Biasanya, perayaan Hall of Fame adalah momen tukar damai, saling bersulang, dan mengenang melodi yang dulu pernah bikin baper di masa-masa pembentukan karakter. Tapi, ketika ARIA menahbiskan enam nama legendaris ke dalam Hall of Fame-nya pada Kamis malam, 11 Juni, acara tersebut malah jadi arena untuk reflect mendalam dan mengidentifikasi medan perang yang terbentang di depan: ancaman (sekaligus peluang) revolusi kecerdasan buatan (AI) bagi komunitas kreatif. Ini bukan sekadar seremoni; ini adalah peringatan dini bagi industri musik.
AI: Raksasa Baru atau Hantu Tua Berwajah Baru?
Di penghujung tahun 2025, Productivity Commission Australia merampungkan penyelidikan setahun penuh dengan laporan akhir soal “Harnessing data and digital technology“. Kesimpulannya? “Terlalu dini” untuk mengubah undang-undang hak cipta, meski ada lobi agresif dari raksasa teknologi. Ini menyusul pengumuman Menteri Kehakiman Michelle Rowland bahwa pemerintah tidak akan mengencerkan perlindungan hak cipta yang ada, secara efektif mematikan kekhawatiran sektor kreatif akan celah hukum untuk text and data mining (TDM).
Industri musik pun bergerak cepat. Nama-nama beken seperti Missy Higgins, Julian Hamilton (The Presets), Peter Garrett (Midnight Oil), dan Kate Ceberano (induktee 2026) langsung maju ke garis depan, menyuarakan hak para pemegang hak cipta. CEO ARIA, Annabelle Herd, dengan tegas menyatakan, “Kesempatan kita untuk membentuk bagaimana AI memengaruhi musik dan seperti apa musik Australia di generasi mendatang bergantung pada kemampuan kita semua untuk melakukannya dengan benar di momen regulasi dan politik krusial ini.” Pernyataannya bukan sekadar retorika; ini adalah manifesto perlawanan terhadap potensi eksploitasi tanpa izin.
ASI tengah menjadi topik hangat, menyusup ke setiap percakapan. Baru minggu ini, badan industri tersebut mengklarifikasi posisinya mengenai musik yang dihasilkan AI menjelang ARIA Awards 2026. Pedoman yang diperbarui menyatakan, “rekaman/item yang mengintegrasikan elemen AI boleh diajukan, namun hanya jika manusia adalah kreator utama dan kontribusi manusia bersifat substansial dan bermakna.” AI tidak boleh menjadi elemen tunggal atau sentral, dan semua layanan/alat AI yang digunakan harus berizin serta legal. Sangat jelas, ARIA tidak mau kecolongan.
Herd bersikeras bahwa industri ini akan “seperti anjing dengan tulang” terkait isu AI – tidak akan menyerah begitu saja. Ia kembali menekankan, “Kesempatan kita untuk membentuk bagaimana AI memengaruhi musik dan seperti apa musik Australia di generasi mendatang bergantung pada kemampuan kita semua untuk melakukannya dengan benar di momen regulasi dan politik krusial ini.”
Pidato Pembukaan ARIA Hall of Fame 2026: Lonceng Peringatan dan Refleksi
“Selamat malam, dan selamat datang di Acara Spesial ARIA Hall of Fame 2026,” sapa Annabelle Herd, mengawali pidatonya. Ia memberikan penghormatan kepada para tetua adat dan seniman First Nations, serta menyambut para pejabat penting seperti Menteri Seni Tony Burke dan mantan PM Selandia Baru, Jacinda Ardern. Dukungan dari berbagai lembaga seni dan pemerintahan ditekankan, terutama di tengah masa transisi industri yang penuh tantangan. Ini adalah momen refleksi, terutama karena ARIA Awards merayakan ulang tahun ke-40, sebuah kesempatan untuk melihat kembali para pionir yang membuka jalan.
Acara ini juga menjadi panggung untuk mengukuhkan enam artis yang dianggap layak mendapatkan tempat di Hall of Fame: Gurrumul, Jenny Morris, Kate Ceberano, Spiderbait, The Living End, dan Vika & Linda. “Mereka semua telah membentuk lanskap musik Australia melalui lagu-lagu luar biasa, penampilan panggung memukau, serta sukacita dan emosi yang telah mereka berikan,” ujar Herd, sambil mengingatkan para hadirin untuk bersiap-siap dengan tisu karena momen emosional tak terhindarkan.
Namun, perayaan ini tidak bisa lepas dari bayang-bayang AI. Herd menyoroti bagaimana pesawat-pesawat berisi CEO perusahaan AI dan teknologi hilir mudik ke Canberra, menawarkan investasi besar dengan imbalan “penyesuaian kecil” pada undang-undang hak cipta – penyesuaian yang berarti menanggalkan kontrol dan izin dari seniman.
Perspektif Herd sangat tajam: “Bagi seniman dan pemegang hak cipta, salah langkah berarti kehilangan persetujuan dan kendali atas bagaimana karya mereka digunakan oleh AI. Terpaksa menyaksikan karya hidup menghilang ke dalam produk AI orang lain, dieksploitasi dan dimonetisasi tanpa izin atau pembayaran yang adil.” Ia bahkan menggarisbawahi potensi kerusakan tak terbayangkan jika AI mendapatkan akses bebas untuk mengeksploitasi kekayaan budaya dan narasi First Nations selama ribuan generasi.
“Sebuah negara dengan budaya kreatif dan media sekuat Australia tidak akan menulis ulang undang-undangnya atas nasihat dari mereka yang paling diuntungkan dari pembongkarannya. Perusahaan teknologi tidak menentukan bagaimana musik seorang seniman digunakan, dengan syarat apa, atau dengan harga berapa. Itu adalah hak prerogatif seniman dan pemilik hak cipta,” tegasnya.
Perlawanan yang Teguh di Tengah Arus Digital
Herd menyampaikan apresiasi mendalam kepada Menteri Burke, Jaksa Agung Michelle Rowland, dan pihak lain yang telah “berdiri teguh” bersama para kreator di tengah tekanan besar ini. Pesannya jelas: “Tetaplah teguh!” Ini adalah seruan solidaritas bagi para pencipta di seluruh dunia yang menghadapi tantangan serupa.
Namun, malam itu juga menjadi penegasan bahwa ada ruang untuk merayakan kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk teknologi. “Malam ini, mari kita tinggalkan AI di luar pintu dan hidup sepenuhnya di momen spesial dan sangat manusiawi ini,” ajaknya. Ia mendorong hadirin untuk menikmati musik, menunjukkan cinta pada para legenda, dan menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang tak tergantikan. Semangat inilah yang membuat industri musik tetap relevan, bahkan di era AI.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada tim ARIA, tim produksi, dan kru siaran yang telah bekerja keras mewujudkan malam apresiasi ini. Partisipasi ABC dalam menyiarkan acara ini ke seluruh Australia juga disorot. Intinya, ini adalah momen kebersamaan, perayaan warisan, sekaligus pengingat akan perjuangan kolektif untuk menjaga integritas seni di era digital yang terus berubah.

