Jika Anda menyempatkan diri mampir ke lantai bursa Tokyo pekan ini, senyum lebar para eksekutif Sony Group dipastikan sedang merekah selebar-lebarnya. Bagaimana tidak, raksasa hiburan asal Jepang itu baru saja merilis laporan keuangan kuartalan dengan angka yang bikin silau mata: laba bersih mereka melonjak tajam menyentuh angka 449,6 miliar yen atau setara dengan 2,84 miliar dolar Amerika Serikat. Pundi-pundi uang tersebut mengalir deras terutama berkat moncernya divisi PlayStation serta kesuksesan luar biasa waralaba Spider-Man yang laris manis diserbu konsumen global.

Namun bila Anda memalingkan pandangan dari salindia presentasi investor yang megah itu dan menengok ke ruang tamu para pemain di tongkrongan rental, suasana yang tersaji justru berbanding terbalik 180 derajat. Di balik perayaan laba triliunan rupiah tersebut, ada jutaan dompet gamer kasual yang sedang megap-megap diperas habis oleh strategi monetisasi korporasi yang makin hari makin tidak masuk akal.

Sebagaimana dicatat dalam laporan The Verge, divisi game Sony menjadi lokomotif utama yang mengangkat pundi-pundi keuntungan perusahaan sepanjang kuartal ketiga. Penjualan judul game andalan seperti Spider-Man: Brand New Day berhasil mendongkrak pendapatan perangkat lunak ke rekor baru. Namun alih-alih membalas loyalitas komunitas dengan layanan yang lebih ramah di kantong, manajemen Sony justru memanfaatkan dominasi pasar konsol generasi sekarang untuk mengencangkan jerat harga kepada konsumennya sendiri.

Tampilan visual Spider-Man dan konsol PlayStation
Tampilan visual Spider-Man dan konsol PlayStation

Pukulan paling telak dirasakan para pengguna melalui kenaikan tarif langganan PlayStation Plus yang melambung tanpa ampun. Layanan yang dulunya menjadi syarat wajib bermain online dengan bonus pustaka game bulanan yang menarik, kini dibanderol dengan harga yang bikin geleng-geleng kepala. Ironisnya, kenaikan tarif tersebut sama sekali tidak diimbangi dengan perbaikan kualitas katalog game klasik atau infrastruktur server komputasi awan yang lebih stabil. Gamer diposisikan seperti sapi perah yang tak punya pilihan selain membayar upeti bulanan demi bisa menikmati game bersama teman satu tongkrongan.

Keserakahan korporasi ini mencapai puncaknya pada peluncuran varian konsol teranyar PS5 Pro. Dijual dengan banderol harga selangit yang menembus belasan juta rupiah, Sony dengan percaya diri melucuti komponen paling mendasar: pemutar piringan cakram fisik (disc drive). Bagi pemain yang ingin menjalankan koleksi kaset lama mereka, Sony dengan santai mewajibkan pembelian aksesori drive terpisah seharga jutaan rupiah tambahan. Ini adalah manuver bisnis yang secara sengaja membunuh pasar media fisik demi menggiring seluruh konsumen masuk ke dalam kandang monopoli toko digital PlayStation Store, tempat di mana mereka bebas mematok harga game tanpa saingan diskon dari toko game pinggir jalan.

Bagi para penikmat ulasan game yang mengikuti sepak terjang industri konsol sejak era PlayStation 1, arogansi Sony saat memegang kendali pasar adalah pola lama yang berulang. Setiap kali mereka unggul jauh atas rival abadinya seperti Xbox, manajemen Sony cenderung lupa daratan dan mulai memandang pemain bukan lagi sebagai penggemar setia, melainkan deretan angka arus kas (cash flow) yang siap dipanen tiap kuartal.

Para eksekutif Sony boleh saja membanggakan grafik laba mereka yang menjulang tinggi di hadapan para pemilik saham. Namun sejarah video game selalu membuktikan bahwa kesetiaan gamer bukanlah cek kosong yang bisa dipermainkan selamanya.

Sang manusia laba-laba mungkin selalu berhasil menyelamatkan warga New York dari ancaman penjahat super di dalam game. Namun di dunia nyata, superhero berkostum merah-biru itu jelas tak berdaya menyelamatkan tabungan para penggemarnya dari jerat cengkeraman korporasi induknya sendiri.