Menyetujui dokumen syarat dan ketentuan layanan (terms of service) di internet sudah lama menjadi kebohongan massal paling lazim yang kita lakukan setiap hari. Dari anak kuliahan yang terburu-buru mengunduh aplikasi baru, admin toko daring di pojok kontrakan, hingga pegawai kantoran yang butuh membuka dokumen kerja, jemari kita punya refleks otomatis: menggulir cepat kotak teks berkas hukum ribuan kata itu ke dasar halaman, lalu mengeklik tombol centang persetujuan tanpa membaca sepatah kata pun. Kita mempercayakan nasib privasi kita pada asumsi polos bahwa korporasi sebesar Silicon Valley tidak akan sejahat itu menyelipkan klausul menjual organ pengguna di pasal tiga puluh lima.
Namun celah kelengahan kolektif itulah yang baru-baru ini nyaris dimanfaatkan secara licik oleh korporasi induk Facebook dan Instagram. Sebagaimana dicatat dalam laporan investigasi Ars Technica dan Nieman Lab pekan ini, Meta mendadak memperbarui dokumen Ketentuan Komersial (Commercial Terms) mereka. Di antara tumpukan bahasa hukum korporat yang bertele-tele, terselip satu jebakan maut: siapa pun yang mengelola akun bisnis, fanpage Facebook, atau menggunakan dasbor Meta Business Suite, secara otomatis dianggap memberi izin kepada bot crawler Meta untuk menyedot (scraping) seluruh konten di situs web luar milik mereka. Yang lebih keterlaluan, naskah awal dokumen tersebut secara gamblang menyatakan bahwa data rampasan dari tautan luar itu bakal dipakai untuk melatih model kecerdasan buatan komersial mereka alias Meta AI.
Manuver ini terang saja membuat para pemilik situs dan pegiat kebebasan informasi geleng-geleng kepala. Bayangkan situasi absurdnya: Anda membangun situs media lokal, toko daring, atau blog esai independen dengan modal sewa server sendiri dan tetesan keringat menulis konten bertahun-tahun. Lalu Anda sekadar menaruh tautan artikel tersebut di laman Facebook agar ada pembaca mampir. Menurut logika serakah manajemen Meta, tindakan menempel tautan itu sudah cukup menjadi tiket gratis bagi mesin mereka untuk melahap seluruh isi server Anda tanpa membayar sepeser pun hak cipta. Di panggung konferensi internasional, Mark Zuckerberg boleh saja berbicara manis soal masa depan teknologi yang inklusif dan memajukan peradaban. Namun di balik layar, dapur kecerdasan buatan mereka rupanya sedang kelaparan bahan bakar data gratisan hingga tega menyusupkan pasal penjarahan lewat pintu belakang.
Sial bagi Meta, para pengelola web dan aktivis hak digital di berbagai belahan dunia ternyata belum sepenuhnya kehilangan ketelitian. Gelombang protes langsung meledak begitu para peneliti membongkar pasal siluman tersebut ke ruang publik. Pertanyaan satir apakah Meta mengira pemilik situs tidak bisa membaca syarat layanan menggema kencang di forum-forum pengembang dan linimasa komunitas siber. Menghadapi kepungan kritik pedas dari serikat penerbit dan ancaman penyelidikan otoritas antimonopoli di Eropa, manajemen Meta sempat gelagapan dengan diam-diam menghapus kata pelatihan AI dari naskah ketentuan, sebelum akhirnya mengumumkan pembekuan total pembaruan aturan tersebut hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Manuver licik ini sejatinya mengulang pola lama ketika raksasa teknologi kerap menguji batas kesabaran publik lewat pembaruan kebijakan yang manipulatif. Sikap lancang korporasi Silicon Valley semacam ini mengingatkan kita pada bagaimana trik halus perusahaan teknologi membatasi kedaulatan pengguna terus berulang dengan berbagai variasi kemasan. Bila publik lengah dan pasrah menerima klaim efisiensi sepihak, korporasi akan dengan senang hati melenggang mengambil alih kendali. Bahkan peristiwa ini berakar pada watak rakus yang sama ketika kebiasaan korporasi mengutak-atik aturan demi menyedot data pengguna selalu dibungkus dengan jargon manis peningkatan kenyamanan konsumen.
Bagi para pengelola situs dan pekerja kreatif di tanah air, drama pembatalan sepihak ini menghadirkan pelajaran berharga yang tak boleh dilupakan. Kedaulatan data di ruang maya bukan barang gratis yang bisa kita percayakan pada kemurahan hati konglomerat platform luar negeri. Menutup celah pengikisan hak digital tidak cukup hanya dengan berharap raksasa media sosial bertobat menjadi dermawan.
Lain kali jika ada raksasa teknologi yang mendadak menyodorkan lembaran panjang syarat ketentuan baru dan meminta Anda mengeklik tombol setuju secara kilat, luangkan waktu sejenak untuk menyeruput kopi dan membaca detailnya. Sebab di balik kalimat berbunga-bunga tentang inovasi teknologi, siapa tahu mereka sedang diam-diam mendaftarkan seluruh isi rumah virtual Anda sebagai menu prasmanan gratis untuk mesin kecerdasan buatan mereka.



