Di lorong-lorong bioskop kota besar pada akhir pekan, pemandangan lazim yang kerap kita temui adalah kerumunan anak muda yang antre membeli popcorn karamel berukuran jumbo sembari berburu tiket film horor murahan penuh suara jeritan jump-scare. Namun beberapa hari belakangan, ada keheningan ganjil yang menyusup di antara deretan poster film komersial tersebut. Antrean panjang tetap mengular, tetapi raut wajah penontonnya jauh lebih teduh dan gelisah. Mereka datang bukan untuk ditakut-takuti oleh sosok hantu jadi-jadian, melainkan untuk menatap langsung luka sejarah bangsa yang selama puluhan tahun coba disapu ke bawah karpet.
Keriuhan itu bermuara pada penayangan adaptasi film Laut Bercerita yang diangkat dari novel mahakarya Leila S. Chudori. Sebagaimana dicatat dalam laporan Antara News pada musim gugur ini, jadwal pemutaran layar lebar karya tersebut langsung diserbu penonton di berbagai kota sejak hari pertama rilis. Kisah pergerakan Biru Laut, Kasih Kinanti, dan kawan-kawan kelompok studi Winatra yang diculik serta dihilangkan secara paksa menjelang runtuhnya rezim Orde Baru mendadak kembali menjadi bahan perbincangan paling hangat di linimasa media sosial.
Fenomena ini sekaligus meremukkan stigma dangkal yang kerap disematkan generasi tua kepada anak muda hari ini. Generasi Z sering kali dicap sebagai gerombolan manusia apolitis yang cuma peduli pada joget viral lima belas detik, tren fesyen fomo, dan kopi susu gula aren. Namun ketika ribuan lembar tiket pemutaran film bertema penculikan aktivis 1998 ini ludes terjual dalam hitungan menit, kita dipaksa mengakui adanya dahaga kultural yang tak pernah terpuaskan oleh kurikulum sejarah sekolah.

Bagi mereka yang kerap menelusuri dinamika seni dan rubrik Musik & Gaya Hidup independen, kekuatan karya sastra yang dialihwujudkan ke layar perak selalu menyimpan daya gugah tersendiri. Buku pelajaran sejarah di ruang-ruang kelas formal kerap mereduksi tragedi kemanusiaan menjadi sekadar deretan angka tahun dan nama jenderal yang wajib dihafal demi kelulusan ujian semester. Sebaliknya, melalui sudut pandang sinematik, penonton diajak merasakan sesak napas di ruang bawah tanah yang gelap, derit suara rantai borgol, serta kegetiran keluarga korban yang setia menyeduh teh setiap hari Minggu di meja makan sembari menanti kepulangan anak mereka yang tak kunjung tiba.
Di sinilah seni membuktikan fungsinya sebagai benteng ingatan. Ketika para elit politik di panggung kekuasaan saling bertukar kursi dan sibuk memutihkan dosa pelanggaran hak asasi manusia masa lalu dengan dalih rekonsiliasi semu, karya fiksi justru berdiri tegak menjadi saksi yang menolak lupa. Lewat medium gambar bergerak dan tata suara yang intim, penderitaan para martir demokrasi tidak lagi terdengar seperti dongeng masa lampau yang berjarak, melainkan cermin telanjang yang memantulkan kebobrokan nurani kita hari ini.
Tentu saja, ada kekhawatiran klasik bahwa fenomena ini bakal tereduksi menjadi sekadar komodifikasi rasa sedih atau ajang pamer tiket di status Instagram cerita. Namun melihat riuhnya ruang-ruang diskusi alternatif yang digelar komunitas kampus seusai pemutaran film, optimisme itu rasanya pantas dipelihara. Anak-anak muda yang hadir di ruang gelap bioskop itu bukan sekadar konsumen tiket hiburan, mereka adalah generasi baru yang sedang menuntut hak untuk mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Kekuasaan tiran mungkin sanggup menenggelamkan tubuh para pemuda idealis ke dasar laut yang paling sunyi. Namun sebagaimana yang dibuktikan oleh riak gelombang film ini, kata-kata dan ingatan manusia adalah karang kokoh yang tak akan pernah bisa dibungkam oleh kedalaman samudra.



