Ada dua jenis manusia saat diundang menghadiri audiensi resmi dengan pemimpin tertinggi Gereja Katolik di Vatikan: kelompok pertama yang panik menyetrika setelan jas wol terbaik mereka, dan kelompok kedua... yang namanya Bob Dylan.
Foto-foto yang diunggah dokumentasi liputan Pitchfork seketika bikin gempar jagat musik dan media sosial pekan ini. Sang maestro folk legendaris peraih Nobel Sastra berusia 85 tahun itu tampak santai menyalami Paus Fransiskus dengan mengenakan jaket hoodie hitam bertudung, dipadu celana kasual dan sepasang sepatu bot tanpa kilap semir.
Sementara para staf protokoler kepausan berdiri tegak dengan busana serba rapi dan kaku, Dylan melangkah seperti kakek-kakek yang baru saja mampir beli rokok lintingan di warung kelontong seberang gang. Tidak ada jas berdasi, tidak ada medali kehormatan yang disematkan di dada, apalagi ekspresi tegang takut salah tingkah.
Momen ini adalah antitesis sempurna bagi budaya pencitraan karpet merah zaman sekarang. Di era musisi muda menyewa puluhan fashion stylist dan konsultan etiket hanya untuk tampil tiga menit di pesta gala, Bob Dylan mengingatkan kita pada esensi purba musik rock: ketulusan untuk menjadi diri sendiri tanpa peduli ekspektasi mata dunia.
Dylan sudah menulis Blowin' in the Wind dan Like a Rolling Stone sebelum sebagian besar pejabat Vatikan hari ini dilahirkan. Bagi pria yang pernah menolak datang mengambil piala Nobel Sastra di Swedia hanya karena "ada jadwal manggung lain", jaket hoodie di depan Sri Paus bukanlah bentuk penghinaan, melainkan pernyataan bahwa kemanusiaan dan karya seni tidak pernah diukur dari seberapa licin dasi kupu-kupu yang melilit lehermu.



