Jalan Selat Hormuz yang lagi macet ini rupanya bukan cuma bikin harga bensin di pom bensin jadi meroket, tapi juga berpotensi bikin harga komoditas lain kayak pupuk ikut-ikutan naik daun. Soalnya, buat bikin pupuk itu butuh banyak gas alam, dan harganya kan ngikutin harga minyak. Udah gitu, ada laporan Maret lalu bilang ada lebih dari 1 juta ton pupuk nyangkut di Teluk gara-gara blokade ini. Petani sih yang kelabakan, udah harga naik, barang langka pula. Nah, di tengah kekacauan geopolitik ini, ada tiga saham yang patut dilirik, siapa tahu malah jadi cuan.
Image source: Getty Images.
CF Industries: Sang Bos Pupuk yang Kebal Bencana
Pertama, ada CF Industries (CF +2.95%). Perusahaan ini adalah pemain utama dalam produksi produk hidrogen dan nitrogen, dua bahan krusial buat bikin pupuk. Keunggulan CF Industries terletak pada jaringan produksinya yang mayoritas di Amerika Utara. Ini artinya mereka punya akses langsung ke gas alam yang harganya miring dan lokasinya strategis dekat konsumen. Jadi, meskipun dunia luar lagi heboh sama blokade, CF Industries ini ibarat punya benteng pertahanan sendiri.
Bahkan sebelum krisis Selat Hormuz ini makin runyam, CF Industries sudah menunjukkan performa yang mengesankan. Pendapatan bersihnya melonjak jadi $1.46 miliar tahun lalu, naik dari $1.22 miliar di tahun 2024. Penjualan bersihnya juga meroket 19.2% secara year-over-year sepanjang 2025. Angka-angka ini jelas menunjukkan kalau permintaan pupuk global memang solid, dan CF Industries berhasil memanfaatkannya.
Yang menarik lagi, di tahun 2025, perusahaan ini mencatat kenaikan penjualan berkat “permintaan nitrogen global yang kuat dan gangguan pasokan akibat isu geopolitik serta ketersediaan gas alam.” Ingat, itu terjadi *sebelum* ketegangan di Timur Tengah memuncak. Jadi, kalau keadaan makin memanas, performa CF Industries diprediksi makin ciamik.

Today’s Change
(2.95%) $3.91
Current Price
$136.47
Key Data Points
Market Cap
$21B
Day’s Range
$131.40 – $136.53
52wk Range
$67.34 – $137.44
Volume
173K
Avg Vol
4M
Gross Margin
42.25%
Dividend Yield
1.47%
Belum lagi, CF Industries juga melakukan pembelian kembali sahamnya senilai $1.34 miliar tahun lalu. Tindakan ini mengurangi jumlah saham beredar sekitar 10% dari posisi akhir 2024. Artinya, setiap pemegang saham yang tersisa kini memiliki porsi kepemilikan yang lebih besar di perusahaan. Ini adalah manuver cerdas untuk meningkatkan nilai per lembar saham, apalagi jika performa perusahaan terus menanjak.
Yang paling penting, meskipun pasokan pupuk terganggu oleh blokade, CF Industries tidak terdampak langsung karena mereka tidak bergantung pada jalur logistik Selat Hormuz. Perusahaan ini bisa menjual produknya dengan harga premium tanpa perlu khawatir produksi terhenti. Justru, CF Industries berpotensi menjadi “penyelamat” bagi para pesaing yang logistiknya terhambat oleh penutupan selat tersebut.
ExxonMobil: Raksasa Minyak yang Siap Banjir Cuan
Selanjutnya, ada nama yang sudah tidak asing lagi di telinga: ExxonMobil (XOM +3.36%). Sebagai salah satu pemain terbesar di industri minyak dan gas AS, ExxonMobil jelas akan diuntungkan dari kenaikan harga minyak mentah. Kapitalisasi pasarnya saja sudah menyaingi entitas negara seperti Saudi Aramco.
Pelajaran dari lonjakan harga minyak di tahun 2022 sudah cukup membuktikan. Saat itu, saham ExxonMobil melesat lebih dari 80%. Jika Selat Hormuz terus memanas dan pasokan global terganggu, tren serupa bukan tidak mungkin terulang. Perusahaan ini punya kapasitas produksi dan infrastruktur yang mumpuni untuk menavigasi badai geopolitik.

Today’s Change
(3.36%) $5.56
Current Price
$170.99
Key Data Points
Market Cap
$712B
Day’s Range
$164.80 – $171.23
52wk Range
$97.80 – $171.23
Volume
30M
Avg Vol
22M
Gross Margin
21.56%
Dividend Yield
2.36%
ExxonMobil memasuki tahun 2026 dengan catatan laba industri yang terdepan, mencapai $28.8 miliar. Meskipun ada sedikit penurunan dari tahun sebelumnya, perusahaan mengaitkannya dengan harga minyak mentah yang sempat melemah. Namun, situasi kini berbalik. Harga minyak berjangka sudah melonjak sekitar 60% year-to-date, termasuk lonjakan 30% sejak akhir Februari. Kenaikan ini jelas menguntungkan perusahaan sebesar ExxonMobil.
Selain potensi apresiasi harga saham, investor juga akan mendapatkan dividen yang cukup menarik, sekitar 2.5%. Ini menjadi semacam “penghiburan” sambil menunggu sahamnya terbang lebih tinggi. Dengan fondasi bisnis yang kuat dan eksposur langsung pada pergerakan harga minyak, ExxonMobil adalah pilihan klasik yang patut diperhitungkan.
Vaalco Energy: Si Kuda Hitam dari Afrika
Terakhir, ada Vaalco Energy (EGY +2.64%). Perusahaan ini beroperasi di Gabon, Mesir, dan Pantai Gading. Lokasi-lokasi ini sama sekali tidak tersentuh oleh blokade di Selat Hormuz. Keunggulan geografis ini memungkinkan Vaalco Energy untuk menikmati harga premium tanpa pusing memikirkan kendala logistik yang melanda perusahaan lain.
Sebagai saham small-cap dengan kapitalisasi pasar sekitar $665 juta, Vaalco Energy memiliki potensi pergerakan harga yang lebih fluktuatif. Justru ini yang membuatnya menarik. Saham ini sudah mengungguli dua saham lainnya dengan kenaikan hampir 70% year-to-date. Ditambah lagi, Vaalco Energy juga menawarkan dividen yang cukup menggiurkan, di atas 4%. Kombinasi pertumbuhan potensi dan imbal hasil dividen ini jarang ditemui.

Today’s Change
(2.64%) $0.17
Current Price
$6.42
Key Data Points
Market Cap
$671M
Day’s Range
$6.27 – $6.45
52wk Range
$3.00 – $6.47
Volume
43K
Avg Vol
1.5M
Gross Margin
22.88%
Dividend Yield
3.88%
Vaalco Energy tidak berpuas diri. Sebelum krisis Selat Hormuz, perusahaan ini sudah gencar memperluas kapasitas produksinya. Mereka baru saja menyelesaikan kampanye pengeboran multi-tahun di Mesir yang menghasilkan empat sumur pengembangan, sumur terakhir rampung Januari 2026. Kenaikan pendapatan yang sejalan dengan harga minyak yang meroket bisa jadi bahan bakar bagi Vaalco Energy untuk menginvestasikan lebih banyak modal dalam eksplorasi dan pengembangan sumur baru, yang pada gilirannya bisa mendongkrak harga sahamnya lebih jauh lagi.


