Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Alex Skolnick (Testament) Ungkap Persaingan Band Thrash Era 80an & Formasi Gitar Ganda

Dunia permusikan itu kayak hubungan percintaan. Ada kalanya manis kayak madu, ada kalanya pahit kayak kopi tanpa gula, dan ada kalanya… saling sindir di media sosial. Nah, gitaris Testament, Alex Skolnick, baru-baru ini buka kartu soal “vibes” antar band thrash metal di era ’80-an. Apakah rivalitasnya segalak kucing berantem atau malah adem ayem kayak reunian keluarga?

Era Thrash Metal: Lebih Akur daripada Akun Gosip?

Skolnick, dalam wawancaranya dengan Tone-Talk, memberikan pandangan yang cukup mengejutkan. Alih-alih perang dingin ala Game of Thrones, ternyata band-band thrash metal lebih banyak saling support. Alasannya sederhana: tiap band punya ciri khas masing-masing. Metallica dengan speed metalnya, Slayer dengan riff-riff nerakanya, Anthrax dengan gaya yang lebih nge-groove… semuanya punya “rasa” yang beda. Jadi, ngapain juga saling sikut kalau rezeki udah ada yang ngatur?

Namun, bukan berarti nggak ada drama sama sekali. Skolnick mengakui sempat merasakan “panasnya” persaingan saat vokalis Legacy (band sebelum Testament) dibajak oleh Exodus. Wah, ini sih kayak gebetan direbut teman sendiri! Tapi, dari kejadian itu, Testament malah menemukan Chuck Billy, vokalis yang akhirnya jadi ikon band sampai sekarang. Kadang, musibah memang bisa jadi berkah tersembunyi, ya kan?

Ketika Vokalis Jadi Rebutan: Sebuah Pelajaran dari Dunia Thrash

Kisah pembajakan vokalis ini jadi menarik karena menunjukkan dinamika unik di scene thrash metal kala itu. Di satu sisi, ada persaingan untuk menjadi yang terbaik. Di sisi lain, ada semacam kode etik nggak tertulis untuk saling menghormati. Mungkin karena sama-sama berangkat dari “garasi”, jadi solidaritasnya lebih kental. Atau mungkin juga karena semua personelnya masih pada doyan minum bir bareng. Siapa tahu?

Yang jelas, Skolnick menekankan bahwa persaingan itu hanya terjadi sesaat. Setelah masing-masing band menemukan identitasnya, semuanya kembali akur. Toh, pada akhirnya, tujuan mereka sama: menggebrak dunia dengan musik yang keras, cepat, dan bertenaga. Kayak kata pepatah, “bersatu kita teguh, bercerai kita… bikin band baru.”

Dilema Dua Gitar: Lebih Seru daripada Dua Hati?

Selain soal persaingan, Skolnick juga membahas soal dinamika band dengan dua gitaris. Ini nih, kayak punya dua kapten di satu tim sepak bola. Harus ada pembagian tugas yang jelas biar nggak tabrakan. Di Testament sendiri, Skolnick dan Eric Peterson punya peran yang berbeda. Peterson lebih condong ke riff-riff ala Motörhead dan Venom, sementara Skolnick lebih ke melodi-melodi ala Van Halen dan Randy Rhoads.

Tapi, seiring berjalannya waktu, Peterson mulai mengembangkan gaya solonya sendiri. Skolnick menganalogikannya dengan Megadeth: Peterson seperti Dave Mustaine yang “raw”, sementara dirinya seperti Marty Friedman atau Kiko Loureiro yang lebih “virtuoso”. Intinya, harus ada fleksibilitas dan saling pengertian. Jangan sampai kayak rebutan remote TV, ujung-ujungnya malah nggak ada yang nonton.

Dari Satriani Hingga Osbourne: Jejak Karir Skolnick yang Nggak Kaleng-kaleng

Buat yang belum tahu, Skolnick ini bukan gitaris sembarangan. Dia pernah berguru pada Joe Satriani, barengan sama Steve Vai dan Kirk Hammett (Metallica). Bahkan, dia sempat main bareng Ozzy Osbourne di Inggris. Artinya, skillnya emang udah di atas rata-rata. Nggak heran kalau dia bisa eksplorasi berbagai genre, dari thrash metal sampai jazz.

Skolnick sendiri bergabung dengan Testament di usia yang sangat muda, 16 tahun. Setelah 8 tahun bersama band, dia memutuskan untuk kuliah jazz di New School for Jazz and Contemporary Music. Ini menunjukkan bahwa dia nggak cuma jago gebuk gitar, tapi juga punya wawasan musik yang luas. Kayak pesepak bola yang nggak cuma jago nendang bola, tapi juga ngerti taktik dan strategi.

ALEX SKOLNICK TRIO: Ketika Metal Bertemu Jazz, Lahirlah Keajaiban

Selain Testament, Skolnick juga punya proyek jazz-rock bernama ALEX SKOLNICK TRIO (AST). Band ini baru aja merilis album keenam, “Prove You’re Not A Robot”. Di AST, Skolnick lebih bebas bereksplorasi dengan berbagai elemen musik, dari Wes Montgomery hingga Black Sabbath, dari Prince hingga tango. Hasilnya? Musik yang unik, kompleks, dan penuh kejutan.

Lebih dari Sekadar Gitaris: Skolnick dan Segudang Proyeknya

Skolnick memang seorang musisi yang serba bisa. Selain main di Testament dan AST, dia juga pernah jadi sideman buat penyanyi Ishtar (Alabina) dan penyanyi folk Yahudi, Debbie Friedman. Dia juga pernah jadi bintang tamu di album Rodrigo y Gabriela. Ini membuktikan bahwa dia nggak cuma jago di satu genre, tapi juga terbuka untuk kolaborasi dengan berbagai musisi dari berbagai latar belakang.

Berkaca dari Skolnick: Adaptasi Itu Kunci

Dari cerita Skolnick, kita bisa belajar banyak hal. Pertama, persaingan itu wajar, tapi jangan sampai bikin kita lupa untuk saling menghormati. Kedua, fleksibilitas dan adaptasi itu penting, terutama di dunia yang terus berubah. Ketiga, jangan pernah berhenti belajar dan bereksplorasi. Siapa tahu, dari eksperimen itu, kita bisa menemukan sesuatu yang baru dan unik.

Skolnick membuktikan bahwa musisi metal pun bisa bergaul akrab, bahkan saling mendukung. Bahwa dalam band dua gitaris, ego harus diredam demi harmoni. Dan yang terpenting, bahwa musik itu nggak punya batasan. Jadi, tunggu apa lagi? Gebrak dunia dengan karya lo sendiri!

Previous Post

Street Fighter 6: HandScar Ungkap Tier List Tingkat Kesulitan Karakter!

Next Post

Sisters Of Battle Comeback! Army Set Ikonik 2019 Hadir Lagi, Sikat Sekarang!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *