Perencanaan liburan keliling Asia Tenggara kini berpotensi berubah jadi petualangan lintas batas yang lebih mulus, berkat dorongan senyap namun signifikan dari blok regional BIMP-EAGA. Indonesia dan Filipina tampaknya bakal jadi primadona baru, menjalin konektivitas lebih erat dengan Malaysia dan Brunei Darussalam. Lupakan lagi repotnya bolak-balik ke satu hub utama; peta turisme Asia Tenggara sedang digambar ulang, siap menawarkan pengalaman multi-negara tanpa drama.
Blok Subregional Ini Mulai Melirik Sorotan Pariwisata
Dibentuk pertengahan 90-an demi mengakselerasi pembangunan di pelosok Asia Tenggara, BIMP-EAGA awalnya fokus pada perdagangan dan infrastruktur. Namun, strategi terkini menempatkan pariwisata sebagai poros utama, berdampingan dengan konektivitas, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan. Ini bukan sekadar angan-angan, tapi tertuang dalam rencana dan laporan regional yang bisa diakses publik.
Wilayah cakupan BIMP-EAGA meliputi Indonesia bagian timur, Malaysia Timur, Brunei Darussalam, serta Mindanao dan Palawan di Filipina selatan. Area-area ini kaya akan taman laut, hutan hujan, spot menyelam kelas dunia, dan ragam budaya pribumi. Selama ini, destinasi-destinasi ini kerap jadi nomor dua di bawah Bangkok, Bali, atau Singapura. Kini, mereka dipromosikan sebagai satu kesatuan playground lintas batas untuk penikmat alam, budaya, dan turis ramah Muslim.
Proyeksi pariwisata regional untuk periode 2024-2026 menunjukkan lonjakan kuat pada perjalanan intra-ASEAN. Indonesia dan Malaysia jadi penyumbang devisa pariwisata terbesar, sementara Filipina berupaya keras mengejar ketertinggalan pasca-pandemi. Dalam konteks ini, BIMP-EAGA makin sering disebut sebagai wahana uji coba untuk rute-rute baru dan pemasaran kolaboratif yang menyatukan kota-kota serta pulau-pulau yang belum banyak dilirik.
Bagi para pelancong, ini berarti peta Asia Tenggara sedang perlahan digambar ulang. Daripada terbang masuk-keluar satu hub regional lalu kembali lagi, pengunjung kini punya opsi lebih banyak: masuk lewat satu gerbang BIMP-EAGA, melintasi perbatasan via darat atau laut, dan keluar dari gerbang lain. Empat negara bisa jadi satu perjalanan panjang nan terintegrasi.
Rute Baru Membawa Kota Sekunder ke Peta Wisata
Jaringan penerbangan menjadi kunci utama pergerakan saat ini. Cetak biru transportasi BIMP-EAGA menyoroti rute-rute baru dan yang diaktifkan kembali, seperti Manado ke Kota Kinabalu. Ini melengkapi layanan yang sudah ada sebelumnya antar kota seperti Davao, Puerto Princesa, Bandar Seri Begawan, dan kota-kota di Malaysia Timur. Presentasi terbaru dari lembaga-lembaga Indonesia di forum regional menekankan bahwa konektivitas udara yang lebih baik di kepulauan timur dan dengan hub BIMP-EAGA tetangga kini dianggap krusial untuk mencapai target pariwisata ambisius pada 2029.
Bersamaan dengan itu, evaluasi kinerja pariwisata Filipina mencatat bahwa pemulihannya tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga, sebagian karena minimnya koneksi langsung dari pasar regional dan jarak jauh. Dokumen kebijakan serta briefing kementerian menguraikan rencana kolaborasi dengan maskapai dan operator bandara untuk memperluas layanan point-to-point ke gerbang sekunder, termasuk yang berada dalam jangkauan BIMP-EAGA seperti Davao, Jenderal Santos, dan Puerto Princesa.
Malaysia, yang mencatat angka pengunjung tertinggi di Asia Tenggara pada 2025, diuntungkan oleh koneksi kuat melalui Kuala Lumpur dan bandara Malaysia Timur di Kota Kinabalu serta Kuching. Liputan industri mencatat bahwa porsi signifikan dari kedatangan regional kini mengalir ke pantai, spot menyelam, dan taman nasional di Borneo, mendukung gagasan itinerary triangular yang mencakup ibu kota Brunei, Bandar Seri Begawan, serta pelabuhan Indonesia atau Filipina terdekat.
Wisatawan perlu siap menghadapi perubahan rute yang bersifat gradual, bukan gelombang besar mendadak. Maskapai di kawasan ini secara selektif memulihkan atau menjajaki penerbangan baru, seringkali diawali dengan layanan frekuensi rendah yang menyasar diaspora, pebisnis, dan segmen turis khusus seperti penyelam scuba atau liburan ramah Muslim. Bagi pengunjung yang bersedia transit melalui hub regional atau memadukan penerbangan dengan feri, opsi praktis untuk perjalanan lintas batas di zona BIMP-EAGA terus melebar.
Indonesia dan Filipina Kejar Nilai, Bukan Sekadar Volume
Indonesia telah merinci strategi pariwisata yang mengutamakan pengunjung bernilai tinggi dengan masa tinggal lebih lama, ketimbang sekadar mendongkrak angka kunjungan. Negara tetangga ASEAN diposisikan sebagai mesin pertumbuhan terkuat. Presentasi di forum-forum ASEAN Tourism Forum terbaru memaparkan inisiatif yang menggabungkan pemasaran digital, kurasi pengalaman, dan standar keberlanjutan, terutama di destinasi di luar Bali seperti Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan, yang sebagian besar masuk dalam cakupan BIMP-EAGA.
Bagi Filipina selatan, fokusnya adalah mengkonversi kekuatan pariwisata domestik menjadi kedatangan internasional yang lebih tangguh. Analisis ekonomi dan pariwisata dari institusi regional menunjukkan kontribusi besar sektor perjalanan dan pariwisata terhadap PDB negara, namun juga mengindikasikan pertumbuhan internasional yang lebih lambat dibanding negara sejawat. Proyek konektivitas, termasuk yang di bawah kerangka BIMP-EAGA, dipresentasikan sebagai cara menyalurkan lebih banyak pengunjung asing ke Mindanao dan Palawan, di mana masyarakatnya antusias mendiversifikasi ekonomi di luar sektor pertanian dan ekstraktif.
Baik Indonesia maupun Filipina menyelaraskan branding nasional mereka dengan dorongan subregional ini. Kampanye promosi pulau-pulau “baru”, sirkuit penyelaman, dan koridor budaya semakin sering merujuk pada tema lintas batas, mulai dari warisan maritim bersama di Laut Sulu dan Celebes hingga rute pengamatan burung yang membentang dari Borneo Malaysia ke taman nasional Indonesia. Pernyataan publik dari pejabat pariwisata di seluruh blok menekankan kolaborasi, bukan kompetisi, dengan membingkai destinasi tetangga sebagai produk yang saling melengkapi, bukan bersaing.
Bagi pelancong, pergeseran ini bisa berarti pengalaman lintas batas yang lebih terkurasi, seperti kapal pesiar ekspedisi multi-pulau, jalur ekowisata berbasis komunitas, dan paket perjalanan ramah Muslim yang bergerak mulus melintasi setidaknya dua atau tiga negara BIMP-EAGA. Meski banyak dari produk ini masih dalam tahap awal, landasan kebijakan yang kini diletakkan kemungkinan besar akan membentuk apa yang tersedia dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Malaysia dan Brunei Perkuat Tulang Punggung Borneo
Pemulihan pariwisata Malaysia yang solid telah menempatkan Borneo sebagai pilar utama perjalanan regional. Data pengunjung terbaru menunjukkan jutaan kedatangan mengalir melalui hub utama negara itu, dengan porsi yang meningkat menuju pantai, dataran tinggi, dan spot menyelam di Malaysia Timur. Analisis industri menyebutkan investasi baru di bandara, jalan, dan infrastruktur perhotelan di Sabah dan Sarawak, keduanya komponen kunci geografi BIMP-EAGA.
Brunei Darussalam, meskipun pemain pariwisata yang jauh lebih kecil dari segi volume, menonjol dalam dokumen perencanaan subregional sebagai pasar niche berpenghasilan tinggi dengan ambisi di bidang ekowisata, pariwisata Islami, dan konservasi alam. Rencana pembangunan nasional menyoroti proyek infrastruktur dan diversifikasi besar, termasuk upaya memanfaatkan hutan, hutan bakau, dan cagar pesisir sebagai aset pariwisata berdampak rendah, bukan sekadar zona ekstraksi.
Pernyataan bersama yang muncul dari pertemuan ekonomi dan pariwisata selama setahun terakhir berulang kali merujuk Borneo sebagai platform pariwisata bersama yang menghubungkan Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Koridor jalan lintas batas, jembatan baru, dan formalitas perbatasan yang disederhanakan terus didorong sebagai cara untuk membuat perjalanan darat lebih layak, termasuk bagi wisatawan yang ingin melakukan perjalanan darat melintasi berbagai yurisdiksi Borneo dalam satu perjalanan.
Dari sudut pandang pengunjung, “tulang punggung Borneo” yang sedang berkembang ini akan segera memudahkan, misalnya, untuk terbang ke Kota Kinabalu, menghabiskan waktu di desa air dan hutan lindung Brunei, lalu melanjutkan dengan darat atau penerbangan singkat ke Kalimantan Indonesia. Meskipun beberapa segmen perjalanan ini sudah ada, rencana konektivitas BIMP-EAGA bertujuan mengurangi hambatan seperti beberapa pemberhentian imigrasi, transportasi umum yang terbatas, dan informasi pariwisata yang tidak konsisten.
Dampak untuk Perencanaan Liburan Asia Tenggara Berikutnya
Bagi pelancong yang mengincar Asia Tenggara di akhir dekade 2020-an, dampak praktis dari dorongan pariwisata BIMP-EAGA kemungkinan akan terasa dalam tiga cara utama: lebih banyak gerbang sekunder, kombinasi multi-negara yang lebih lancar, dan ragam pengalaman alam serta budaya yang lebih luas di area yang tidak terlalu ramai. Alih-alih secara default memilih kota-kota terbesar di kawasan ini, pengunjung mungkin menemukan penerbangan yang kompetitif ke tempat-tempat seperti Kota Kinabalu, Bandar Seri Begawan, Manado, atau Davao, dengan koneksi lanjutan yang membuat perjalanan berputar melalui beberapa negara menjadi lebih efisien.
Mereka yang merencanakan perjalanan sebaiknya bersiap menghadapi kemajuan yang tidak merata. Laporan tentang konektivitas regional sering kali menunjukkan kesenjangan dalam kapasitas penerbangan, keterbatasan koneksi jarak jauh ke beberapa destinasi BIMP-EAGA, dan lambatnya peningkatan infrastruktur di area perbatasan tertentu. Jadwal feri, kondisi jalan, dan layanan bus lintas batas bisa tetap bervariasi, terutama di luar musim liburan puncak. Perencanaan rute yang cermat, fleksibilitas tanggal, dan perhatian terhadap saran transportasi lokal tetap penting.
Pada saat yang sama, data dari studi proyeksi pariwisata ASEAN menunjukkan bahwa perjalanan intra-regional terus tumbuh lebih cepat daripada banyak pasar jarak jauh, menyiratkan bahwa lebih banyak warga Asia Tenggara sendiri yang akan menggunakan koridor-koridor yang sedang berkembang ini. Bagi pengunjung internasional, bepergian di sepanjang rute yang populer di kalangan wisatawan regional dapat membawa manfaat praktis, mulai dari penerbangan yang lebih sering hingga layanan yang lebih adaptif untuk kebutuhan diet, agama, dan bahasa yang beragam.
Pada akhirnya, kebangkitan BIMP-EAGA sebagai koridor pariwisata memberi kesempatan bagi pelancong untuk merasakan sisi lain Asia Tenggara: laut kaya terumbu karang alih-alih hanya cakrawala kota, komunitas pribumi berdampingan dengan ibu kota kerajaan bersejarah, dan perjalanan yang menyatukan empat negara melalui garis pantai bersama, bukan hanya melalui hub maskapai besar. Bagi mereka yang bersedia melihat lebih jauh dari pemberhentian biasa, fondasi yang diletakkan hari ini bisa membuat perjalanan berikutnya lebih terhubung, lebih bervariasi, dan berpotensi lebih memuaskan.

