Arm Holdings, si arsitek chip yang mendadak jadi primadona bursa saham, punya cerita yang lebih dramatis dari drama Korea. Dulu, di akhir 2020, Nvidia sempat kepincut dan ingin meminang si empunya desain chip revolusioner ini seharga 40 miliar dolar dari SoftBank. Eh, sayang seribu sayang, rencana pernikahan megah itu batal di awal 2022 gara-gara Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) pasang badan. Nggak kehabisan akal, Arm malah nekat melakukan initial public offering (IPO) dan mulai diperdagangkan di bursa pada 14 September 2023. Sejak debutnya yang mendebarkan, saham Arm sudah meroket lebih dari 200%, jauh melampaui kenaikan 45% S&P 500 dalam periode yang sama. Tapi, jangan senang dulu, karena Arm punya rencana yang lebih gila lagi: menargetkan kenaikan 300% dalam lima tahun ke depan. Apa iya semudah membalikkan telapak tangan?
Image source: Getty Images.
Sang Arsitek Senyap di Balik Layar
Nama Arm Holdings mungkin tidak setenar raksasa teknologi lainnya, namun jejaknya merasuk ke setiap lini kehidupan digital. Dalam dokumen resminya, Arm mengklaim “mengarsiteki, mengembangkan, dan melisensikan produk CPU berkinerja tinggi, berbiaya rendah, dan hemat energi serta teknologi terkait.” Klaim ini bukan sekadar bualan; 99% smartphone di dunia berjalan dengan CPU buatan Arm, dan sebagian besar software global juga ditenagai oleh arsitektur mereka. Angka ini bukan mengada-ada. Nvidia, Apple, Amazon, Alphabet, Microsoft, Qualcomm, dan Advanced Micro Devices, semua raksasa ini memasukkan desain chip Arm di jantung produk mereka. Hingga kini, lebih dari 350 miliar chip berbasis Arm telah terkirim ke seluruh penjuru bumi, dan Arm merasa ini baru permulaan.
Model bisnis Arm selama ini terbukti sangat menguntungkan: mengumpulkan biaya lisensi dan royalti dari desain semikonduktor mereka yang mutakhir. Di kuartal ketiga fiskal 2026 (berakhir 31 Desember), Arm meraup pendapatan $1,2 miliar, naik 26% dari tahun sebelumnya, dengan margin kotor menembus 97%. Meskipun begitu, investasi besar-besaran di riset dan pengembangan (R&D) membuat laba bersih per saham (EPS) yang disesuaikan hanya naik 10% menjadi $0,43. Namun, pengumuman terbaru Arm diklaim akan melipatgandakan pendapatan lebih dari lima kali lipat dan mendongkrak profitabilitas ke level yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Ambisi Lima Tahun yang Penuh Daring
Investasi R&D yang masif akhirnya membuahkan hasil spektakuler. Arm baru saja mengumumkan pengembangan physical silicon pertamanya: Arm AGI CPU. Chip ini dirancang khusus untuk menangani beban kerja Artificial Intelligence (AI) di pusat data. Dengan 64 CPU di jantungnya dan 8.700 core, chip ini diklaim “dioptimalkan secara brutal” untuk aplikasi AI. Sambutan dari pemain besar industri teknologi pun tak kalah heboh; Meta Platforms, Cloudflare, SAP, dan OpenAI sudah antre untuk mengamankan suplai chip perdana ini.

Today’s Change
(-6.96%) $-10.77
Current Price
$144.03
Key Data Points
Market Cap
$153B
Day’s Range
$142.21 – $152.23
52wk Range
$80.00 – $183.16
Volume
478K
Avg Vol
6.7M
Gross Margin
94.84%
Manajemen Arm memproyeksikan penjualan Arm AGI CPU akan melonjak dalam beberapa tahun mendatang, menghasilkan pendapatan tahunan sebesar $15 miliar pada tahun fiskal 2031 (berakhir Mei 2031). Total pendapatan perusahaan diproyeksikan mencapai $25 miliar pada tahun tersebut, yang akan mendorong EPS ke angka $9. Angka ini berarti pertumbuhan pendapatan dan laba bersih lebih dari lima kali lipat dalam lima tahun. Saat ini, saham Arm diperdagangkan sekitar $157 dengan rasio P/E 206, atau 73 kali estimasi laba tahun depan. Jika target EPS $9 di 2031 tercapai dan dikalikan dengan kelipatan 73 kali yang konservatif, harga saham bisa melesat ke $657, sebuah kenaikan 318%. Tentu saja, angka-angka ini sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada variabelnya, jadi ini lebih seperti permainan angka yang menarik daripada ramalan pasti.
Realistis atau Sekadar Mimpi di Siang Bolong?
Pertanyaan krusial bagi investor adalah: apakah proyeksi Arm ini realistis atau hanya angan-angan belaka? Mari kita bedah. Arm diperkirakan akan meraup pendapatan hampir $5 miliar di tahun fiskal 2026. Untuk mencapai $10 miliar dalam lima tahun ke depan dari bisnis lama, hanya dibutuhkan pertumbuhan tahunan sebesar 15%. Angka yang cukup masuk akal sejauh ini. Tantangan terbesarnya ada pada kemampuan Arm untuk menghasilkan $15 miliar dari chip AI barunya. Manajemen mengklaim sudah ada “jalur pandang” untuk permintaan lebih dari $1 miliar untuk chip perdana, dengan potensi lebih besar menyusul. Para eksekutif Arm juga menyatakan bahwa chip baru ini ditargetkan untuk pelanggan yang tidak memiliki sumber daya atau keinginan untuk mengembangkan chip sendiri. Ini berarti tidak akan ada kanibalisasi terhadap bisnis lisensi dan royalti Arm yang sudah sangat menguntungkan. Belum lagi rumor tentang chip-chip baru lainnya yang sedang dalam pengembangan, yang bisa membuat target $15 miliar tampak jauh lebih bisa dicapai. Hanya waktu yang akan membuktikan.
Meskipun jalan Arm masih panjang dan terjal, rencananya memiliki pijakan yang kuat. Jika estimasi manajemen terbukti akurat, saham Arm saat ini diperdagangkan pada kelipatan 17 kali estimasi laba tahun 2031. Dari sudut pandang lima tahun ke depan, harga ini bisa jadi terlihat seperti barang obralan, terutama jika lini bisnis chipmaking Arm benar-benar berkembang pesat. Ada argumen kuat bahwa mengakuisisi sebagian kecil saham Arm bisa menjadi investasi yang sangat menguntungkan di masa depan.


