Ternyata, panggung AC/DC bukan hanya tempat untuk aksi rock 'n' roll legendaris, tapi juga ajang uji nyali bagi band pembuka yang nekat. Taylor Momsen dari The Pretty Reckless tampaknya telah mengumpulkan poin dalam kategori "Kehidupan Liar di Panggung" dengan dua insiden gigitan yang bikin geleng-geleng kepala. Dari kelelawar yang mendarat di paha saat konser di Spanyol hingga laba-laba berbisa yang menyapa di Meksiko, tur ini jelas memberikan cerita yang lebih dari sekadar riff gitar dan teriakan vokal.

Sang Rocker dan Serangan Satwa Liar

Insiden pertama terjadi di Estadio La Cartuja, Sevilla, Spanyol, pada 29 Mei 2024, saat The Pretty Reckless menjadi pendukung AC/DC dalam tur Pwr Up mereka. Di tengah alunan musik, seekor kelelawar memilih untuk melakukan pendaratan tak terduga di kaki Momsen. Reaksi spontan Momsen kepada penonton, "Ada kelelawar terbang di kaki saya sekarang. Bisakah seseorang membantu saya, tolong? Saya pasti seorang penyihir," menyiratkan ketidakpercayaan sekaligus sedikit hiburan di tengah situasi yang cukup mengkhawatirkan. Kejadian ini memaksa vokalis tersebut menjalani serangkaian suntikan rabies, sebuah pengingat tajam bahwa di balik gemerlap panggung, alam liar tetap memiliki caranya sendiri untuk berinteraksi.

Belum lama berselang, sejarah terulang kembali, kali ini dengan ancaman yang berbeda namun sama-sama menegangkan. Sebelum penampilan di Estadio GNP Seguros, Meksiko City, pada 7 April, Momsen kembali menjadi sasaran gigitan. Kali ini, seekor laba-laba berbisa yang menjadi pelakunya, menyasar betis sang penyanyi. Postingan Instagramnya kemudian mengkonfirmasi kejadian ini, di mana ia menulis, "Jadi, tur AC/DC tidak akan lengkap jika tidak digigit..." Pengalaman ini membutuhkan intervensi medis segera untuk menetralkan racun dan mengurangi pembengkakan, sebuah naskah yang sepertinya ditulis oleh penulis skenario yang kejam.

Momsen sendiri tampaknya memiliki pandangan yang unik terhadap rangkaian kejadian ini. Menggabungkan dua kejadian tersebut, ia bertanya-tanya, "Spider woman? Batgirl? WTF." Pernyataannya menunjukkan perpaduan antara rasa kesal, ketidakpercayaan, dan mungkin sedikit penerimaan ironis terhadap nasib yang menimpanya selama tur bersama para legenda rock Australia tersebut. Pengalaman ini jelas menambah daftar panjang kejadian tak terduga yang seringkali menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan tur para musisi.

Pihak AC/DC sendiri sejauh ini belum memberikan komentar resmi terkait insiden yang dialami oleh Taylor Momsen. Namun, keberadaan band pembuka yang menjadi bagian integral dari setiap konser tur skala besar seperti ini, berarti masalah keamanan dan kenyamanan panggung menjadi perhatian utama. Kejadian seperti ini bisa jadi akan memicu evaluasi ulang terhadap protokol keamanan panggung, terutama saat konser diadakan di lokasi yang memungkinkan interaksi dengan satwa liar.

Lebih Dari Sekadar Gigitan Hewan

Fakta bahwa kedua insiden ini terjadi saat mendukung AC/DC mengangkat sebuah pertanyaan menarik tentang keberuntungan atau bahkan "kutukan" yang menyertai tur bersama band sebesar itu. AC/DC, dengan sejarah panjang mereka dalam memberikan pertunjukan rock yang menggelegar, telah menyaksikan berbagai kejadian aneh dan luar biasa di panggung mereka selama puluhan tahun. Mungkin saja ada energi tertentu yang mengundang kejadian-kejadian ekstrem.

Sementara itu, The Pretty Reckless bersiap merilis album baru mereka, Dear God, pada 26 Juni melalui Fearless Records. Kejadian-kejadian di tur ini, meskipun mengkhawatirkan, bisa jadi justru menjadi amunisi promosi yang tak ternilai harganya, menyoroti daya tahan dan semangat pantang menyerah dari sang vokalis. Fans lama mungkin melihat ini sebagai kelanjutan dari citra "rock 'n' roll lifestyle" yang penuh dengan bahaya dan kejutan, sementara pendengar baru mungkin tertarik dengan cerita di balik layar yang dramatis.

Tur AC/DC sendiri akan berlanjut ke Amerika Utara pada bulan Juli, dengan jadwal yang padat mencakup banyak stadion besar. Para penggemar yang berencana menyaksikan penampilan langsung diharapkan tetap waspada, bukan hanya terhadap volume musik yang memekakkan telinga, tetapi juga terhadap potensi kejutan liar lainnya yang mungkin saja menanti. Mengingat rekam jejak Momsen, tidak menutup kemungkinan akan ada lagi "teman" tak diundang yang muncul di panggung.

Jadwal tur yang tertera mencakup berbagai kota di Amerika Serikat dan Kanada, menunjukkan skala besar dari keseluruhan rangkaian acara ini. Dengan penonton yang membludak di setiap lokasi, tekanan untuk tampil sempurna tentu sangat tinggi. Menghadapi serangan hewan liar di tengah tuntutan pertunjukan semacam itu memerlukan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa. Ini bukan sekadar insiden kecil; ini adalah ujian nyata bagi para penampil.

Dari sudut pandang industri musik, insiden seperti ini juga menyoroti kerentanan para artis di balik citra glamor mereka. Meskipun mereka dibayar mahal untuk menghibur jutaan orang, mereka tetap manusia yang bisa menjadi korban dari kejadian alam yang tak terduga. Perhatian media yang tertuju pada gigitan Momsen juga menunjukkan bagaimana detail-detail kecil dalam kehidupan tur dapat dengan cepat menjadi berita utama, seringkali melampaui diskusi tentang musikalitas atau penampilan.

Tampaknya, tur ini telah memberikan The Pretty Reckless lebih dari sekadar kesempatan untuk mempromosikan musik mereka; ini adalah sebuah pelajaran hidup yang keras dan tak terduga. Pengalaman ini, meskipun mengerikan, kemungkinan akan membentuk cerita dan perspektif band di masa depan. Apakah ini akan menjadi inspirasi untuk lirik lagu-lagu baru? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, kisah Taylor Momsen dan hewan-hewan liar di panggung AC/DC ini akan menjadi legenda tersendiri dalam arsip tur musik rock.

Melihat kembali rekam jejak tur The Pretty Reckless, tampaknya kejadian tak lazim bukanlah hal baru bagi band ini. Namun, kombinasi gigs bersama AC/DC dan pertemuan dengan fauna yang cukup agresif ini memberikan dimensi baru pada narasi perjalanan mereka. Ini bukan sekadar soal menaklukkan panggung, tetapi juga menavigasi lingkungan yang kadang kala penuh kejutan tak diinginkan.

Perilaku hewan liar di lingkungan perkotaan atau lokasi konser yang luas memang bisa sangat tidak terduga. Kelelawar, misalnya, seringkali mencari tempat berteduh dan beristirahat di area yang ramai, sementara laba-laba berbisa dapat ditemukan di sudut-sudut gelap atau area yang jarang terjamah. Kehadiran ribuan penonton yang berisik dan aktivitas panggung yang intens mungkin secara tidak sengaja mengganggu habitat alami mereka, memicu reaksi defensif.

Secara keseluruhan, insiden yang dialami Taylor Momsen menjadi pengingat bahwa dunia rock 'n' roll, meski penuh dengan gemerlap, juga memiliki sisi liar dan tak terduga yang melampaui batas-batas panggung itu sendiri. Para musisi harus siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk bertemu dengan tamu tak diundang yang memiliki taring atau cakar. Setidaknya, cerita ini memberikan bahan obrolan yang menarik, jauh dari sekadar ulasan album biasa.