Jika Anda sempat melewati masa remaja di era awal tahun 2000-an dengan menghabiskan malam di depan monitor komputer yang mendengung, nama BioWare kemungkinan besar terukir rapi di ruang nostalgia Anda. Studio asal Edmonton, Kanada ini bukan sekadar pengembang game biasa. Lewat mahakarya seperti Baldur's Gate, Star Wars: Knights of the Old Republic, trilogi Mass Effect, hingga petualangan kelam Dragon Age: Origins, mereka pernah menjadi raja mutlak dalam meracik cerita interaktif yang sanggup mengaduk-aduk emosi pemainnya.
Namun kejayaan itu perlahan berubah menjadi cerita muram semenjak sang induk semang raksasa, Electronic Arts, mulai mendikte dapur produksi mereka. Selama satu dekade terakhir, para pemain dipaksa menyaksikan studio kesayangannya dipreteli satu demi satu. Penulis naskah kawakan hengkang, proyek game pemain tunggal yang berfokus pada kedalaman narasi dipaksa bertransformasi menjadi game live-service karbitan semacam Anthem yang berujung bencana, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja yang tak henti-hentinya menyapu ruang kerja para kreator.
Saking frustrasinya melihat kehancuran lambat tersebut, komunitas pemain di Kanada baru saja melakukan langkah yang barangkali terdengar seperti lelucon tongkrongan, namun digarap dengan sangat serius. Sebagaimana dicatat dalam laporan PC Gamer pekan ini, sebuah petisi publik resmi yang diajukan ke House of Commons Kanada telah mengumpulkan ribuan tanda tangan sah dari warga negara setempat. Tuntutannya tidak main-main: mendesak pemerintah federal Kanada untuk turun tangan menyelamatkan BioWare, melindunginya dari pembongkaran korporat, atau bahkan menjadikannya aset warisan budaya yang dilindungi negara.
Menariknya, inisiatif warga ini tidak bertepuk sebelah tangan. Charlie Angus, seorang anggota parlemen Kanada terkemuka, secara terbuka menanggapi petisi tersebut dan menyatakan bahwa langkah penyelamatan sektor kreatif semacam ini secara hukum dan kebijakan publik "sangat mungkin terjadi". Menurutnya, industri video game modern bukan lagi sekadar mainan anak-anak pelepas penat, melainkan pilar ekonomi kreatif sekaligus medium penceritaan modern yang mewakili identitas budaya bangsa.

Bagi gamer yang kerap memantau dinamika industri game, kabar ini tentu memicu senyum getir sekaligus rasa haru. Di satu sisi, gagasan bahwa kementerian kebudayaan sebuah negara adidaya harus turun tangan untuk menghentikan nafsu dividen para pemegang saham Wall Street memang terdengar absurd. Kita seolah sedang membayangkan seorang birokrat berkemeja rapi datang ke ruang rapat direksi EA untuk menjelaskan betapa pentingnya dialog percabangan karakter Commander Shepard bagi kelangsungan peradaban manusia.
Namun di sisi lain, petisi ini adalah manifestasi nyata dari keputusasaan paling jujur yang pernah lahir dari akar rumput komunitas pemain. Selama bertahun-tahun, komunitas pemain telah mencoba segala cara menghadapi kebijakan efisiensi korporasi yang mematikan studio game: memboikot pemesanan awal (pre-order), menulis kritik pedas di forum daring, hingga menahan uang belanja game mereka. Nyatanya, logika korporasi multinasional tidak pernah bekerja dengan sensitivitas seni. Bagi para manajer berjas rapi, studio legendaris yang mempekerjakan ratusan seniman bertalenta hanyalah baris angka biaya operasional yang siap dicoret begitu laporan keuangan kuartalan membutuhkan polesan laba instan.
Melihat fenomena ini dari kacamata gamer kasual, apa yang menimpa BioWare sejatinya mengulang kepasrahan serupa saat penerbit game memeras dompet pemain demi mengejar dividen investor yang sedang melanda industri hiburan digital secara global. Kita hidup di zaman di mana video game diperlakukan tak ubahnya mesin judi kasino digital yang dipasangi grafik tiga dimensi memukau. Publisher tidak lagi puas menjual sebuah karya utuh yang bisa dinikmati dari awal hingga tamat. Mereka menginginkan seluruh sisa waktu luang dan limit kartu kredit Anda disedot melalui skema monetisasi musiman, tiket pertempuran, dan kosmetik senjata yang harganya kerap melampaui biaya makan siang sepekan.
Tentu saja, jalan bagi pemerintah Kanada untuk benar-benar mengintervensi atau menasionalisasi BioWare masih berupa jalan terjal penuh rintangan birokrasi. EA tentu tidak akan semudah itu melepaskan hak cipta intelektual atas waralaba bernilai triliunan rupiah hanya karena rasa iba terhadap memori masa kecil penggemarnya.
Kendati demikian, keberanian para gamer mengajukan petisi ke meja parlemen telah mengirimkan tamparan keras yang menyegarkan ke wajah industri. Ketika para pemain sampai merasa perlu mengadu kepada wakil rakyat demi menyelamatkan sebuah cerita fiksi, itu pertanda bahwa korporasi game modern sudah terlalu lama lupa bagaimana caranya bersikap layaknya manusia yang mencintai karya seni.



