Bagi siapa saja yang tumbuh besar di era rental PlayStation 2 atau masa keemasan PC gaming dekade dua ribuan, membeli sebuah game fisik selalu melibatkan serangkaian ritual sakral yang menyenangkan. Ada kenikmatan tersendiri saat kita merobek segel plastik mika bening yang masih kencang, menghirup aroma khas pabrik cetakan kertas panduan warna-warni, lalu mendengar bunyi klik mantap saat kepingan cakram optik dilepas dari dudukannya. Kotak plastik tersebut bukan sekadar kemasan pelindung, melainkan monumen fisik yang bisa dipajang gagah di rak dinding kamar tidur sebagai bukti bahwa karya seni digital tersebut sah menjadi hak milik kita selamanya.

Namun, di panggung industri hiburan modern bernilai ribuan triliun rupiah hari ini, ritual sakral tersebut resmi disulap menjadi lelucon paling absurd yang memeras dompet konsumen.

Sebagaimana dicatat dalam laporan investigasi Polygon pekan ini, gelombang pengiriman kotak edisi fisik Grand Theft Auto 6 dilaporkan telah mulai mendarat di gudang jaringan ritel raksasa MediaMarkt di Jerman. Karyawan toko yang terlampau antusias bahkan tak tahan untuk tidak memamerkan kotak pembungkus tersebut di linimasa media sosial Instagram, memperlihatkan poster bonus pra-pesan, potret duo karakter protagonis Jason dan Lucia di negara bagian fiksi Leonida, hingga peringatan wajib soal fitur pembelian dalam game. Namun di balik kehebohan memegang kotak yang konon paling dinantikan oleh peradaban gamer sedunia itu, terselip satu fakta pahit yang mengundang tawa miris: di dalam kotak plastik seharga jutaan rupiah tersebut, sama sekali tidak ada keping cakram Blu-ray.

Penerbit kenamaan Rockstar Games rupanya memilih skema distribusi kode dalam boks (code-in-box). Artinya, para penggemar yang rela mengantre di depan pintu toko atau membayar biaya kurir ekspedisi ke rumah mereka hanyalah membeli sepotong limbah polikarbonat kosong yang memuat secarik kertas voucer berisi deretan digit huruf dan angka. Kertas tersebut nantinya tetap mewajibkan pembeli menyalakan sambungan internet berkecepatan tinggi demi mengunduh berkas instalasi digital raksasa yang ukurannya diprediksi menembus ratusan gigabita.

Ilustrasi promosi game Grand Theft Auto 6 yang memperlihatkan visual karakter Jason dan Lucia di kota Leonida
Ilustrasi promosi game Grand Theft Auto 6 yang memperlihatkan visual karakter Jason dan Lucia di kota Leonida

Langkah culas ini menjadi cermin paling telanjang tentang bagaimana korporasi game memperlakukan konsep kepemilikan konsumen di era serba digital. Para petinggi industri ingin menikmati manisnya margin keuntungan dari penjualan fisik di toko ritel konvensional, tetapi di saat bersamaan enggan menanggung ongkos pencetakan cakram data berkapasitas ganda. Konsumen seakan ditipu oleh ilusi kepemilikan semu: Anda memegang kotak di tangan, tetapi Anda sejatinya tidak memiliki apa-apa selain izin sewa sementara yang bisa dicabut sewaktu-waktu oleh penyedia layanan. Kejengkelan gamer terhadap tipu muslihat semacam ini sejalan dengan kekhawatiran banyak pihak saat harga game yang diprediksi bakal makin mencekik demi memuaskan target pendapatan para pemegang saham di Wall Street.

Bagi komunitas gamer di tanah air yang sehari-hari harus berakrobat dengan kecepatan internet pas-pasan dan kuota bulanan yang sering sekarat sebelum gajian, skema kotak kosong ini terasa seperti lelucon yang tak lucu sama sekali. Selama ini, alasan utama orang bersikeras membeli edisi kepingan fisik adalah agar mereka tidak perlu membuang waktu berhari-hari menyedot puluhan gigabita data dari server pusat yang rawan mengalami kegagalan unduhan. Jika pada akhirnya pemain tetap diwajibkan menyedot seluruh aset grafis resolusi tinggi melalui koneksi kabel, lantas apa faedahnya memproduksi wadah plastik yang cuma memperparah tumpukan sampah lingkungan hidup?

Kondisi inilah yang membuat semakin banyak komunitas pemain di Indonesia yang rela pasang badan menunggu versi komputer sembari tetap menikmati pustaka game lama mereka, ketimbang tergesa-gesa merogoh tabungan belasan juta rupiah demi membeli mesin konsol anyar. Di mata gamer kasual yang berkepala dingin, tren belanja perangkat keras dan kotak pajangan hampa udara ini tampak seperti kompetisi pamer gengsi yang tak berujung pangkal.

Jika korporasi raksasa tanpa rasa malu menjual kotak plastik kosong hanya untuk membungkus sebaris tautan unduh, jangan heran jika suatu hari nanti kita membeli konsol game anyar di toko elektronik dan hanya mendapati sepucuk kartu ucapan selamat datang dari sang direktur utama.