Jutaan Euro digelontorkan, tapi bukan untuk membeli skin langka di game favorit. Universitas Oslo, lewat Profesor Srdjan Djurovic, menerima suntikan dana fantastis senilai NOK 40 juta (sekitar €3.5 juta) demi misi mulia: memburu penjahat tersembunyi di dalam darah yang berpotensi merusak otak. Tujuannya? Mengendus Alzheimer jauh sebelum otak bertingkah aneh, bahkan idealnya, mencegahnya datang sama sekali. Bayangkan, di saat orang lain masih sibuk memikirkan cicilan rumah atau drama percintaan yang tak kunjung usai, para ilmuwan ini sudah sibuk mengintai si penyebab pikun di tingkat seluler. Sungguh pekerjaan yang jauh lebih seru ketimbang nonton maraton serial drama, bukan?
Mengorek Rahasia Darah untuk Menjinakkan Alzheimer
Perjalanan Alzheimer itu licik; ia merayap pelan selama bertahun-tahun, baru menunjukkan taringnya ketika kerusakan sudah parah. Diagnosis seringkali datang terlambat, saat otak sudah tak bisa diajak kompromi lagi. Sayangnya, obat mujarab yang bisa memutar balik waktu belum ditemukan, sementara jumlah penderita di seluruh dunia terus membengkak bak pertumbuhan akun buzzer di media sosial. Proyek baru ini membawa pertanyaan krusial: bagaimana jika kita bisa memperlambat, atau bahkan menghentikan, kedatangan sang tamu tak diundang ini?
Profesor Srdjan Djurovic, yang bernaung di bawah Centre for Precision Psychiatry (SPP) Universitas Oslo (UiO) dan Departemen Genetika Medis Rumah Sakit Universitas Oslo (OUS), didapuk oleh Dewan Riset Norwegia (RCN) dengan dana segar yang luar biasa. Ia memimpin upaya identifikasi biomarker kunci yang mampu memprediksi Alzheimer jauh sebelum gejala muncul. Caranya? Mengawinkan metode riset inovatif dengan data pasien skala besar. Djurovic optimis, “Ini bisa jadi penentu untuk pencegahan dini dan memecahkan rekor cara diagnosis serta penanganan Alzheimer.” Kata-katanya terdengar seperti strategi kemenangan dalam sebuah match kompetitif, menargetkan titik lemah musuh sebelum pertempuran dimulai.
Proyek ambisius bertajuk “Multimodal metabolic markers for mechanisms and predictive trajectories of Alzheimer’s disease” ini menjadi momen bersejarah; RCN untuk pertama kalinya memberikan dana proyek khusus untuk membangun lingkungan riset kelas dunia di Norwegia. “Dana ini sebuah kehormatan besar, dan sebuah kesenangan bisa bekerja sama dengan rekan-rekan yang sangat terampil,” ujar Djurovic, menyebutkan nama Centre for Precision Psychiatry yang diketuai Profesor Ole A. Andreassen, Departemen Genetika Medis, serta kelompok riset terkemuka lainnya di Norwegia dan Skandinavia. Ini bukan sekadar kolaborasi, melainkan pembentukan squad elit yang siap menghadapi tantangan global.
Membaca Risiko Sebelum Otak Terlambat
Agar pencegahan bukan sekadar mimpi di siang bolong, para klinisi butuh alat andal untuk mengenali siapa yang berpotensi terserang Alzheimer sebelum kerusakan saraf tak bisa diperbaiki. Maka, Djurovic dan timnya bertekad membongkar tanda-tanda biologis Alzheimer yang muncul sebelum gejala klinis bertamu.
Tantangan terbesar adalah kita belum tahu cara terbaik memprediksi apakah seseorang akan terkena Alzheimer dalam waktu dekat. Mengidentifikasi penanda awal risiko penyakit sangat krusial untuk diagnosis dini. Setelah itu, individu berisiko tinggi bisa segera diarahkan untuk pengobatan atau intervensi pencegahan.
Profesor Srdjan Djurovic, Centre for Precision Psychiatry (SPP), University of Oslo
Para peneliti punya hipotesis: penanda metabolik dan protein herediter dalam darah bisa jadi indikator awal risiko Alzheimer. Hipotesis ini akan diuji menggunakan teknologi analisis sampel darah yang canggih. Percobaan ini seperti membedah log game untuk menemukan pola kecurangan, hanya saja skalanya jauh lebih masif dan dampaknya bagi kemanusiaan.
“Kita akan seperti ‘kembali ke masa lalu’ dengan menganalisis sampel darah dari studi populasi Norwegia terdahulu,” jelas Djurovic. Sampel-sampel ini dikumpulkan bertahun-tahun sebelum partisipan mungkin mengembangkan Alzheimer, memberikan para peneliti akses ke data jangka panjang yang tak ternilai. Data sampel darah ini kemudian akan disandingkan dengan informasi dari registri kesehatan nasional, yang melacak partisipan sepanjang hidup mereka, termasuk siapa saja yang kemudian didiagnosis Alzheimer.
“Dengan menghubungkan sampel darah historis dengan data registri dari bertahun-tahun kemudian, kami berharap dapat mengidentifikasi biomarker berbasis darah yang terkait dengan perkembangan Alzheimer,” papar Djurovic. Ini adalah tugas detektif tingkat tinggi, mencari petunjuk tersembunyi dalam arsip biologis masa lalu.
Kapan Darah Mulai Berteriak Ada yang Salah?
Untuk biomarker yang paling menjanjikan, Djurovic dan timnya akan mengukur seberapa akurat penanda tersebut dalam memprediksi Alzheimer dari waktu ke waktu menggunakan dataset pasien besar. Selanjutnya, mereka akan mempelajari bagaimana biomarker ini berkorelasi dengan penurunan klinis dan perubahan di otak. Para peneliti juga akan melacak perkembangan biomarker mundur ke belakang dari titik diagnosis. “Dengan mengikuti biomarker dari diagnosis lalu mundur ke belakang, kita akan bisa mengidentifikasi momen ketika setiap penanda mulai menyimpang dari level normal,” kata Profesor Djurovic. Demi mencapai ini, proyek akan menggabungkan berbagai jenis data: faktor genetik dan lingkungan yang bergantung usia, metabolomik, proteomik, tes kognitif, pencitraan otak MRI, dan pengukuran darah berulang dari waktu ke waktu. Ini seperti mengumpulkan semua item dan clue dalam sebuah investigasi mendalam.
Menciptakan “Avatar” Alzheimer Pribadi untuk Prediksi
Proyek ini berpotensi menghasilkan sebuah “avatar Alzheimer” pribadi: sebuah algoritma yang mengombinasikan informasi genetik, faktor lingkungan, biomarker darah, pencitraan otak, dan data kognitif untuk menciptakan profil risiko individu. Alat ini dapat membantu memprediksi apakah, dan kapan, seseorang berisiko mengembangkan Alzheimer. “Alat semacam ini dapat membantu dokter mengantisipasi kapan gejala kemungkinan besar akan dimulai, dan memutuskan siapa yang harus ditawari tindakan pencegahan atau diundang untuk berpartisipasi dalam uji klinis,” jelas Djurovic. Proyek ambisius ini bisa memberikan wawasan krusial mengenai apa yang memicu Alzheimer, menyoroti target baru untuk obat-obatan, serta mendukung pengembangan terapi atau intervensi yang dapat menunda timbulnya penyakit, baik di Norwegia maupun di seluruh dunia. Ini adalah upaya untuk membangun “mesin prediksi” penyakit yang dulu dianggap tak terhindarkan.


