Dua minggu lalu, Vivo Keyd Stars, perwakilan Brasil di Worlds 2025 harus mengakui keunggulan Bilibili Gaming di Swiss Stage. Pupus sudah harapan. Tapi tunggu dulu, ini bukan akhir segalanya! Layaknya hero di game MOBA yang baru respawn, mereka sudah ancang-ancang untuk musim 2026. Nah, sambil nunggu CBLOL dimulai lagi, mari kita ngobrol santai dengan Felipe “Boal” Boal, toplaner andalan mereka, yang punya mimpi segede gaban dan pandangan masa depan secerah skin legendary.
Boal Bicara Jujur: “Frustrasi? Jelas!”
Boal nggak basa-basi. Kekalahan itu jelas bikin frustrasi. Apalagi, sebagai tim dari minor region, impiannya sederhana tapi nggak gampang: ngalahin tim-tim kelas kakap. Baginya, mimpi itu bukan cuma sekadar mimpi siang bolong. Ini harga diri, ini pembuktian. Sayangnya, sejarah mencatat, Brasil belum pernah menang series lawan tim Asia. Sakit, tapi nyata. Boal nggak mau ngasihani diri sendiri. Dia justru menjadikan ini motivasi. Ibarat main ranked, kekalahan adalah guru terbaik.
Highlight Tetaplah Highlight: Double Kill dan Backdoor Mendebarkan
Meski kalah, bukan berarti nggak ada momen keren. Di game pertama, Boal sukses dapet double kill di top lane. Di game kedua, nyaris menang, tapi BLG malah nge-backdoor. Nyesek? Pasti. Tapi Boal nggak mau larut dalam kesedihan. Dia sadar, di game pertama, mereka banyak bikin kesalahan sendiri. Padahal, kalo main lebih rapi, kemenangan ada di depan mata. Sementara di game kedua, mereka kurang tenang dan nggak bisa ngambil keputusan yang tepat. Alhasil, BLG lebih jago mainin map dan menang teamfight. Ibarat kata, udah unggul gold, tapi malah keculik satu-satu.
![]()
Credit: Liu YiCun/Riot Games
Evolusi Brasil: Dari Underdog Jadi Calon Raksasa?
Sebagai pemain yang baru pertama kali ngerasain atmosfer Worlds, Boal punya mimpi besar: ngalahin tim-tim dari major region. Dia optimis, Brasil bisa jadi kekuatan baru di dunia League of Legends. Apalagi, performa tim-tim Brasil di turnamen regional dan internasional udah jauh lebih baik dari perkiraan. Boal ngerasa, regionnya terus berkembang. Ibarat hero yang lagi farming, Brasil pelan-pelan tapi pasti makin kuat.
Faktor X Kebangkitan Brasil: Bukan Cuma Soal Jago Main
Kalo ditanya apa yang bikin Brasil makin jago di kancah internasional, Boal punya beberapa jawaban. Pertama, motivasi. Tim-tim seperti FURIA punya banyak pemain muda yang punya semangat membara dan target tinggi. Kedua, coaching staff yang mumpuni. Mereka punya peran penting dalam ngebentuk strategi dan mentalitas tim. Ketiga, pengalaman ikut turnamen lintas region dan bootcamp di Los Angeles. Dari situ, mereka bisa belajar banyak dari tim-tim yang lebih kuat, terutama FlyQuest dari NA. Ibarat kata, ikut scrim lawan tim-tim tier atas biar makin kebentuk.
“Sacrifice”: Harga yang Harus Dibayar untuk Sebuah Mimpi
Boal udah malang melintang di dunia profesional League of Legends sejak 2019. Dengan tema Worlds tahun ini “Sacrifice,” dia cerita pengorbanan terbesar yang harus dia lakuin: waktu buat keluarga. Tahun ini, adiknya baru lahiran, tapi dia cuma bisa ketemu sekali selama satu jam. Sedih? Pasti. Apalagi, keluarga adalah segalanya buat dia. Selain itu, dia juga harus ngorbanin banyak hal yang dia suka. Soalnya, buat ada di titik ini, butuh waktu dan tenaga yang nggak sedikit. Ibarat kata, harus no life demi ngejar impian.
Layak atau Tidak? Pengorbanan yang Berbuah Manis
Boal yakin, semua pengorbanannya itu worth it. Apalagi, pas menang di Brasil, dia nggak ngerasa terlalu seneng. Ada sesuatu yang kurang. Tapi pas dateng ke Worlds dan main di Dallas serta LA, dia ngerasa semua pengorbanannya terbayar lunas. Dia pun berjanji bakal terus berkorban. Soalnya, dia udah sadar sejak awal, ini adalah bagian dari pekerjaannya. Meski kadang bikin capek, tapi bisa berdiri di sini, keliling dunia, main lawan tim-tim terbaik, dan tampil di depan banyak negara, itu adalah pengalaman yang nggak ternilai harganya. Ibarat kata, capek nge-push rank, tapi akhirnya bisa dapet tier tertinggi.
Idola? Nggak Ada yang Spesial dari Brasil
Kalo ditanya siapa pemain Brasil yang dia idolain, Boal jujur, nggak ada yang terlalu spesial. Dia lebih banyak terinspirasi dari pemain dari region lain, atau bahkan dari cabang olahraga lain. Tapi kalo harus nyebut satu nama, mungkin Revolta (Gabriel Henud Cresci). Soalnya, dia adalah temen deketnya dan pernah ngalahin EDG, tim nomor satu dari LPL di tahun 2016. Udah lama banget emang, Boal mengakui. Tapi dia juga pengen punya pengalaman yang sama: ngalahin tim kuat dari region kuat. Ibarat kata, pengen ngerasain sensasi ngalahin final boss.
Kontrak Hampir Habis, Masa Depan Masih Abu-Abu
Kontrak Boal dan rekan-rekannya bakal habis November ini. Dia belum tau apa yang bakal terjadi di musim 2026. Pelatihnya, Chris (SeeEl – Christopher Lee), sempet nyebutin beberapa pemain yang pengen perpanjang kontrak atau nyari tantangan baru. Tapi untuk situasinya sendiri, Boal masih belum yakin. Sejak awal, targetnya adalah tampil bagus di kancah internasional. Jadi, pindah ke region yang lebih kuat adalah salah satu caranya. Dia pengen banget dapet kesempatan buat bersaing di region lain, tapi dia juga nggak tau apa yang bakal terjadi dengan roster-nya saat ini. Ibarat kata, lagi nunggu transfer window dibuka.
Harapan dari Pengorbanan
Boal, dengan segala pengorbanannya, memberi kita pelajaran berharga. Bahwa mimpi besar butuh pengorbanan yang nggak kecil. Bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Dan bahwa, semangat pantang menyerah adalah kunci untuk mencapai tujuan. Semoga, kisah Boal ini bisa jadi inspirasi buat kita semua. Siapa tau, suatu saat nanti, kita bisa ngeliat tim dari region minor berjaya di panggung dunia. Kenapa nggak? Bukankah dalam game, semua orang punya kesempatan yang sama untuk menang?


