Bisa-bayangkan kapal perang, alih-alih berpatroli santai, malah diajak main tembak-tembakan dengan target sungguhan? Ya, Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) baru saja menggelar latihan tempur skala besar di Laut Jawa, dan puncaknya adalah latihan Sinking Exercise (SINKEX) yang bikin salah satu kapal tua mereka tenggelam. Ini bukan kejadian biasa, lho, ini adalah SINKEX pertama sejak Mei 2024, jadi ada rasa 'wow' yang lumayan besar buat para pengamat militer. Sebuah ritual pemakaman kehormatan yang cukup dramatis, kalau dipikir-pikir.
Targetnya? Sebuah Landing Ship Tank (LST) kelas Frosch yang sudah pensiun, KRI Teluk Hading (538). Kapal ini punya sejarah panjang, pernah mengabdi di Angkatan Laut Jerman Timur sebelum akhirnya diadopsi Indonesia di era 90-an. Ibaratnya, dia sudah siap-siap pensiun dan malah dapat 'undangan' terakhir yang agak ekstrem. Untuk mengakhiri masa baktinya, sebuah rudal anti-kapal Exocet MM40 Block 3 buatan Prancis yang dilepaskan dari kapal fregat kelas SIGMA 10514, KRI I Gusti Ngurah Rai (332), yang bertugas memberikan 'sentuhan akhir'. Sebuah perpisahan yang cukup bertenaga, bukan?
Kisah KRI Teluk Hading memang cukup pilu. Kapal ini sebenarnya sudah 'pensiun dini' di tahun 2024, setelah sebelumnya mengalami musibah kebakaran parah di perairan Sulawesi Selatan pada tahun sebelumnya. Jadi, SINKEX ini lebih seperti pembalasan dendam terhadap api atau sekadar cara 'efisien' untuk membereskan aset yang sudah tidak layak pakai. Rasanya seperti menonton film aksi di mana sang pahlawan harus 'membereskan' rekannya yang terluka parah demi kebaikan bersama, hanya saja dalam konteks militer dan ledakan yang nyata.
Misi 'Pembunuhan' yang Terencana
Tapi, aksi tembak-tembakan tidak berhenti di situ. Kapal cepat rudal (FAC) kelas Sampari, KRI Sampari (628), juga unjuk gigi dengan meluncurkan rudal C-705 buatan Tiongkok. Targetnya kali ini bukan kapal, melainkan sasaran darat yang berlokasi di Pulau Gundul. Ini menarik karena pulau yang sama pernah menjadi sasaran tembak rudal Exocet untuk target darat pada Desember 2024 lalu. Jadi, ini seperti pengulangan misi, hanya saja kali ini menggunakan amunisi yang berbeda dan platform yang juga berbeda. Terlihat jelas ada upaya untuk menguji kemampuan serang darat menggunakan berbagai jenis rudal anti-kapal, sebuah pergeseran taktik yang patut dicermati.
Perlu dicatat, penggunaan rudal anti-kapal untuk menyerang target darat oleh TNI AL ini baru terjadi dua kali secara publik. Ini menunjukkan bahwa angkatan laut kita sedang serius menggarap kapabilitas serangan jarak jauh yang lebih fleksibel. Bukan cuma untuk pertahanan laut, tapi juga bisa diandalkan untuk memberikan dukungan tembakan dari laut ke darat. Sebuah evolusi yang sangat krusial di dunia militer modern, di mana garis depan pertempuran semakin kabur.

Pertahanan Udara yang Ikut Beraksi
Latihan ini tidak melulu soal menghancurkan, tapi juga soal mempertahankan diri. Ada adegan pertahanan udara yang tak kalah seru. KRI R.E. Martadinata (331), fregat kelas SIGMA 10514 lainnya, mengerahkan rudal permukaan-ke-udara Mistral dan kemungkinan Strela. Keduanya ditembakkan ke arah target udara, menunjukkan kesiapan tempur dalam menghadapi ancaman dari angkasa. Peluncur ganda Simbad yang digunakan untuk Mistral ini, konon, dipinjam dari salah satu fregat kelas Leander/Van Speijk, mungkin dari KRI Slamet Riyadi (352) yang juga bernasib sama, ditenggelamkan dalam SINKEX pada Juli 2023. Sungguh ironis, sebuah kapal yang pernah jadi 'kakak' kini menyediakan 'alat peraga' untuk 'adiknya' latihan.
Keterlibatan tiga pesawat tempur F-16 dalam menjatuhkan bom bebas hambatan ke target maritim semakin memperkuat sinyal bahwa TNI AL dan TNI AU berupaya keras meningkatkan kerja sama dan interoperabilitas. Ini bukan sekadar latihan gabungan biasa, ini adalah simulasi perang yang mencakup berbagai matra, menguji kemampuan koordinasi dari darat, laut, hingga udara. Sebuah pendekatan holistik dalam membangun kekuatan pertahanan negara.
Secara keseluruhan, sekitar 20 kapal perang turut serta dalam latihan akbar ini. Termasuk dua kapal tempur serbaguna terbaru milik AL, kelas Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA), yaitu KRI Brawijaya (320) dan KRI Prabu Siliwangi (321). Kapal kedua ini baru saja tiba dari Italia setelah perjalanan panjang, seolah langsung 'disambut' dengan tugas berat untuk menguji performa sistem persenjataannya. Sebuah penyambutan yang cukup meriah, sekaligus menegaskan komitmen untuk terus memodernisasi armada laut.

Latihan SINKEX ini, meski tampak brutal, sebenarnya punya tujuan strategis yang mendalam. Ini adalah sarana efektif untuk menguji dan meningkatkan keandalan sistem persenjataan dalam kondisi tempur sesungguhnya. Penggunaan kapal bekas sebagai target bukan hanya soal efisiensi, tapi juga memungkinkan evaluasi mendalam terhadap dampak berbagai jenis amunisi dan taktik peperangan laut modern. Ibaratnya, sebuah 'uji coba laboratorium' yang sangat mahal dan berbahaya, namun vital bagi kesiapan tempur di masa depan.
Selain itu, latihan seperti ini juga menjadi ajang pembuktian teknologi dan alutsista terbaru yang dimiliki TNI AL. Dari rudal anti-kapal generasi baru hingga kapal perang modern, semua diuji coba dalam skenario yang mendekati pertempuran nyata. Ini bukan sekadar pamer kekuatan, tapi lebih kepada pemastian bahwa investasi besar dalam modernisasi pertahanan membuahkan hasil yang diharapkan dalam hal kesiapan operasional.
Proses penenggelaman kapal, atau SINKEX, memang terlihat dramatis. Namun, di balik ledakan dan asap, tersimpan pelajaran tak ternilai tentang ketahanan material kapal di bawah serangan rudal, efektivitas sistem targeting, dan respons kru dalam situasi krisis. Data yang terkumpul dari latihan ini akan menjadi masukan berharga untuk pengembangan strategi dan teknologi pertahanan di masa depan. Sebuah proses pembelajaran yang berkelanjutan, karena ancaman di lautan tidak pernah statis.
Pelibatan pesawat tempur F-16 dalam menjatuhkan bom ke target maritim adalah perwujudan nyata dari konsep joint operation. Angkatan Laut dan Angkatan Udara tidak lagi beroperasi secara terpisah, melainkan terintegrasi dalam sebuah sistem komando dan kendali yang terpadu. Tujuannya jelas, menciptakan efek sinergis yang jauh lebih mematikan daripada jika masing-masing matra bertindak sendiri-sendiri. Ini adalah cerminan dari evolusi doktrin pertahanan modern yang menekankan pentingnya koordinasi lintas matra.
Penggunaan pulau terpencil sebagai sasaran tembak darat juga memberikan dimensi tambahan pada latihan ini. Ini menguji kemampuan rudal untuk melakukan serangan presisi dari jarak jauh, melewati berbagai rintangan geografis, dan menghantam target spesifik di daratan. Kemampuan ini sangat krusial dalam peperangan modern, di mana dukungan tembakan dari laut ke darat bisa menjadi penentu kemenangan dalam operasi amfibi atau serangan ke posisi musuh yang sulit dijangkau.
Partisipasi kapal-kapal baru seperti KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi dalam latihan ini menunjukkan keseriusan TNI AL dalam mengintegrasikan aset-aset modern ke dalam sistem pertahanan yang ada. Kehadiran kapal PPA, yang merupakan platform tempur canggih, dalam latihan skala besar seperti ini memberikan kesempatan emas untuk menguji kemampuan tempur mereka secara menyeluruh, mulai dari peperangan anti-kapal, anti-udara, hingga dukungan tembakan. Ini adalah langkah penting dalam membangun kapabilitas maritim yang tangguh dan modern.
Pada dasarnya, latihan tempur seperti SINKEX ini adalah tentang kesiapan. Kesiapan menghadapi skenario terburuk, kesiapan menguji teknologi terdepan, dan kesiapan untuk terus beradaptasi dengan dinamika geopolitik global. Ini bukan sekadar demonstrasi kekuatan, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam memastikan kedaulatan maritim terjaga, dengan cara yang sedikit lebih dramatis dan penuh ledakan.
