Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Apple Vision Pro: Pelajari Produksi Immersive Gratis & Headset Dual Strap yang Bikin Nyaman!

Bayangkan, punya gadget canggih yang bisa membawa kita ke mana saja tanpa beranjak dari sofa. Kedengarannya seperti mimpi kaum rebahan, kan? Tapi tunggu dulu, mimpi ini ternyata butuh “bensin” yang nggak murah. Apple Vision Pro, headset VR/AR impian banyak orang, ternyata punya dunia tersembunyi di balik layarnya yang memukau. Bukan cuma soal teknologi, tapi juga produksi konten yang bikin geleng-geleng kepala. Siap-siap, kita akan menyelami dunia di mana video 10 menit bisa bikin hard disk menjerit minta ampun.

Apple Vision Pro: Bukan Sekadar Gadget Mahal

Apple Vision Pro memang bukan barang baru, tapi dampaknya di dunia konten immersive baru terasa sekarang. Bayangkan, sebuah perangkat yang menjanjikan pengalaman visual dan audio tingkat dewa. Tapi, seperti mobil mewah yang butuh bahan bakar berkualitas, Vision Pro juga menuntut konten yang nggak kaleng-kaleng. Dan di sinilah masalahnya mulai muncul. Membuat konten untuk Vision Pro ternyata lebih rumit dari sekadar merekam video biasa. Kita bicara soal teknik pengambilan gambar, mixing audio, hingga optimasi kompresi yang bikin otak berasap.

Minggu lalu, Apple mengadakan presentasi tentang pembuatan konten immersive untuk Vision Pro. Kabar baiknya, semua materi ini bisa diakses gratis di YouTube. Kabar buruknya? Setelah melihatnya, Anda mungkin merasa lebih baik jadi tukang parkir daripada content creator immersive. Tapi tenang, Mojok hadir untuk mengupas tuntas semua kerumitan ini dengan gaya santai tapi tetap cerdas.

Dua Hari yang Mengubah Pandangan tentang Konten Immersive

Presentasi Apple dibagi menjadi dua hari. Hari pertama membahas aspek teknis dan format video, sementara hari kedua fokus pada produksi dan pasca-produksi. Jika Anda tertarik dengan video 3D 180°, kedua sesi ini sangat layak ditonton. Tapi, siapkan catatan karena istilah-istilah teknisnya bisa bikin pusing tujuh keliling. Misalnya, foveated compression optimisation. Kedengarannya seperti mantra sihir, kan? Padahal, ini cuma teknik kompresi yang memfokuskan detail pada area yang dilihat pengguna.

Victor Agulhon, salah satu pendiri Targo, memberikan presentasi menarik tentang aplikasi D-Day: The Camera Soldier. Aplikasi ini membawa kita ke masa lalu, merasakan pengalaman menjadi tentara di medan perang. Tapi, yang lebih menarik adalah bagaimana mereka menciptakan pengalaman immersive ini. Ternyata, butuh riset mendalam dan teknologi canggih untuk menghadirkan realitas yang terasa nyata.

Teknik “Nggak Curang” dan Tantangan Produksi Immersive

Hari kedua membahas teknik produksi dan pasca-produksi. Para sinematografer dan spesialis audio berbagi pengalaman mereka dalam membuat konten immersive untuk Apple. Salah satu poin penting adalah bagaimana kita nggak bisa “curang” dalam pembuatan film immersive. Artinya, semua detail harus diperhatikan karena penonton bisa melihat ke segala arah. Nggak ada lagi trik kamera atau editing yang bisa menyembunyikan kekurangan.

Spatial Audio: Lebih dari Sekadar Suara Kiri dan Kanan

Salah satu aspek penting dalam konten immersive adalah spatial audio. Ini bukan sekadar suara stereo biasa. Spatial audio menciptakan pengalaman suara 3D yang membuat kita merasa seolah-olah berada di tengah-tengah adegan. Misalnya, suara burung berkicau di atas kepala atau suara langkah kaki mendekat dari belakang. Untuk menciptakan efek ini, para ahli audio menggunakan teknik canggih untuk merekam dan mixing suara. Apple bahkan merilis Apple Spatial Audio Format Production Suite (AAX) untuk Pro Tools, memudahkan para profesional untuk bekerja dengan spatial audio.

Rahasia di Balik Musik Video “Open Hearts” The Weeknd

Salah satu contoh sukses konten immersive adalah musik video “Open Hearts” The Weeknd. Video ini memukau banyak orang dengan visual yang unik dan pengalaman audio yang mendalam. Ternyata, di balik video ini ada proses pra-visualisasi yang rumit. Tim produksi harus merencanakan setiap detail dengan cermat untuk menciptakan pengalaman yang mulus dan imersif. Mereka menggunakan teknik khusus untuk menggabungkan kamera 3D non-immersive dengan kamera immersive, menciptakan efek visual yang menakjubkan.

Dari Metallica hingga NBA: Masa Depan Live Immersive

Apple juga bereksperimen dengan live immersive. Mereka merekam konser Metallica dengan 14 kamera immersive, menciptakan pengalaman yang luar biasa bagi para penonton. Tahun depan, mereka akan menggunakan kamera Blackmagic URSA Cine Immersive Live untuk menyiarkan pertandingan NBA secara live. Ini adalah langkah besar dalam dunia konten immersive. Bayangkan, menonton pertandingan basket seolah-olah berada di pinggir lapangan. Kita bisa melihat setiap detail, mendengar setiap suara, dan merasakan setiap emosi.

Headset Baru, Pengalaman Baru: Dual Knit Band dan Kenyamanan Vision Pro

Selain konten, Apple juga terus mengembangkan perangkat keras Vision Pro. Mereka merilis Dual Knit Band, strap kepala baru yang kompatibel dengan Vision Pro generasi pertama. Strap ini diklaim lebih nyaman daripada strap sebelumnya. Setelah mencoba sendiri, penulis setuju dengan klaim ini. Dual Knit Band mendistribusikan berat Vision Pro secara lebih merata, mengurangi tekanan pada wajah dan hidung. Bagi mereka yang sering merasa tidak nyaman saat memakai Vision Pro, strap ini bisa menjadi solusi yang tepat.

ANNAPRO: Solusi untuk Pengalaman Vision Pro Tanpa Light Seal

Penulis juga merekomendasikan ANNAPRO Pressure-Reducing Comfort Head Strap 2. Strap ini memungkinkan kita menggunakan Vision Pro tanpa Light Seal, penutup cahaya yang biasanya menempel di wajah. Tanpa Light Seal, bidang pandang menjadi lebih luas, berat depan berkurang, ventilasi lebih baik, dan kita lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Ini sangat cocok untuk aktivitas selain menonton film, seperti bekerja atau berinteraksi dengan orang lain.

Samsung Galaxy XR: Pesaing Baru di Pasar Headset Immersive

Selain Apple, Samsung juga merilis headset immersive baru, Galaxy XR. Headset ini diklaim sebagai pesaing Apple Vision Pro. Sayangnya, Galaxy XR saat ini hanya tersedia di Korea Selatan dan Amerika Serikat, jadi penulis belum bisa mencobanya sendiri. Tapi, dari spesifikasinya, Galaxy XR terlihat menjanjikan. Persaingan di pasar headset immersive semakin ketat. Ini bagus untuk konsumen karena akan mendorong inovasi dan menurunkan harga.

Netflix dan YouTube di Galaxy XR, Tapi Tidak di Vision Pro?

Salah satu hal yang membuat pemilik Apple Vision Pro merasa iri adalah dukungan aplikasi resmi Netflix dan YouTube di Galaxy XR. Padahal, Vision Pro sudah ada di pasar selama lebih dari setahun, tapi belum memiliki aplikasi resmi dari kedua platform tersebut. Google Maps juga menawarkan tampilan 3D fly-over di Galaxy XR, fitur yang membutuhkan aplikasi pihak ketiga di Vision Pro. Entah apa yang membuat Netflix dan YouTube “ogah” merapat ke Vision Pro, padahal potensi pasarnya lumayan juga.

Immersive Devices: Masih Niche, Tapi Tetap Memukau

Meskipun masih niche, perangkat immersive menawarkan pengalaman yang unik dan memukau. Mereka membawa kita ke dunia lain, merasakan sensasi yang belum pernah kita rasakan sebelumnya. Mungkin, perangkat immersive tidak akan pernah menjadi mainstream. Tapi, bagi mereka yang mencobanya, pengalaman ini akan terasa seperti keajaiban. Jadi, jika ada kesempatan, cobalah perangkat immersive. Siapa tahu, Anda akan ketagihan.

Pada akhirnya, persaingan di pasar immersive ini justru menguntungkan kita sebagai konsumen. Kita bisa menikmati teknologi yang semakin canggih, konten yang semakin beragam, dan harga yang semakin terjangkau. Walaupun dompet tetap saja menjerit.

Previous Post

Lich Grow a Garden: Cara Mendapatkan Pet Divine & Memecahkan Teka-Teki Kristal!

Next Post

Bon Jovi Kembali ke Panggung: Tur Setelah Operasi Vokal & Album Baru!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *