Spekulasi di kalangan penggemar dan media bahwa Justin Bieber menyanyikan mayoritas lagu-lagu baru di panggung utama Coachella karena penjualan katalognya senilai $203 juta adalah narasi yang keliru, menurut para pelaku industri musik. Bukannya karena larangan terselubung setelah melepas hak cipta lagu-lagu lamanya, pemilihan repertoar sang bintang pop lebih merupakan cerminan evolusi artistik dan strategi panggung yang cerdas, bukan karena dibatasi oleh kesepakatan bisnis yang menggiurkan.
Katalog Dijual, Bukan Dipermanenkan
Pada tahun 2023, sang superstar pop telah menjual 100% hak penerbitan dan royalti artis dari rekaman master serta hak-hak terkaitnya untuk sekitar 290 lagu yang dirilis sebelum 31 Desember 2021 – mulai dari “Baby” hingga “Love Yourself” – kepada Hipgnosis Songs Capital, yang kini berganti nama menjadi Recognition Music Rights. Selama penampilannya di Coachella akhir pekan lalu, Bieber memang sempat menyanyikan beberapa lagu dari katalog tersebut. Namun, mayoritas waktu 50 menit pertamanya dihabiskan untuk membawakan lagu-lagu dari albumnya di tahun 2025, SWAG dan SWAG II, di atas panggung minimalis yang hanya menampilkan sang artis dan sebuah laptop.
Kabar yang beredar, salah satunya dari The Daily Mail, menyebutkan bahwa alasan utama Bieber tidak bisa membawakan lagu-lagu lamanya secara penuh adalah karena penjualan katalognya tersebut. Narasi ini menyiratkan adanya batasan performatif yang diberlakukan oleh pembeli katalog. Padahal, klaim semacam itu dibantah keras oleh sumber yang dekat dengan kesepakatan katalog Bieber. “Itu omong kosong,” ujar seorang sumber kepada Billboard, menegaskan bahwa tidak ada pembatasan apa pun terhadap apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh Bieber dalam pertunjukan langsung.
Lisensi Hak Pentas: Semudah Membalik Telapak Tangan
Kenyataannya, Bieber membawakan sekitar selusin lagu yang termasuk dalam transaksi katalog tahun 2023 di Coachella. Fakta menariknya, band rock Geese justru membawakan cover lagu “Baby” milik Bieber di festival yang sama beberapa jam sebelum penampilan Bieber. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan mengeksekusi karya di panggung konser tidak serta-merta terhapus oleh transaksi hak cipta. Dalam hukum hak cipta Amerika Serikat, memainkan sebuah lagu di konser hanya memerlukan lisensi “pertunjukan publik”. Venue-venue biasanya mengamankan lisensi kolektif dari lembaga seperti ASCAP dan BMI, yang secara otomatis mencakup hampir semua lagu populer. Sama seperti Geese yang bisa membawakan lagu Bieber, sang artis pun dapat menyanyikan karyanya sendiri tanpa perlu izin khusus dari Recognition Music Rights.
Perwakilan Bieber sendiri tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait isu ini, seolah mengamini bahwa polemik ini tidak lebih dari sekadar riuh rendah yang diciptakan oleh pihak luar. Terlepas dari spekulasi yang beredar, penjualan hak musik – baik itu rekaman master, katalog lagu, maupun aliran royalti – sama sekali tidak menghalangi seorang artis untuk membawakan lagu apa pun, termasuk karya-karyanya sendiri, dalam pertunjukan langsung.
Kisah Taylor Swift: Pembelajaran dari Penjualan Katalog
Figur publik, terutama pop star, kerap menjadi sasaran spekulasi di dunia maya, terutama terkait kehidupan finansial mereka. Hal ini semakin marak mengingat maraknya penjualan katalog musik oleh para artis besar dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya, pada tahun 2023, rumor beredar bahwa Taylor Swift menolak tawaran tampil di Super Bowl Halftime Show karena adanya konflik dengan pemilik katalognya. Pengalaman Swift ini menjadi studi kasus yang menarik terkait bagaimana penjualan hak cipta dapat memicu berbagai interpretasi.
Master rekaman Swift memang pernah dijual kepada Scooter Braun, mantan manajer Bieber, yang perusahaannya Ithaca Holdings mengakuisisi label rekaman lama Swift, Big Machine. Swift kemudian merekam ulang beberapa album pertamanya dalam edisi Taylor’s Version yang sangat sukses, sebagai upaya mengalihkan penggemar ke lagunya sendiri alih-alih lagu yang haknya tidak lagi ia miliki. Ada spekulasi bahwa Swift berulang kali menolak tampil di Super Bowl karena sorotan publik akan meningkatkan streaming lagunya – Bad Bunny saja mengalami peningkatan streaming sebesar 85% setelah penampilannya di bulan Februari – yang secara tidak langsung akan memperkaya Braun.
Narasi ini semakin memanas ketika Swift berhasil membeli kembali master aslinya pada musim semi lalu, memicu spekulasi penggemar bahwa kini ia bebas tampil di panggung terbesar dunia. Namun, Swift tetap tidak tampil. Penting untuk dicatat bahwa Swift selalu mengontrol katalog lagunya, yang merupakan bagian dari karya Bieber yang ia jual kepada Hipgnosis. Perbedaan fundamental ini menggarisbawahi bahwa penjualan hak penerbitan dan royalti master adalah hal yang berbeda dengan kepemilikan penuh atas sebuah karya. Dengan kata lain, Swift punya kendali lebih besar atas nasib katalognya karena ia berhasil merebut kembali hak yang esensial, sementara Bieber hanya melepas sebagian dari aset finansialnya.
Evolusi Panggung dan Strategi Artistik
Menjelang penampilannya di Coachella – pertunjukan solo terbesar Bieber dalam beberapa tahun – ia menggelar dua konser intim di venue The Roxy dan Troubadour, West Hollywood, yang sepenuhnya didedikasikan untuk lagu-lagu dari SWAG dan SWAG II. Pilihan ini mengindikasikan sebuah kesengajaan untuk memperkenalkan materi baru secara intensif sebelum panggung sebesar Coachella. Fokus pada materi baru ini bukan karena larangan, melainkan sebagai bagian dari narasi artistik yang ingin dibangunnya.
Billboard melaporkan bahwa 12 lagu lama yang dibawakan Bieber – atau potongan liriknya – sambil memutar video musik YouTube-nya, hanya memakan waktu sekitar 25 menit dari keseluruhan pertunjukan. Hal ini menunjukkan bahwa sang artis mungkin sengaja memadatkan durasi lagu-lagu lama tersebut karena, menurut analisis tersebut, “lagu-lagu itu terasa keluar dari konteks set – bahkan bagi mereka yang enggan mengakuinya.” Dengan kata lain, pemilihan lagu lebih didasarkan pada kohesi setlist dan pengalaman penonton secara keseluruhan, daripada sekadar mematuhi klausul penjualan katalog yang tidak ada.


