Pernah nggak sih merasa jadi anak bawang di tongkrongan yang isinya sultan semua? Atau mungkin merasa selera musikmu terlalu indie buat didengar bareng rombongan yang sukanya lagu-lagu di radio? Nah, Tobias Sammet, otak di balik proyek musik Avantasia, paham betul perasaan itu. Dan ternyata, kegelisahan itu justru jadi bahan bakar untuk menyatukan musisi dari berbagai belahan dunia.
Avantasia, bagi yang belum familiar, adalah proyek opera metal yang melibatkan puluhan musisi ternama dari berbagai negara. Sebut saja Jørn Lande, Michael Kiske, Bob Catley, Dee Snider, Klaus Meine, Sharon Den Adel, dan masih banyak lagi. Dari Finlandia sampai Brasil, semua tumplek blek di satu panggung. Pertanyaannya, kenapa Tobias Sammet repot-repot mengumpulkan pasukan dari berbagai penjuru dunia?
Dalam sebuah wawancara dengan Bate Cabeça, Tobias Sammet menjelaskan bahwa ide ini nggak muncul dari agenda politik tertentu. Lebih dari itu, dia percaya bahwa musik, khususnya heavy metal dan hard rock, punya kekuatan untuk menyatukan orang-orang. Ibaratnya, di mana pun kamu berada, pasti ada orang yang punya selera musik yang sama. Mau di Australia, Kanada, Brazil, Argentina, Italia, atau bahkan Afrika Selatan, semua sepakat bahwa album “Turbo” dari Judas Priest itu keren abis!
Metal: Lebih dari Sekadar Musik, tapi Identitas
Tobias Sammet dengan kocak menyebutkan bahwa semua penggemar metal juga sepakat kalau genre ini dimulai dari album “Keeper Of The Seven Keys: Part I” dari Helloween. Dan yang lebih penting, Helloween itu dieja dengan “E”, bukan “A”, dan nggak ada hubungannya sama Halloween. Ini adalah semacam kode etik tak tertulis yang hanya dipahami oleh mereka yang benar-benar metalhead. Sebuah identitas yang dibangun dari kesamaan selera dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi.
Tapi, lebih dari sekadar kesamaan selera musik, Tobias Sammet juga ingin menyebarkan pesan positif lewat karyanya. Musiknya adalah cerminan dari perasaannya sebagai seorang underdog, anak kecil yang sering di-bully. Dia merasa bahwa dirinya berbicara atas nama orang-orang yang merasa nggak nyaman di dunia yang serba mainstream, yang merasa berbeda dan nggak punya tempat di dunia yang serba bold and beautiful.
Bagi Tobias Sammet, musik adalah cara untuk mengatakan, “Gue mungkin beda, tapi gue punya hak untuk jadi diri sendiri.” Dan ternyata, banyak orang yang merasa relate dengan pesan ini. Sebuah perasaan senasib sepenanggungan yang menyatukan mereka dalam sebuah komunitas yang solid. Sebuah komunitas yang nggak peduli dari mana kamu berasal, apa agamamu, atau apa warna kulitmu. Yang penting, kamu suka metal!
Avantasia: Tempat Bertemunya Naga dan Metalhead Sejati
Album kesepuluh Avantasia, “Here Be Dragons”, dirilis pada bulan Februari 2025 melalui Napalm Records. Sepuluh lagu yang ditulis dan digubah sendiri oleh Tobias Sammet ini diproduseri dan direkam bersama Sascha Paeth, serta di-mixing oleh Paeth dan di-mastering oleh Michael Rodenberg. Sampul albumnya pun kembali digarap oleh seniman fantasi asal Inggris, Rodney Matthews.
Kesuksesan Avantasia memang nggak main-main. Sembilan album studio sebelumnya (termasuk “Moonglow” yang menduduki peringkat pertama di Jerman pada tahun 2019), penghargaan emas, ratusan juta streaming, serta konser headline di festival metal penting dan tur arena yang tiketnya selalu ludes terjual. Semua ini membuktikan bahwa Avantasia punya basis penggemar yang sangat loyal dan solid.
Lalu, apa yang membuat Avantasia begitu dicintai? Mungkin karena musiknya yang epik dan megah, liriknya yang puitis dan penuh makna, atau kolaborasi antar musisinya yang selalu bikin penasaran. Tapi, di balik semua itu, ada pesan yang kuat tentang persatuan, keberanian, dan menjadi diri sendiri. Pesan yang relevan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.
Ketika Metal Menjadi Bahasa Universal
Bayangkan metal itu seperti bahasa Esperanto-nya musik. Bahasa yang bisa dipahami oleh semua orang, tanpa peduli latar belakang budaya atau geografis. Kamu bisa saja tumbuh besar di desa terpencil di Indonesia, tapi begitu mendengar riff gitar yang menggelegar dan vokal yang melengking, kamu langsung merasa terhubung dengan orang-orang di belahan dunia lain yang punya selera yang sama.
Musik metal juga mengajarkan kita tentang keberanian untuk menjadi berbeda. Di dunia yang serba seragam ini, menjadi metalhead adalah sebuah pernyataan. Pernyataan bahwa kamu nggak takut untuk mengekspresikan diri, nggak peduli apa kata orang. Kamu bebas untuk memakai jaket kulit penuh emblem, memanjangkan rambut, dan berteriak sekeras-kerasnya mengikuti lirik lagu favoritmu.
Dan yang lebih penting, musik metal mengajarkan kita tentang persatuan. Di konser metal, nggak ada sekat antara penonton dan musisi. Semua larut dalam euforia yang sama, bernyanyi bersama, dan menikmati musik yang mereka cintai. Di sana, nggak ada yang peduli kamu kaya atau miskin, ganteng atau jelek, populer atau cupu. Yang penting, kamu metal!
Jadi, Apa Hubungannya dengan Kehidupan Kita Sehari-hari?
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa hubungannya semua ini dengan kehidupan kita sehari-hari? Apa hubungannya musik metal dengan masalah ekonomi, politik, atau sosial? Jawabannya sederhana: semuanya berhubungan. Musik adalah cerminan dari kehidupan, dan kehidupan adalah sumber inspirasi bagi musik.
Ketika kita merasa terpinggirkan, nggak punya tempat, atau nggak didengar, musik bisa menjadi pelarian. Musik bisa menjadi teman, guru, dan bahkan mentor. Musik bisa memberikan kita kekuatan untuk menghadapi tantangan, keberanian untuk bermimpi, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Jadi, lain kali kalau kamu merasa sendirian, putar saja lagu metal favoritmu. Siapa tahu, kamu akan menemukan teman baru, ide baru, atau bahkan inspirasi baru untuk mengubah dunia. Karena, seperti kata Tobias Sammet, heavy metal dan hard rock menyatukan orang-orang.
“Here Be Dragons”: Lebih dari Sekadar Album, tapi Manifesto Metal?
Album “Here Be Dragons” mungkin hanya sebuah album, tapi bagi para penggemar Avantasia dan musik metal secara umum, album ini adalah sebuah pengingat. Pengingat bahwa musik punya kekuatan untuk menyatukan, menginspirasi, dan mengubah dunia. Pengingat bahwa kita semua punya hak untuk menjadi diri sendiri, tanpa peduli apa kata orang. Pengingat bahwa metal itu bukan hanya sekadar musik, tapi juga sebuah identitas.


