Bagi siapa saja yang sering pulang kerja dalam keadaan letih saat azan magrib berkumandang, momen berdiri mematung di depan pintu kulkas yang terbuka lebar adalah pemandangan paling lumrah di rumah petak perkotaan. Di hadapan kita hanya tersisa sepotong dada ayam dingin, dua butir telur, separuh bawang bombai yang mulai layu, dan sejumput daun seledri sisa pekan lalu. Perut sudah berbunyi nyaring menuntut jatah makan malam, tetapi otak kita sudah terlalu lelah untuk memikirkan formula resep yang masuk akal.
Di tengah keputusasaan dapur semacam itu, janji manis para perancang teknologi kecerdasan buatan terdengar bagaikan mukjizat penyelamat. Mengapa harus repot-repot membolak-balik buku masak warisan keluarga jika Anda cukup memotret isi kulkas, mengetik keluhan singkat, lalu membiarkan model bahasa raksasa meracik menu makan malam Anda secara instan?
Namun memasak sesungguhnya bukan sekadar urusan mencocokkan deretan teks dan angka probabilitas di atas kertas. Begitu urusan wajan diserahkan kepada algoritma, batas antara santapan lezat dan bencana dapur ternyata hanya terpaut setipis kulit bawang.

Kerapuhan logika silikon tersebut baru saja diuji secara langsung di medan dapur nyata. Sebagaimana dicatat dalam laporan pengujian mendalam oleh jurnalis Jennifer Tuohy di The Verge pekan ini, aplikasi kuliner ternama The New York Times Cooking resmi meluncurkan asisten percakapan cerdas berbasis AI untuk memandu pengguna mengolah masakan harian. Hasil pengujiannya menyuguhkan kontras yang sangat menggelitik: asisten digital ini memang cukup piawai membantu meracik bumbu marinasi tumisan ayam dengan bahan seadanya, tetapi mendadak menjelma menjadi petaka saat diuji untuk urusan memanggang kue bolu.
Ketika sang penguji meminta saran takaran pengganti bahan kue dan durasi oven, chatbot tersebut dengan percaya diri memberikan instruksi yang terdengar sangat meyakinkan. Sayangnya, begitu loyang ditarik keluar dari panggangan, adonan kue yang diharapkan mengembang lembut justru bantat total, keras menyerupai batu bata, dan menyisakan rasa asin menyengat akibat takaran ragi serta soda kue yang ngawur.
Insiden kue bantat ini merangkum ironi terbesar dari demam kecerdasan buatan yang melanda berbagai sektor hari ini. Para pemodal ventura di Silicon Valley boleh saja membanggakan triliunan parameter matematika yang tertanam di pusat data mereka. Realitas menggelikan ini sejalan dengan investasi raksasa yang digelontorkan untuk chatbot yang hobi halusinasi di mana model komputasi tercanggih sekalipun masih sering keliru membedakan fakta ilmiah dengan khayalan statistik.
Kelemahan paling mendasar dari chatbot percakapan terletak pada ketiadaan panca indra biologis. Model bahasa generatif tidak pernah memiliki lidah untuk mengecap rasa getir, tidak memiliki hidung untuk mencium bau gosong, dan tidak memiliki telinga untuk mendengar desisan minyak panas di atas wajan. Mereka hanya menyusun kata demi kata berdasarkan frekuensi kemunculan teks di internet. Jika ribuan blog resep abal-abal di dunia maya salah menuliskan takaran garam, maka chatbot akan menyalin kesalahan tersebut dengan gaya tutur yang sangat sopan dan percaya diri.
Ketergantungan buta masyarakat modern pada asisten digital ini mencerminkan fenomena kepanikan yang kian lazim, menyerupai sensasi panik masyarakat modern akibat ketergantungan layar kaca yang membuat manusia perlahan-lahan kehilangan kepercayaan pada kemampuan dasarnya sendiri. Generasi orang tua kita di kampung halaman tidak pernah membutuhkan koneksi internet berkecepatan tinggi atau asisten virtual untuk mengetahui kapan adonan kue siap dipanggang. Cukup dengan menancapkan sebatang lidi bersih ke tengah loyang atau mengandalkan insting aroma yang tercium dari ventilasi oven, kelezatan santapan keluarga sudah terjamin.
Mencoba fitur chatbot di aplikasi kuliner untuk sekadar mencari ide nama masakan ayam tumis di kala lelah tentu sah-sah saja sebagai hiburan pelepas penat sehabis lembur. Namun jika Anda berniat menyerahkan takaran ragi dan suhu oven sepenuhnya ke tangan kecerdasan buatan, bersiaplah menerima kenyataan getir di meja makan: algoritma komputasi awan tercanggih di dunia mungkin bisa menulis puisi tentang kelezatan roti, tetapi mereka sama sekali tidak bertanggung jawab saat kue ulang tahun keluarga Anda berakhir di tempat sampah dapur.



