
Sebelum masuk lebih dalam ke pusaran badai ini, penting untuk membedah profil Sportradar AG itu sendiri. Perusahaan ini, layaknya raksasa teknologi lain, membangun bisnisnya di atas fondasi data. Jika Anda adalah tim esports yang membutuhkan statistik mendalam untuk analisis pertempuran, atau liga olahraga yang ingin menyajikan data akurat kepada penggemar, Sportradar adalah jawabannya. Namun, sebagian besar pundi-pundi kekayaan mereka tidak datang dari ranah media atau olahraga murni, melainkan dari para bandar judi dan platform taruhan online. Di sinilah letak inti permasalahan: bagaimana data yang seharusnya menjaga integritas justru berpotensi disalahgunakan.
Dalam laporan mereka tahun 2025, yang sempat diberitakan oleh Sheep Esports, Sportradar sesumbar tentang lebih dari 330 "MITRA INTEGRITAS GLOBAL". Daftar ini termasuk nama-nama besar seperti Riot Games, NBA, NHL, FIFA, dan banyak lagi. Mereka mengklaim menggunakan data yang disajikan dan algoritma pemantauan pertandingan untuk mendeteksi serta mencegah pengaturan skor (match-fixing) di lebih dari 70 cabang olahraga. Laporan tersebut bahkan menyebutkan Sportradar telah mengidentifikasi hampir 1.116 pertandingan mencurigakan secara global di tahun sebelumnya. Klaim ini, jika benar, seharusnya menempatkan mereka sebagai garda terdepan dalam menjaga fair play. Namun, kenyataan justru bertolak belakang dengan citra yang coba dibangun.
Meski punya 'pakaian' penjaga gawang, Sportradar rupanya diam-diam juga punya 'kostum' lain yang lebih gelap. Sejak pertengahan 2025, Josimar sudah melaporkan bahwa Sportradar memasok data olahraga live yang akhirnya memberi makan pasar taruhan ilegal atau yang regulasinya minim. Salah satu klien yang disorot adalah 1xBet, platform yang sudah punya reputasi miring. Ini ironis, mengingat Sportradar menyatakan tidak menjual data ke bandar tanpa lisensi, padahal laporan keuangan mereka sendiri mengakui adanya pendapatan besar dari yurisdiksi yang lisensinya tidak jelas. Jadi, terlepas dari manuver pasar saham oleh Muddy Waters dan Calisto Research, masalah ini bukanlah kali pertama Sportradar terperosok dalam lubang yang sama.
Mari sejenak menengok siapa sebenarnya 1xBet. Platform ini, meski punya akar di Rusia, kini dilarang di sana. Saat pembukaan ekosistem taruhan oleh Riot Games, 1xBet menjadi salah satu mitra tim. Mereka bahkan sempat menjalin kerja sama dengan MIBR untuk divisi *VALORANT*. Namun, 1xBet dikenal luas sebagai operator yang tidak teregulasi dan sarat kontroversi. Mulai dari memperbolehkan taruhan pada pertandingan anak-anak, adu hewan, hingga mempromosikan kasino pornografi. Janji-janji manisnya, seperti menyumbang 1% keuntungan untuk tentara Rusia yang terluka, atau bantuan jutaan dolar untuk Ukraina yang justru tidak kunjung diterima, semakin menambah daftar panjang keraguan terhadap kredibilitasnya.
Menyelami Pasar Abu-abu dan Hubungan yang Menggelitik
Laporan Josimar pada Juli tahun lalu semakin memperdalam luka. Mereka menuduh Sportradar menyuplai data ke operator yang beroperasi di "pasar abu-abu" (gray markets), bahkan ke wilayah yang sensitif secara geopolitik. Contohnya, data Sportradar dilaporkan mengalir ke bandar judi Rusia seperti Fonbet dan Liga Stavok. Padahal, investigasi oleh Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) telah mengaitkan jaringan-jaringan ini dengan pendanaan upaya perang Rusia di Ukraina. Di sisi lain, operator ilegal atau tanpa lisensi di berbagai negara, seperti 1xBet, BJ88, SBO, Stake, dan 188Bet, diduga kuat menggunakan data atau produk Sportradar, sembari memanfaatkan celah regulasi untuk mengelabui otoritas.
Penemuan teknis dari para jurnalis investigatif semakin menguatkan tuduhan ini. Mereka menemukan bukti presence scout Sportradar/Sportsdata di pertandingan tingkat rendah, kode "klien" Betradar dalam lingkungan pengembangan 1xBet, dan sinkronisasi data yang dimanipulasi dengan pasar taruhan live secara hampir real-time. Laporan tersebut merinci berbagai pertandingan di Brasil, Ukraina, dan Jerman di mana scout Sportdata terlihat di pinggir lapangan, sementara pertandingan divisi bawah atau bahkan amatir muncul di platform taruhan. Taruhan pada "kejadian" dalam pertandingan—seperti kartu kuning atau sepak pojok—yang lebih mudah dimanipulasi dan lebih sulit dipantau oleh platform, menjadi sasaran empuk.
Struktur komersial Sportradar sendiri juga menimbulkan pertanyaan. Dalam prospektus IPO dan laporan tahunannya, mereka memaparkan jaringan luas "reporter data" (scout) yang mencakup lebih dari 600.000 acara olahraga untuk ribuan klien. Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka menjual "Single Match Bookings", yaitu akses feed live individual yang lebih mahal dan sangat menarik bagi operator yang ingin menargetkan pertandingan spesifik untuk dimanipulasi pada pasar taruhan niche seperti kartu atau tendangan sudut. Ada pula perjanjian bagi hasil dengan klien, yang diindeks berdasarkan omset dari taruhan live. Semua ini, terutama Single Match Bookings, melibatkan pertandingan yang sangat rentan terhadap manipulasi.
Secara keseluruhan, Sportradar mengakui dalam prospektusnya bahwa "sebagian besar" pendapatannya berasal dari yurisdiksi tanpa lisensi lokal atau dengan pengawasan yang sangat terbatas. Wilayah-wilayah ini menjadi surga bagi operasi taruhan yang legalitasnya seringkali abu-abu. Muddy Waters dan Calisto Research mengklaim bahwa angka dari sumber-sumber ini bisa mencapai 20% hingga 40% dari total pendapatan mereka. Meski Sportradar tidak memberikan angka pasti, dugaan ini sangat signifikan dan menyoroti inkonsistensi antara klaim integritas dengan realitas bisnis.
Jejak Digital yang Mengarah ke Gelap
Kompleksitas masalah Sportradar semakin bertambah dengan skandal yang melibatkann CEO-nya, Carsten Koerl. Josimar melaporkan bahwa Koerl, pendiri Sportradar, sempat memiliki 23% saham di OOO PMBK, pemilik Liga Stavok, sebuah platform taruhan Rusia yang dituduh beroperasi di wilayah pendudukan Donbas dan Krimea. Calisto Research bahkan meyakini keterlibatan Koerl dengan Liga Stavok berlangsung lebih lama dari yang diakui, serta adanya koneksi Liga Stavok dengan aktivitas ilegal dan dunia bawah Rusia.
Menurut Calisto Research, kepemilikan saham ini menghasilkan jutaan euro bagi Sportradar, sementara operator Rusia menggunakan data mereka untuk taruhan sepak bola Ukraina. Hal ini terjadi sebelum Sportradar mengumumkan penghentian klien baru di Rusia akibat tekanan media. Laporan mereka mengidentifikasi lebih dari selusin platform pasar Rusia, sebagian besar ilegal, yang diluncurkan setelah itu dan menjadi pengguna produk Sportradar, termasuk 1xBet. Lebih lanjut, Koerl juga disebut sebagai ketua Betgames, studio game live Lithuania yang sempat dicap sebagai "bisnis judi ilegal" oleh pejabat Kazakhstan.
Meskipun Sportradar membantah tuduhan dari Calisto Research dan Muddy Waters, temuan kedua firma ini tampaknya memiliki bobot yang signifikan. Muddy Waters, dengan reputasi strategi agresifnya, mengandalkan investigasi mendalam untuk membongkar kelemahan atau dugaan penipuan di perusahaan publik. Pendekatan inilah yang mereka terapkan pada Sportradar AG, yang terdaftar di NASDAQ dengan ticker SRAD. Perusahaan ini secara terbuka menyatakan melakukan short selling terhadap saham SRAD, menandakan keyakinan mereka pada penurunan nilai perusahaan.
Pertemuan di ICE 2026: Tinder-nya Bandar Ilegal?
Dalam laporan "uji tuntas"-nya, Muddy Waters mengerahkan investigator bayaran yang menyamar sebagai startup taruhan di konferensi ICE 2026 di Barcelona. Pameran ini adalah ajang pertemuan para profesional iGaming dan taruhan. Para investigator ini dilaporkan secara eksplisit menyatakan niat mereka untuk menargetkan pasar yang melarang keras perjudian online, seperti Vietnam atau Tiongkok. Alih-alih menolak, situs Muddy Waters mencatat, "Tak satu pun salesperson SRAD bilang tidak". Bahkan, seorang eksekutif penjualan Sportradar diduga melangkah lebih jauh.

Credit: Sportradar on X
Eksekutif penjualan tersebut tidak hanya menekankan kemampuan perusahaan untuk "melayani semua orang", tetapi juga menawarkan fasilitasi kontak langsung dengan Yabo Group. Operator judi ilegal besar di Tiongkok ini telah dikaitkan dengan tuduhan serius, termasuk jaringan pusat panggilan di Kamboja yang diduga terkait dengan jaringan perdagangan manusia yang mengeksploitasi pekerja paksa. Saking kontroversialnya, perwakilan Yabo dilaporkan tidak hadir di konferensi karena takut "terdeteksi" oleh otoritas, namun Sportradar tetap bersedia menjaga jalur bisnis ini.
Muddy Waters mengklaim telah mengidentifikasi hampir 50 perusahaan sebagai klien atau kolaborator Sportradar yang beroperasi di pasar ilegal. Ini termasuk 1xBet dan FonBet yang terkait kejahatan terorganisir di Rusia, 8xBet dan OKVIP yang terkait perbudakan modern di Asia Tenggara, serta Yabo Group yang terkenal di Tiongkok. Sportradar sebelumnya menyangkal memasok data ke 8xBet, namun Muddy Waters menemukan Client ID mereka di kode sumber 8xBet. Hubungan yang terentang luas ini membuktikan bahwa Sportradar tak sekadar tersandung masalah kecil, melainkan terseret dalam arus gelap yang lebih besar.
Laporan Calisto Research datang dengan argumen berbeda namun sama tajamnya. "Sportradar mengklaim hanya bekerja sama dengan pelanggan judi berlisensi dan memantau legalitas kepatuhan kliennya terhadap regulasi. Temuan kami menunjukkan realitas yang sangat berbeda," ujar mereka. Berdasarkan investigasi mereka, sekitar 270 platform yang ditemukan beroperasi secara ilegal di pasar taruhan yang teregulasi atau dilarang justru menggunakan produk dan layanan Sportradar. Mereka menegaskan, klien ilegal Sportradar mencakup 10 pelanggan terbesarnya, termasuk yang diduga kuat sebagai operator ilegal terbesar di dunia, 1xBet.
Di luar itu, Calisto Research melaporkan identifikasi beberapa pelanggan Sportradar yang terhubung dengan kejahatan serius, termasuk platform yang diduga terkait dengan gembong narkoba Turki. Tuduhan ini terus berlanjut, merujuk pada platform yang secara eksplisit mengklaim menggunakan layanan Sportradar namun dikaitkan dengan pihak yang terkena sanksi OFAC dan memiliki lokasi fisik di Krimea yang diduduki Rusia. Laporan tersebut juga menyajikan bukti bahwa konten Sportradar digunakan oleh Santeda International, perusahaan yang sebelumnya disorot oleh The Guardian karena "menyuburkan maraknya kasino ilegal di Inggris."
Investigasi Calisto lebih lanjut mengklaim bahwa Sportradar mengandalkan lisensi dari Anjouan (sebuah pulau di kepulauan Komoro), sebuah yurisdiksi tanpa regulasi efektif, untuk memvalidasi kliennya. Menurut laporan, perusahaan menerima "surat kepatuhan" dari regulator yang keberadaannya justru dibantah oleh Bank Sentral negara tersebut. Bank Sentral Komoro telah mengeluarkan peringatan resmi bahwa entitas Anjouan yang mengklaim mengeluarkan lisensi judi tidak ada dan dokumen tersebut palsu. Fakta mengejutkan ini juga telah dilaporkan oleh media Prancis Le Monde dan ABC Australia pada akhir 2025 dan awal 2026.
Peninjauan Dimulai, Masa Depan Menggantung
Calisto menyimpulkan bahwa Sportradar tampak menerima "surat kepatuhan" dari regulator fiktif ini untuk memproses platform yang seharusnya gagal dalam uji tuntas dasar. Hal ini memungkinkan integrasi feed datanya di lebih dari 100 platform. Dengan mengandalkan "jaminan tanpa kekuatan hukum internasional" ini, Sportradar dituduh mengabaikan "arus pendapatan signifikan dari pasar abu-abu dan gelap, sambil mengklaim mematuhi standar kepatuhan yang ketat." Josimar, yang juga menyebut Anjouan dalam laporannya, mencatat bahwa pulau berpenduduk 360.000 jiwa itu telah menerbitkan lisensi untuk 825 perusahaan yang mengoperasikan hampir 1.500 situs judi.
Dalam kesimpulannya, Calisto menyatakan telah menghubungi beberapa regulator judi di Amerika Utara dan Eropa terkait temuan mereka. Tiga regulator judi AS dilaporkan telah memulai peninjauan. Ini menandakan bahwa badai yang menerpa Sportradar bukan hanya masalah publikasi laporan dari firma riset, melainkan potensi investigasi hukum yang serius. Kredibilitas Sportradar sebagai penjaga integritas kini dipertanyakan di panggung global, dan dampaknya bisa jauh lebih besar dari sekadar fluktuasi harga saham.
Penafian: Artikel ini bukan saran investasi. Ini murni jurnalisme dan melaporkan informasi yang tersedia. Sheep Esports tidak mendorong pembaca untuk berinvestasi pada atau melawan Sportradar AG.
