Ariana Grande, sang Glinda masa depan, baru-baru ini mengungkapkan keheranan kecilnya tentang merchandise film Wicked. Bukan karena jelek, tapi justru karena… ya, mari kita bilang agak *too much*. Apa yang bikin seorang Ariana Grande, yang notabene sudah kenyang asam garam dunia hiburan, sampai geleng-geleng kepala? Apakah itu boneka Elphaba yang bisa nyanyi lagu metal? Atau mungkin lipstik hijau neon rasa rumput?
Ketika Mimpi Musikal Jadi… Makaroni?
Usai dinominasikan untuk kedua kalinya di Golden Globe berkat perannya sebagai Glinda, Ariana mampir ke acara Late Night with Seth Meyers. Tentu saja, obrolan nggak jauh-jauh dari film Wicked dan kesibukannya menjadi host di Saturday Night Live (SNL). Di sela-sela promosi itulah, Ariana nyeletuk soal merchandise Wicked yang baginya agak… unik. Bukan dalam artian jelek, lho. Lebih ke arah, “Ini beneran ada yang beli?”.
Dalam obrolan santai tersebut, Ariana blak-blakan soal “keganjilan” yang ia rasakan. Bayangkan, film musikal fantasi yang megah, penuh efek visual ciamik, dan cerita yang bikin baper… lalu diabadikan dalam bentuk makaroni warna pink dan hijau. Pink dan hijau, saudara-saudara! Seolah dunia Wicked ini isinya cuma Glinda dan Elphaba yang lagi party di atas tumpukan keju.
“Pink and green Mac n’ Cheese? That was when I knew, ‘Oh, this is big! It’s a little bigger than I thought,’” ujar Ariana sambil tertawa. Reaksinya ini tentu bukan tanpa alasan. Coba bayangkan, seorang penyanyi dan aktris sekelas Ariana Grande saja merasa terkejut, apalagi kita, para penonton yang cuma bisa gigit jari lihat harga tiket konser yang makin nggak masuk akal?
Dari Panggung Broadway ke… Rak Supermarket?
Tapi, tunggu dulu. Makaroni warna-warni itu ternyata bukan satu-satunya merchandise ajaib dari dunia Wicked. Konon, ada juga Swiffer mop (alat pel lantai) dengan warna senada. Jadi, sambil nyanyi lagu “Defying Gravity”, kita bisa sekalian ngepel lantai biar rumah kinclong kayak istana Glinda. Multifungsi, kan? Atau jangan-jangan, ini strategi marketing jenius dari produser film? Siapa tahu, kan, habis nonton Wicked, penonton jadi terinspirasi buat bersih-bersih rumah.
Fenomena merchandise film yang “nyeleneh” ini sebenarnya bukan barang baru. Dulu, kita pernah lihat merchandise film superhero berupa sikat gigi, handuk bergambar karakter kartun, sampai bantal dengan bentuk yang aneh-aneh. Tapi, makaroni warna pink dan hijau? Ini levelnya sudah beda. Ini sudah masuk kategori seni absurd yang bisa bikin kita mikir keras: “Apa hubungannya?”.
Wicked: Antara Ambisi Seni dan Cuan Bisnis
Munculnya merchandise Wicked yang unik ini seolah jadi simbol dari ambisi sebuah produksi film modern: bagaimana sebuah karya seni harus tetap menghasilkan pundi-pundi uang. Di satu sisi, kita bisa memahami bahwa film butuh modal besar dan pemasukan yang stabil. Tapi, di sisi lain, kita juga bertanya-tanya, apakah semua hal harus dikomersilkan? Apakah nilai seni sebuah film harus diukur dari seberapa banyak merchandise yang laku di pasaran?
Fenomena ini juga mengingatkan kita pada industri game. Dulu, kita cuma main game buat senang-senang. Sekarang, game sudah jadi ladang bisnis dengan microtransaction, loot box, dan NFT. Dulu, kita beli kaset atau CD game. Sekarang, kita beli skin, item, dan berbagai macam virtual stuff yang harganya bisa bikin dompet menjerit. Apakah ini evolusi atau devolusi?
Ketika Merchandise Lebih Viral dari Filmnya
Kita hidup di era ketika sebuah produk sampingan justru bisa lebih viral dari produk utamanya. Coba ingat lagi kasus ayam goreng McD rasa BTS. Antrean mengular, aplikasi McD crash, dan orang-orang rela begadang demi sebungkus ayam yang katanya “rasanya sama aja kayak ayam biasa”. Apakah ini bukti bahwa kita sudah terlalu konsumtif? Atau jangan-jangan, kita cuma butuh alasan buat seru-seruan?
Dalam konteks Wicked, merchandise yang “agak disturbing” ini justru bisa jadi strategi marketing yang cerdas. Dengan menciptakan produk yang unik dan kontroversial, mereka berhasil mencuri perhatian publik. Orang-orang jadi penasaran, lalu mulai membicarakan filmnya. Dan, voila! Promosi gratis pun berjalan dengan sendirinya.
Efek Makaroni Pink dan Hijau: Sebuah Refleksi Industri Kreatif
Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari kasus makaroni pink dan hijau ini? Pertama, industri kreatif itu kompleks. Ada perpaduan antara idealisme seni dan realisme bisnis. Kedua, marketing itu kadang absurd. Strategi yang aneh justru bisa jadi yang paling efektif. Ketiga, kita sebagai konsumen punya peran penting. Kita berhak memilih, memilah, dan mengkritik. Jangan cuma jadi korban tren.
Mungkin, di masa depan, kita akan melihat lebih banyak lagi merchandise film yang aneh-aneh. Mungkin, ada film horor yang merilis boneka hantu dengan aroma maut. Atau film drama romantis yang menjual tisu bekas air mata pemainnya. Siapa tahu, kan? Dunia ini memang penuh kejutan.
Antara Ariana Grande dan Kita: Sama-Sama Bingung
Reaksi Ariana Grande terhadap merchandise Wicked sebenarnya mewakili perasaan kita semua. Kadang, kita bingung dengan logika pasar. Kadang, kita mempertanyakan nilai sebuah karya seni. Kadang, kita cuma bisa geleng-geleng kepala sambil mikir, “Ini dunia mau dibawa ke mana?”.
Tapi, di tengah kebingungan itu, ada satu hal yang pasti: kita tetap butuh hiburan. Kita tetap butuh film yang bagus, musik yang asyik, dan game yang seru. Dan, kalaupun ada merchandise yang aneh, ya sudahlah. Anggap saja sebagai bumbu kehidupan yang bikin kita nggak bosen.
SNL: Pelarian Sementara dari Dunia Makaroni Pink
Sambil menunggu film Wicked tayang, dan sambil mencerna eksistensi makaroni pink dan hijau, kita bisa menyaksikan aksi Ariana Grande di Saturday Night Live. Siapa tahu, di sana, dia akan membawakan sketch tentang pengalamannya menghadapi merchandise yang “agak disturbing” itu. Atau mungkin, dia akan menyanyikan lagu tentang betapa anehnya dunia ini. Kita tunggu saja.
By the way, kira-kira, ada yang berminat buat patungan beli makaroni pink dan hijau Wicked? Buat stok cemilan sambil nungguin SNL, gitu?
Setelah Makaroni, Apa Lagi?
Jadi, pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah Ariana Grande dan makaroni pink-hijau ini? Mungkin, kita harus lebih kritis dalam mengonsumsi produk budaya. Atau, mungkin kita perlu belajar menerima bahwa dunia ini memang penuh dengan hal-hal absurd. Atau, mungkin, kita cuma perlu tertawa saja. Ya, tertawa adalah obat terbaik. Kecuali kalau kamu alergi sama warna pink dan hijau.
Intinya, dunia hiburan itu memang penuh kejutan. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, kita harus tetap siap. Siap dengan film yang bagus, musik yang asyik, dan tentu saja, merchandise yang aneh. Siapa tahu, kan, suatu saat nanti, kita akan melihat merchandise film berupa… e-wallet dengan saldo unlimited? Atau mungkin, aplikasi kencan online dengan filter “anti-ghosting”? Who knows?


