Sepertinya ada sebuah paradoks yang menggelitik: bagaimana sebuah model yang lahir dari upaya penutupan industri daging anjing di Korea Selatan, yang notabene punya citra modern dan _tech-savvy_, kini justru dipakai untuk memberesi praktik serupa di sudut Indonesia yang jauh dari hiruk pikuk metropolitan? Ini bukan sekadar soal lintasan geografis, tapi lebih pada betapa warisan kebiasaan – baik yang merangkak naik maupun yang berusaha digali lubang kuburnya – bisa punya akar yang lebih dalam dari perkiraan kita. Bayangkan saja, dua bisnis yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi bagian dari lanskap lokal, kini disambut oleh secercah harapan baru, bukan dari sentuhan kearifan lokal semata, melainkan adopsi strategi dari belahan dunia lain yang ironisnya, juga bergulat dengan isu yang sama.
Bisnis “Menyenangkan” dengan Sejarah Panjang
Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, ada dua entitas bisnis yang sudah lama beroperasi. Satu tempat, konon, sudah puluhan tahun, lebih dari empat dekade, setia melayani pasar daging anjing. Tempat lain, meski usianya “hanya” belasan tahun, juga tak kalah gigih menjajakan dagangan yang sama. Dua bisnis ini, ibarat pilar kokoh, telah menjadi bagian dari denyut nadi ekonomi lokal, atau setidaknya, bagian dari rantai pasok yang tak terputus. Aktivis dari Humane World for Animals, organisasi asal Korea Selatan, bersama dengan Jakarta Animal Aid Network, menjadi dalang di balik penutupan dua “institusi” ini. Aksi ini bukan sekadar penutupan, tapi juga penyelamatan. Sepuluh anjing yang sudah terdesain untuk nasib tragis berhasil diselamatkan, memberikan mereka kesempatan kedua untuk merasakan kehangatan sinar matahari tanpa ancaman pisau jagal.
Sentuhan Korea di Tanah Flobamora: Model “Models for Change”
Ini dia bagian yang paling menarik: metode yang digunakan. Humane World for Animals membawa serta “Models for Change”, sebuah program transisi yang telah teruji di negeri asalnya. Program ini bukan sekadar menutup keran, tapi juga membuka pintu baru. Para pemilik bisnis yang selama ini berkecimpung dalam industri daging anjing tidak dibiarkan begitu saja. Mereka dibantu untuk beralih profesi, mencari nafkah halal dengan cara lain. Sejak diluncurkan di Korea Selatan pada tahun 2015, program ini telah berhasil menutup 18 peternakan anjing dan menyelamatkan lebih dari 2.700 ekor anjing. Kini, model yang sama diterapkan di Indonesia, menandai kali pertama program ini melintasi batas negara. Sungguh sebuah ironi yang cerdas, bagaimana sebuah solusi untuk masalah domestik justru menjadi solusi ekspor.
Jejak “Penularan” dan Risiko Kesehatan yang Tak Terelakkan
Perlu dicatat, praktik perdagangan daging anjing di Indonesia, khususnya di daerah seperti Nusa Tenggara Timur, punya karakteristik tersendiri yang membuat situasinya jadi semakin kompleks. Banyak anjing yang diperdagangkan bukanlah hasil ternak yang jelas asal-usulnya, melainkan anjing yang dicuri dari rumah-rumah warga atau berkeliaran di jalanan. Perjalanan mereka pun seringkali diwarnai penderitaan yang tak terperi, diangkut dalam kondisi yang jauh dari layak. Meskipun begitu, para pegiat kesejahteraan hewan menekankan bahwa inti penderitaan yang dialami hewan-hewan ini sama saja, tak peduli di negara mana mereka berada. Lebih jauh lagi, isu ini merambah ke ranah kesehatan publik. Lee Sang-kyung, manajer kampanye di Humane World for Animals, menyoroti kaitan erat antara industri daging anjing dengan penyebaran rabies. Ini bukan hanya risiko bagi para pelaku atau konsumen, tapi juga bagi masyarakat luas yang bahkan tidak pernah bersinggungan langsung dengan praktik tersebut.
Nusa Tenggara Timur: Surga Konsumsi, Neraka Rabies?
Nusa Tenggara Timur memang dikenal sebagai salah satu wilayah di Indonesia dengan angka konsumsi daging anjing yang tergolong tinggi. Ditambah lagi dengan peredaran anjing curian yang terus berlangsung, kekhawatiran mengenai kesehatan publik semakin mengemuka. Laporan tahun 2025 mencatat angka kasus rabies pada manusia di provinsi ini mencapai 78 kasus, angka tertinggi secara nasional. Angka ini menjadi alarm yang sangat kentara, bahwa di balik sebuah tradisi atau kebiasaan konsumsi, terselip ancaman serius yang membahayakan nyawa banyak orang. Penutupan dua bisnis di Kupang ini, dengan menerapkan model transisi yang telah terbukti, menjadi sebuah langkah maju yang krusial, bukan hanya untuk kesejahteraan hewan, tapi juga untuk meminimalisir potensi bencana kesehatan di masa depan.
Transisi Bisnis: Dari Daging Anjing Menjadi Toko Kelontong & Material Bangunan
Program “Models for Change” ini tidak hanya berhenti pada penutupan. Bagian krusialnya adalah fase transisi livelihood. Para pemilik bisnis yang sebelumnya bergantung pada penjualan daging anjing kini akan diarahkan untuk membuka usaha baru yang lebih berkelanjutan dan tidak membahayakan. Dalam kasus ini, dua pemilik bisnis tersebut akan mencoba peruntungan dengan membuka toko kelontong dan menjual material bangunan. Ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah program bisa memberikan solusi komprehensif, tidak hanya menghentikan praktik yang merugikan, tetapi juga memberdayakan individu yang terlibat agar tetap bisa berkontribusi pada ekonomi tanpa harus mengorbankan kehidupan makhluk lain atau membahayakan kesehatan publik. Sebuah pendekatan yang cerdas, bukan?
Harapan Baru untuk Sepuluh Jiwa yang Terselamatkan
Kabar baik tidak berhenti pada penutupan bisnis. Sepuluh anjing yang berhasil diselamatkan kini berada di bawah perawatan intensif. Mereka menjalani pemeriksaan medis dan masa karantina di sebuah klinik hewan. Setelah itu, mereka akan dipindahkan ke penampungan yang dikelola oleh Jakarta Animal Aid Network di Bogor, Jawa Barat. Di sana, mereka akan mendapatkan perawatan lanjutan, rehabilitasi, dan pada akhirnya, diharapkan akan menemukan keluarga angkat yang penuh kasih. Ini adalah penutup yang manis, sebuah akhir yang bahagia bagi makhluk-makhluk yang sebelumnya hanya dipandang sebagai komoditas. Perjalanan mereka dari ketakutan dan penderitaan menuju kehidupan yang lebih baik adalah bukti nyata bahwa perubahan, meskipun terkadang datang dari arah yang tak terduga, selalu mungkin terjadi.


