Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

AI Sempat Bikin Ciut, Saham Siber Kini Jadi ‘Harta Karun’ Murah

Industri teknologi, terutama yang berbau kecerdasan buatan (AI), pernah jadi primadona di Wall Street beberapa tahun lalu. Investor rela merogoh kocek dalam-dalam demi saham-saham berteknologi canggih. Namun, memasuki tahun 2026, lanskap berubah drastis. Sebuah fenomena yang disebut “great rotation” oleh para analis pasar modal membuat saham-saham teknologi, termasuk di sektor keamanan siber, terjun bebas. Nah, bagi investor cerdik yang jeli melihat peluang, momen ini justru jadi kesempatan emas untuk berburu saham dengan valuasi menarik. Anggap saja ini momen “beli saat diskon besar-besaran”, karena di era digital seperti sekarang, keamanan siber itu bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan primer untuk berselancar di dunia maya dengan aman. Prediksi pasar pun menunjukkan bahwa industri ini akan meroket dari nilai $248 miliar di tahun 2026 menjadi $699 miliar pada 2034. Ini bukan angka main-main, ini adalah gambaran masa depan yang menjanjikan.

Bahkan, para petinggi perusahaan pun tak ragu menunjukkan kepercayaan mereka. Nikesh Arora, CEO Palo Alto Networks, sebuah nama besar di kancah keamanan siber, baru saja memborong saham perusahaannya senilai kurang lebih $10 juta pada Maret lalu. Ini adalah kali pertama ia melakukan pembelian saham sejak 2019. Keputusan strategis ini menggarisbawahi keyakinan terhadap prospek cerah sektor keamanan siber, terlepas dari gejolak pasar yang ada. Alih-alih panik, para pemain kunci justru melihat ini sebagai momentum untuk memperkuat posisi mereka.

Siber Itu Tangguh, Bukan Sekadar Tren Sesaat

Di awal 2026, sempat beredar narasi bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan peran perusahaan keamanan siber. Argumennya, AI bisa melakukan pekerjaan yang sama, bahkan lebih efisien. Namun, realitasnya jauh dari itu. Banyak faktor krusial yang membantah kemungkinan AI mengambil alih sepenuhnya dalam waktu dekat.

Pertaruhan di dunia digital terlalu tinggi untuk sekadar menyerahkan keamanan infrastruktur vital kepada solusi AI yang belum teruji sepenuhnya. Bayangkan saja, menyerahkan kunci brankas digital Anda kepada robot yang baru lulus dari akademi siber. Itu sama saja mengundang malapetaka. Insiden teknis yang pernah menimpa CrowdStrike pada 2024, yang mengakibatkan gangguan global pada maskapai penerbangan, bank, dan rumah sakit, menjadi bukti nyata betapa sentralnya peran keamanan siber dalam ekosistem digital saat ini. Kesalahan kecil di sektor ini bisa berakibat fatal bagi banyak lini kehidupan.

Daripada bersaing dengan AI, skenario yang lebih mungkin terjadi adalah kolaborasi. Perusahaan-perusahaan keamanan siber justru akan bersinergi dengan para pengembang AI. Palo Alto Networks dan SentinelOne, dua raksasa di industri ini, misalnya, sudah menjalin kerja sama dengan Google Cloud milik Alphabet. Tujuannya jelas: memastikan infrastruktur AI yang kian masif terproteksi dari ancaman siber yang tak terhitung jumlahnya.

Palo Alto Networks Stock Quote

Today’s Change

(1.80%) $2.95

Current Price

$167.06

Lebih lanjut, banyak perusahaan keamanan siber yang memang sudah lebih dulu mengintegrasikan AI ke dalam produk mereka. SentinelOne adalah contoh nyata. Sejak awal berdiri, mereka telah membangun AI sebagai jantung dari seluruh sistem yang mereka tawarkan. Ini menunjukkan bahwa AI bukan ancaman, melainkan alat yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan digital.

Pilihan Cerdas: Saham Keamanan Siber yang Patut Dilirik

Penjualan yang terus meroket dari berbagai perusahaan keamanan siber menjadi indikator kuat bahwa permintaan akan layanan mereka tetap tinggi. Ambil contoh Palo Alto Networks, yang mencatat pertumbuhan pendapatan 15% secara tahunan di kuartal kedua fiskalnya yang berakhir 31 Januari, mencapai $2.6 miliar. Angka ini menunjukkan daya tahan dan relevansi mereka di pasar yang terus berubah.

SentinelOne pun tak kalah gemilang. Pendapatan mereka di kuartal keempat fiskal yang berakhir 31 Januari menembus $271.2 juta, naik 20% dari tahun sebelumnya. Pencapaian ini membawa mereka melampaui rekor pendapatan tahunan lebih dari $1 miliar untuk pertama kalinya. Ini bukan sekadar angka, ini adalah validasi atas strategi dan eksekusi mereka di tengah persaingan yang ketat.

SentinelOne Stock Quote

Today’s Change

(5.05%) $0.67

Current Price

$13.93

Selain kedua nama di atas, Zscaler, spesialis keamanan cloud dengan pendekatan zero-trust, juga mengalami penurunan harga saham yang signifikan tahun ini. Namun, performa bisnisnya tetap mengesankan. Di kuartal kedua fiskalnya yang berakhir 31 Januari, Zscaler membukukan pertumbuhan pendapatan 26% year-over-year, mencapai $815.8 juta. Angka ini menunjukkan bahwa fundamental bisnis mereka tetap kokoh, meskipun pasar saham bergejolak.

Zscaler Stock Quote

Today’s Change

(2.53%) $3.32

Current Price

$134.33

Pendapatan yang dilaporkan oleh Palo Alto Networks, SentinelOne, dan Zscaler jelas menunjukkan bahwa bisnis mereka sedang berkembang pesat. Kini, mari kita bandingkan dengan valuasi saham mereka, yang tercermin dalam rasio harga terhadap penjualan (price-to-sales ratio atau P/S ratio).

S PS Ratio Chart

Data by YCharts.

Grafik tersebut menunjukkan bahwa saham ketiga perusahaan tersebut diperdagangkan pada kelipatan penjualan yang mendekati level terendah dalam beberapa tahun terakhir. SentinelOne dan Zscaler terlihat sangat menarik karena rasio P/S mereka anjlok drastis, mengindikasikan sahamnya sedang dalam posisi sangat murah. Dengan industri keamanan siber yang diproyeksikan terus berkembang pesat dan banyak perusahaan di sektor ini yang diperdagangkan pada valuasi rendah, mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai melirik dan mengakuisisi saham-saham ini.

Robert Izquierdo memiliki posisi di Alphabet, CrowdStrike, Palo Alto Networks, dan SentinelOne. The Motley Fool memiliki posisi dan merekomendasikan Alphabet, CrowdStrike, SentinelOne, dan Zscaler. The Motley Fool merekomendasikan Palo Alto Networks. The Motley Fool memiliki kebijakan pengungkapan.

Previous Post

Walikota New York: Uang Jualan Lagu Rap Tak Seberapa, Cuan Gaji Lebih Menggiurkan

Next Post

Dokter ‘Nyinyir’: Pasien Sickle Cell Cell Dapat Perlakuan Berbeda

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *