Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Bukan Cuma ‘Top 20’: Game ‘B-List’ Ternyata Diam-diam Kuasai Dompet dan Waktu Mainmu

Lupakan sejenak gemerlap lampu sorot Top 20 game yang menguasai rak-rak digital dan telinga para gamer. Ternyata, diam-diam di sudut-sudut yang lebih sunyi dalam ekosistem gaming Barat, ada kekuatan lain yang sedang bangkit. Bukan, ini bukan tentang kebangkitan zombie di game survival, melainkan tentang game-game di luar daftar 20 besar yang secara perlahan tapi pasti mencuri kue pendapatan dan waktu bermain. Data dari Newzoo seolah membisikkan fakta ini, mengindikasikan bahwa pasar tidak lagi sekadar didominasi oleh para raksasa yang sudah kita kenal.

Di Balik Bayang-Bayang Sang Juara

Analisis mendalam dari laporan PC & Console Gaming Report tahunan yang dirilis oleh Newzoo membuka mata. Game-game yang tidak masuk dalam daftar 20 teratas justru menunjukkan peningkatan signifikansi komersial yang patut diperhitungkan di berbagai platform utama. Ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan pergeseran struktural yang mulai membentuk ulang lanskap pendapatan dan keterlibatan pemain.

Perhatikan angka ini: antara tahun 2022 hingga 2025, game PC yang berada di luar Top 20 berhasil mendongkrak pangsa pendapatan mereka dari 48% menjadi 56%. Sementara itu, waktu bermain untuk kategori yang sama melonjak dari 33% menjadi 45%. Pertumbuhan ini terasa begitu nyata, terutama untuk judul-judul premium dan game lama (back-catalogue) yang tersebar di pasar-pasar kunci seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol.

“Ruang di bawah Top 20 kini menjadi lebih bermakna secara ekonomi,” ungkap Tianyi Gu, manajer analisis pasar Newzoo. Ungkapan ini bukan berarti pasar menjadi kurang terkonsentrasi, namun lebih kepada penegasan bahwa game-game di luar lingkaran elit kini memiliki daya tarik komersial yang jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu. Sebuah ironi ketika game yang dianggap ‘biasa’ justru mulai bersinar terang.

Pergeseran Preferensi Genre: Dari Dor-Dor ke Lari dan Bertahan

Di tengah pergeseran kekuatan ini, genre-genre game pun turut mengalami metamorfosis. Jika dulu genre shooter seringkali mendominasi panggung, kini tren menunjukkan sedikit pergeseran. Game-game bergenre Action RPG dan game survival justru menunjukkan pertumbuhan yang mengesankan. Nama-nama seperti Path of Exile 2, Monster Hunter Wilds, dan Kingdom Come: Deliverance 2 menjadi contoh nyata dari kebangkitan genre ini. Ditambah lagi, judul-judul lawas yang masih punya taji seperti Cyberpunk 2077, Elden Ring, dan Skyrim terus membuktikan bahwa kualitas cerita dan gameplay tak lekang oleh waktu.

Beralih ke ranah petualangan yang lebih menantang, game-game seperti Rust, Day Z, Dead by Daylight, dan tentu saja Red Dead Redemption 2 masih kokoh dalam menarik perhatian para pemain. Tak ketinggalan, pendatang baru seperti R.E.P.O. yang meluncur tahun lalu turut meramaikan genre ini, membuktikan bahwa ada ruang untuk cerita-cerita baru yang imersif.

Konsol: Surga Franchise, Tapi Ada Sisi Lain

Di ranah konsol, cerita sedikit berbeda. Pendapatan masih cenderung terkonsentrasi pada franchise-franchise besar, dengan sebagian besar pengeluaran pemain diarahkan pada judul-judul yang sudah masuk dalam Top 20. Seolah para pemilik konsol masih setia pada nama-nama besar yang sudah teruji.

Namun, jangan salah. Game-game di luar peringkat teratas pun mulai merangsek naik. Pada tahun 2025, judul-judul yang tidak masuk Top 20 menyumbang 38% dari total pendapatan di platform PlayStation, sebuah peningkatan signifikan dari 33% di tahun 2022. Dalam rentang waktu yang sama, waktu bermain untuk kategori ini juga melonjak 32%. Sebuah bukti bahwa daya tarik game-game ‘kelas dua’ ini semakin memikat.

Perlu dicatat bahwa waktu bermain yang substansial di PlayStation banyak datang dari game action-adventure first-party yang sudah menjadi langganan kesuksesan, seperti God of War Ragnarök, Ghost of Tsushima, Marvel’s Spider-Man 2, dan The Last of Us Part 2. Genre petualangan dan RPG memang masih menjadi primadona di platform ini, namun game-game non-Top 20 perlahan tapi pasti mulai mencuri perhatian.

Xbox dan Misteri Game Pass

Bergerak ke platform Xbox, waktu bermain untuk game-game di luar Top 20 menunjukkan pertumbuhan sebesar 12%. Angka yang cukup baik, meskipun untuk urusan pendapatan, game-game ini hanya menguasai 35% dari total pendapatan di tahun 2025. Ada indikasi kuat bahwa Game Pass memainkan peran krusial dalam mendorong waktu bermain ini. Langganan tersebut seolah menjadi pintu gerbang yang lebih mudah diakses oleh lebih banyak judul game.

Genre RPG dan petualangan juga tetap populer di Xbox. Namun, Newzoo menyoroti bagaimana Game Pass memungkinkan lebih banyak judul game untuk ‘mendapatkan visibilitas dan kesempatan uji coba yang mungkin tidak mereka dapatkan di platform lain’. Ini adalah dilema menarik: apakah peningkatan waktu bermain ini sebanding dengan konversi pendapatan langsung, ataukah hanya sekadar meningkatkan kepuasan pelanggan melalui akses yang lebih luas?

Sebuah Pasar yang Semakin Terfragmentasi dan Dinamis

Data ini memberikan gambaran bahwa pasar game Barat, alih-alih menjadi medan pertempuran monopoli oleh segelintir judul mega-hit, justru menunjukkan tren fragmentasi yang menarik. Keterlibatan pemain tidak lagi terpaku pada satu atau dua franchise dominan. Munculnya game-game di luar Top 20 yang berhasil merebut hati pemain dan dompet mereka menandakan sebuah pasar yang semakin matang dan beragam. Sebuah lanskap di mana kreativitas dan inovasi, bahkan tanpa dukungan promosi sebesar franchise raksasa, tetap memiliki peluang untuk bersinar.

Tentu saja, ini tidak berarti Top 20 kehilangan relevansinya. Judul-judul teratas masih menjadi lokomotif pendapatan utama, terutama di konsol. Namun, fakta bahwa game-game ‘bawah tanah’ ini semakin kuat menunjukkan bahwa para developer indie atau studio yang lebih kecil memiliki lebih banyak peluang untuk menemukan audiens mereka. Sebuah era baru di mana kualitas konten dan strategi distribusi yang cerdas bisa menjadi kunci sukses, melampaui sekadar nama besar.

Ke depannya, menarik untuk diamati bagaimana tren ini akan terus berkembang. Apakah segmentasi pasar ini akan semakin nyata, ataukah akan ada fenomena baru yang muncul? Satu hal yang pasti, para pemain kini memiliki lebih banyak pilihan, dan para developer harus lebih kreatif dalam memenangkan perhatian di tengah ramainya lautan game yang terus membesar.

Previous Post

2XKO: Fitur Spectate Mati Suri, Player Geleng Kepala

Next Post

Prabowo-Putin: Secangkir Minyak & Gas untuk Jamin Keamanan Energi RI

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *