Kalau Anda bekerja menjaga rak server di ruang bawah tanah kantor yang bising atau sekadar gemar merakit komputer sendiri di kamar kos, obrolan tentang valuasi startup Silicon Valley belakangan ini terasa semakin mirip dongeng antariksa. Tiap beberapa bulan sekali, angka-angka yang dilempar para bankir investasi ke media massa sudah berada di luar batas nalar orang yang tiap bulan pusing menghitung tagihan listrik pendingin server. Triliun rupiah sudah dianggap uang receh; kini mereka mulai terbiasa melempar angka kuadriliun tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Puncak dari histeria bursa modal itu kembali tercatat pekan ini. Sebagaimana dicatat dalam laporan Bloomberg dan ulasan The Verge, OpenAI baru saja mengamankan komitmen putaran pendanaan anyar senilai 11 miliar dolar AS. Kucuran dana jumbo ini mendongkrak valuasi korporasi pencipta ChatGPT tersebut hingga menyentuh angka 1,25 triliun dolar AS—atau setara sekitar Rp19.800 triliun dengan kurs saat ini. Valuasi mencengangkan ini melonjak drastis hanya dalam rentang delapan bulan setelah Maret lalu mereka mengantongi dana investor di angka valuasi 852 miliar dolar, sementara rival terdekatnya Anthropic juga dikabarkan bersiap melantai di bursa saham lewat penawaran umum perdana.
Angka dua puluh ribu triliun rupiah untuk sebuah perusahaan perangkat lunak yang baru berumur seumur jagung tentu terdengar sangat memesona di atas kertas prospektus presentasi PowerPoint. Namun bagi teknisi yang sehari-hari berhadapan dengan baris kode dan terminal Linux, nilai fantastis itu menyisakan satu pertanyaan mendasar yang menggelitik: apa sebenarnya yang sedang dibeli dengan uang sebanyak itu?

Kenyataannya, di balik tabir optimisme para eksekutif korporasi, OpenAI masih merupakan mesin pemakar uang paling rakus dalam sejarah industri komputasi. Demi melatih model bahasa generasi berikutnya dan mempertahankan jutaan kueri percakapan harian, kas perusahaan terus terkuras miliaran dolar untuk menyewa klaster ribuan kartu grafis mutakhir, membangun gardu daya listrik mandiri, dan memborong hak lisensi data teks dari berbagai penjuru internet.
Ironi terbesarnya terasa langsung di tangan jutaan pengguna awam di tingkat bawah. Kendati valuasinya sudah menyaingi kapitalisasi pasar raksasa energi global, chatbot yang disuguhkan ke meja kerja kita masih kerap mengalami halusinasi konyol. Model bahasa tersebut masih suka mengarang nama pasal hukum fiktif, memberikan rujukan artikel ilmiah palsu, atau mendadak bengong dengan pesan kesalahan server kehabisan kapasitas tepat saat tenggat tugas kantor tinggal hitungan menit.
Kecurigaan publik terhadap ambisi ugal-ugalan korporasi kecerdasan buatan ini sejalan dengan kegusaran para pengelola situs web independen, persis seperti skandal etika saat Meta diam-diam melatih AI dari postingan pengguna. Demi memuaskan dahaga algoritma yang haus data latihan, para raksasa teknologi tidak ragu menyedot karya cipta warga internet tanpa izin dan tanpa kompensasi sepeser pun.
Perlombaan membangun fasilitas komputasi bernilai fantastis ini juga menciptakan perburuan perangkat keras yang luar biasa sengit, bahkan sampai menyeret operasi intelijen tingkat tinggi sebagaimana terungkap saat bos Nvidia dibuntuti mata-mata berkedok rekan bisnis. Ketika lempengan chip semikonduktor diperebutkan seperti emas hitam di bursa gelap, biaya yang harus ditanggung masyarakat awam justru membengkak: harga kartu grafis komputer rumahan melambung tinggi dan pasokan energi listrik perkotaan tersedot demi menghidupkan deretan server kecerdasan buatan.
Para konglomerat dan manajer pengelola dana pensiun di New York boleh saja terus mengerek valuasi OpenAI hingga menembus batas langit bursa saham demi menjaga ilusi pertumbuhan eksponensial. Namun bagi kita yang tiap hari duduk di warung kopi sembari memperbaiki sistem kantor yang tumbang, hukum dasar rekayasa perangkat lunak tidak pernah berubah: secanggih apa pun algoritma kecerdasan buatan yang bernilai ribuan triliun rupiah, ia akan langsung mati kutu menjadi kotak besi rongsokan begitu kabel colokan listriknya terlepas dari stopkontak dinding.
