Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Bantuan Global Anjlok: Jutaan Nyawa Terancam Gara-gara ‘Pelit’ Negara Kaya

Baru saja keluar data resmi OECD soal bantuan pembangunan global, dan angkanya bikin geleng-geleng kepala: turun 23% di 2025 dibanding tahun sebelumnya. Ini bukan sekadar ‘sedikit melambat’, tapi penurunan terbesar dalam sejarah. Para ilmuwan sudah peringatkan, kalo tren ngasih bantuan makin seret kayak gini, bisa-bisa jutaan nyawa yang sebenarnya bisa diselamatkan malah terancam hilang di tahun 2030. Intinya, ada yang lagi main tarik ulur bantuan, dan yang kena getahnya adalah mereka yang paling membutuhkan. Makanya, Rockefeller Foundation teriak-teriak minta semua pihak – pemerintah, swasta, sampe donatur kaya raya – untuk segera duduk bareng, sebelum kemajuan puluhan tahun yang sudah susah payah dibangun malah jadi abu.

Laporan awal dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk tahun 2025 mengungkap sebuah realitas yang mengerikan: Official Development Assistance (ODA) atau bantuan pembangunan resmi global anjlok 23%. Angka ini sungguh mencengangkan, melampaui prediksi terburuk yang bahkan sudah diasumsikan oleh riset dari ISGlobal yang didukung oleh The Rockefeller Foundation dan dipublikasikan di The Lancet Global Health. Riset tersebut awalnya memproyeksikan penurunan ODA sebesar 15.8% di 2025, namun data terbaru menunjukkan jurang yang lebih dalam. Dengan pemotongan dana yang diprediksi akan terus berlanjut dan bahkan memburuk hingga akhir dekade ini, ISGlobal telah memperingatkan konsekuensi yang tak terbayangkan: setidaknya 9.4 juta orang tambahan, termasuk 2.5 juta anak di bawah usia lima tahun, berpotensi meninggal dunia pada tahun 2030 di 93 negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ini bukan sekadar angka statistik; ini adalah potensi hilangnya jutaan kisah hidup.

Dr. Rajiv J. Shah, Presiden The Rockefeller Foundation, menyatakan keprihatinan mendalam atas data OECD tersebut. “Data OECD menunjukkan bahwa konsensus 80 tahun untuk bekerja sama membantu mereka yang menderita sedang runtuh – namun orang-orang di berbagai negara di seluruh dunia masih ingin menyelamatkan nyawa-nyawa ini,” ujarnya. Ia menekankan perlunya investasi pada model-model pembangunan baru yang relevan untuk abad ke-21. Dengan memfokuskan sumber daya pada mereka yang menderita secara akut, memanfaatkan teknologi baru, dan mendukung investasi yang dipimpin oleh negara dalam ketahanan pangan, kesehatan, dan energi, dunia masih memiliki kesempatan untuk mencegah hilangnya jutaan nyawa yang kini terancam. Ini bukan saatnya untuk berdiam diri; ini adalah panggilan untuk aksi kolektif yang mendesak.

Negara-Negara Donor Mulai Mundur?

Ada ironi yang pahit dalam laporan ini: untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman secara serempak memangkas bantuan pembangunan mereka selama dua tahun berturut-turut. Data yang dirilis hari ini bahkan melampaui proyeksi OECD sendiri yang di pertengahan 2025 masih memperkirakan penurunan sebesar 9-18%. Kelihaian dalam mengatur anggaran di negara-negara maju tampaknya berbanding terbalik dengan kebutuhan mendesak di negara-negara berkembang. Saat dunia seharusnya bersatu padu menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan pandemi, justru terlihat gelagat menarik diri dari komitmen kemanusiaan.

Proyeksi mengerikan ini bukanlah sekadar spekulasi liar. Studi peer-reviewed yang dipublikasikan di The Lancet Global Health pada Februari 2026, berjudul “The Impact of Two Decades of Humanitarian and Development Assistance and the Projected Mortality Consequences of Current Defunding to 2030: Retrospective Evaluation and Forecasting Analysis,” telah memodelkan skenario terburuk. Studi yang didukung oleh The Rockefeller Foundation ini secara gamblang menguraikan dampak dari pemotongan ODA yang terus berlanjut. Hasilnya cukup brutal: antara 9.4 juta hingga lebih dari 9.4 juta kematian tambahan dapat terjadi pada tahun 2030 di 93 negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang notabene merupakan rumah bagi 75% populasi dunia. Angka 2.5 juta anak di bawah lima tahun yang terdampak adalah pukulan telak yang seharusnya membangkitkan nurani siapa pun.

The Rockefeller Foundation: Aksi Nyata, Bukan Sekadar Seruan

Respons The Rockefeller Foundation terhadap krisis ini bukan sekadar retorika. Dukungan mereka terhadap riset ISGlobal merupakan bagian dari inisiatif Build the Shared Future. Melalui organisasi filantropi yang telah berdiri selama 113 tahun ini, mereka berupaya mendorong kerja sama global dan pembangunan internasional yang adaptif terhadap tantangan abad ke-21. Beberapa langkah konkret yang sedang mereka gencarkan antara lain:

  • Membangun kemauan politik dan dukungan untuk Kerjasama Internasional: Ini dilakukan melalui investasi dalam riset dan bukti nyata, agar para pengambil kebijakan benar-benar memahami dampak kemanusiaan dari setiap keputusan pendanaan. Dukungan berkelanjutan untuk analisis ISGlobal dan peluncuran Development Finance Observatory pada 2025 bersama ONE Data dan Google.org menjadi bukti komitmen ini. Analisis awal dari observatorium tersebut mengungkap pergeseran menarik: China, yang dulunya penyedia bersih dana bagi negara berpenghasilan rendah dan menengah (mentransfer US$48 miliar), kini menjadi penarik bersih dana (menarik US$24 miliar). Sebaliknya, lembaga pemberi pinjaman multinasional justru meningkatkan pembiayaan bersih mereka sebesar 124%, menyumbang 56% dari arus bersih, atau US$378.7 miliar antara 2020-2024.
  • Menunjukkan model-model pembangunan baru yang inovatif: Rockefeller Foundation aktif mengkatalisasi kemitraan dengan organisasi filantropi lain, institusi multinasional, dan sektor swasta. Contohnya, komitmen lebih dari US$100 juta sejak 2024 bersama Global Energy Alliance for People and Planet untuk mendukung upaya Mission 300, yang bertujuan menghubungkan 300 juta orang di Afrika ke listrik pada 2030. Selain itu, mereka juga memajukan School Meals Accelerator, sebuah inisiatif terdepan yang ditujukan untuk menjangkau 100 juta anak tambahan dengan program makanan sekolah pada 2030. Program ini diluncurkan pada Januari tahun ini dengan dukungan dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ), Novo Nordisk Foundation, The Rockefeller Foundation, dan World Food Programme (WFP), serta dukungan tambahan dari Prancis dan Global Partnership for Education.
  • Menghidupkan kembali arus pendanaan untuk pembangunan global: Upaya ini mencakup optimalisasi neraca keuangan lembaga pemberi bantuan pembangunan agar mampu menyalurkan lebih banyak dana, mobilisasi modal swasta yang lebih besar, dan membantu negara-negara mengatasi beban pembayaran utang yang terus meningkat.

Seruan untuk Berhenti Bermain Api

The Rockefeller Foundation tidak tinggal diam melihat situasi genting ini. Mereka mendesak negara-negara donor untuk kembali berkomitmen pada prinsip kerja sama internasional demi membantu mereka yang paling membutuhkan di seluruh dunia. Lebih dari itu, mereka juga mengajak sektor swasta, organisasi filantropi, dan institusi multinasional untuk tampil ke depan dengan komitmen baru dan model pendanaan yang inovatif. Ini adalah saatnya untuk berpikir di luar kebiasaan dan menemukan solusi kreatif agar bantuan pembangunan dapat terus mengalir, terlepas dari gejolak politik dan ekonomi global.

Pernyataan Dr. Shah di akhir berita ini sungguh menggugah: “Selama 113 tahun, The Rockefeller Foundation telah berinvestasi pada kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia. Berdasarkan pengalaman, kemajuan bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja – ia harus direncanakan, diperjuangkan, dan dipertahankan. Apa yang kita saksikan sekarang adalah pilihan dari negara-negara kaya untuk mengingkari komitmen yang telah menyelamatkan jutaan nyawa. Kami menolak menerima ini sebagai ‘normal baru’ dan akan bekerja sama dengan siapa pun yang ingin menghadapi momen ini.”


Tentang The Rockefeller Foundation

Dengan investasi sebesar $30 miliar selama 113 tahun terakhir untuk mempromosikan kesejahteraan umat manusia, The Rockefeller Foundation adalah sebuah organisasi filantropi perintis yang dibangun di atas kemitraan yang tak terduga dan solusi inovatif yang memberikan hasil terukur bagi masyarakat di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Organisasi ini memanfaatkan terobosan ilmiah, kecerdasan buatan, dan teknologi baru untuk membuat ‘taruhan besar’ di sektor energi, pangan, kesehatan, dan keuangan, termasuk melalui afiliasinya dengan badan amal publiknya, RF Catalytic Capital (RFCC). Untuk informasi lebih lanjut, daftar untuk mendapatkan newsletter di www.rockefellerfoundation.org/subscribe dan ikuti mereka di X @RockefellerFdn, Instagram @rockefellerfdn, YouTube @RockefellerFdn, dan LinkedIn @the-rockefeller-foundation.

Previous Post

FarmVille vs. Zomblers: Duel Sultan vs. Sultan di Arena Virtual

Next Post

Legenda Hip-Hop Afrika Bambaataa Tutup Usia: Sang Bapak Disco Tutup Usia, Dunia Musik Berduka

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *