Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

AI Era: Apple’s Former CEO Says OpenAI Is Its First Real Competitor in Decades

Dunia teknologi lagi rame nih. Apple, si raksasa buah apel yang dulu merajai jagat gadget, tiba-tiba dikabarkan ketar-ketir. Bukan karena iPhone layarnya retak, tapi karena munculnya rival baru bernama OpenAI. Mantan CEO Apple, John Sculley, bahkan bilang OpenAI ini “kompetitor sejati” pertama Apple setelah sekian lama. Wah, gawat nih, kira-kira apa yang bikin Apple sampai mrengut begini?

Apple vs. OpenAI: Pertarungan Generasi?

Buat yang belum kenal OpenAI, mereka ini biang kerok di balik ChatGPT, si chatbot pintar yang bisa nulis puisi sampai bikin kode program. Nah, Sculley merasa Apple agak ketinggalan kereta dalam urusan AI ini. Sementara perusahaan lain kayak Google, Amazon, dan Meta terus update produk AI mereka, Apple justru sempat nunda peluncuran fitur Siri yang baru. Waduh, kenapa nih?

Kita tahu lah ya, Apple terkenal dengan produk yang kece dan desain yang minimalis. Tapi, di era AI ini, kayaknya bukan cuma itu yang penting. Pengguna sekarang pengen teknologi yang adaptif, personal, dan bisa bantu mereka ngelakuin banyak hal secara otomatis. Istilah kerennya sih, “agentic AI”.

Dari Pepsi Challenge ke AI Challenge

John Sculley sendiri bukan orang sembarangan. Dulu, dia yang bawa Apple ke puncak kejayaan lewat kampanye marketing “Pepsi Challenge” yang legendaris. Tapi, hubungannya dengan Steve Jobs nggak selalu mulus. Jobs bahkan sempat keluar dari Apple gara-gara konflik dengan Sculley dan dewan direksi. Drama banget, kan?

Sekarang, Sculley bilang CEO Apple saat ini, Tim Cook, mungkin aja mau pensiun. Siapapun penggantinya nanti, tugasnya berat: membawa Apple dari era aplikasi ke era agentic AI. Soalnya, menurut Sculley, di masa depan kita nggak butuh banyak aplikasi. Semua bisa dikerjain sama agen pintar. Bayangin, punya asisten pribadi yang selalu siap sedia di saku celana. Mantap!

Era “Agentic AI”: Saatnya Langganan?

Agentic AI ini intinya teknologi yang bisa bertindak kayak agen. Mereka bisa ngerjain tugas kompleks secara otomatis atas nama kita. Nah, Sculley bilang ini bakal bikin banyak perusahaan teknologi beralih ke model bisnis langganan. Dulu, di era aplikasi, kita beli aplikasi kayak beli alat. Sekarang, kita langganan biar alat itu terus berfungsi dan makin pintar.

Jony Ive Pindah Haluan ke OpenAI

Eh, tapi ada kabar menarik lainnya nih. Mantan kepala desain Apple, Jony Ive, ternyata sekarang gabung ke OpenAI! OpenAI bahkan mengakuisisi startup milik Ive senilai lebih dari 6 miliar dolar AS. Gede banget, kan? Ive bilang dia pengen bikin perangkat AI yang bisa mengatasi masalah yang disebabkan sama smartphone dan tablet. Wah, kira-kira bentuknya bakal kayak apa ya?

Sculley sendiri kagum banget sama Ive. Dia bilang Ive ini orang yang bertanggung jawab di balik desain iMac, iPod, iPhone, dan iPad. “Kalau ada orang yang bisa bawa dimensi itu ke LLM (Large Language Model), ya mungkin Jony Ive, kerja sama dengan Sam Altman,” kata Sculley. LLM itu kayak mesin pintar yang jadi otak di balik AI.

Apple: Inovasi atau Nostalgia?

Lalu, apa artinya semua ini buat Apple? Apakah Apple bakal ketinggalan di era AI? Atau mereka punya kejutan lain yang belum kita tahu? Kita tahu Apple jago banget bikin produk yang seamless dan gampang dipakai. Tapi, di era AI, kayaknya itu aja nggak cukup. Pengguna pengen sesuatu yang lebih dari sekadar alat. Mereka pengen partner yang bisa bantu mereka ngerjain sesuatu.

Siri: Sudah (Cukup) Pintarkah Kamu?

Salah satu contohnya ya Siri. Dulu, Siri ini dipuji-puji sebagai asisten virtual yang revolusioner. Tapi, sekarang banyak yang bilang Siri kurang pintar dibanding asisten virtual lainnya. Bahkan, ada yang bilang Siri lebih cocok jadi bahan meme daripada asisten beneran. Pedih!

Apple memang punya banyak sumber daya dan talenta. Tapi, mereka juga punya tantangan besar: mengubah budaya perusahaan yang selama ini fokus ke desain dan user experience. Mereka harus bisa bikin produk AI yang nggak cuma cantik, tapi juga pintar dan berguna. Kalau nggak, ya siap-siap aja disalip sama OpenAI dan perusahaan AI lainnya.

Saatnya Apple “Level Up”?

Pertanyaannya sekarang, apakah Apple siap “level up” di era AI ini? Atau mereka bakal terus nyaman dengan status quo dan jadi pemain nostalgia? Kita tunggu aja gebrakan mereka selanjutnya. Yang jelas, persaingan di dunia teknologi makin seru nih. Siapa yang bakal jadi raja AI berikutnya? Kita lihat saja nanti.

Intinya sih, Apple nggak bisa lagi santai-santai. Mereka harus segera berbenah diri dan bikin inovasi yang bener-bener mind-blowing. Kalau nggak, ya nasibnya bisa kayak Nokia atau BlackBerry: dulu merajai pasar, sekarang cuma jadi kenangan. Ngeri!

Previous Post

Taylor Swift Dibenci? 11 Alasan Tersembunyi di Balik Kebencian Itu Terungkap

Next Post

Kualifikasi Piala Dunia: UEFA Pertimbangkan Format Liga Champions, Apa Dampaknya?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *