Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Campak Kembali Mengintai: Ternyata AS Tak Kebal Lagi

Tiga dekade lalu, campak di Amerika Serikat itu semacam hantu legenda—kasusnya hanya ratusan setiap tahunnya, itu pun kalau ada. Tapi sekarang? Penyakit ini sudah jadi tamu rutin yang begitu merajalela, sampai-sampai berita wabah baru aja nggak bikin orang terkejut lagi.

Campak: Kembalinya Penyakit yang Dinyatakan Punah

Sejak Maret 2026, campak sudah berputar-putar tanpa henti di Amerika Serikat lebih dari setahun lamanya. Dimulai dari wabah di Texas yang berlangsung dari Januari hingga Agustus 2025. Belum lagi wabah di perbatasan Utah dan Arizona yang masih aktif sejak Agustus, dan lonjakan kasus di South Carolina yang drastis di awal 2026. Sejauh ini, 30 negara bagian sudah mencatat kasus campak tahun ini; 47 negara bagian melaporkan kasus sejak awal 2025. Lebih dari 1.300 infeksi sudah dikonfirmasi per 6 Maret, mengarahkan AS ke rekor angka tertinggi dalam 35 tahun, melampaui jumlah kasus tahun 2025.

Observasi kami di Brown University’s Pandemic Center soal kesiapan dan penanganan wabah membuat kami menyimpulkan: kembalinya campak di AS ini adalah pertanda suram dari apa yang akan datang. Tingkat vaksinasi yang rendah di seluruh negeri berarti wabah campak akan terus terjadi, menyebabkan rawat inap dan kematian yang sebenarnya bisa dicegah. Lebih dari itu, kebangkitan penyakit ini adalah peringatan serius tentang kapabilitas negara dalam menangani ancaman penyakit menular jenis apa pun.

Kembalinya campak bukanlah misteri. Akar masalahnya adalah penurunan angka vaksinasi. Sekitar 90% populasi AS sudah menerima vaksin MMR (measles, mumps, rubella). Namun, di beberapa wilayah, angka ini turun drastis hingga di bawah 60%. Sejak sekitar 2019-2020, angka keseluruhan ini sudah jatuh di bawah ambang batas 95% yang dibutuhkan untuk herd immunity. Angka ini krusial secara nasional, tapi mempertahankan herd immunity di tingkat lokal juga sama pentingnya untuk mencegah campak menemukan celah di komunitas yang tidak tervaksinasi.

Negara yang bebas dari transmisi berkelanjutan selama 12 bulan dinyatakan telah menghilangkan campak—status yang diraih AS pada tahun 2000. Namun, Pan American Health Organization sempat menunda rapat penentuan status AS dan Meksiko (yang juga berjuang melawan campak) untuk kehilangan status ini hingga November. Tren saat ini menunjukkan kemungkinan keduanya kehilangan status tersebut, sama seperti Kanada yang kehilangan statusnya pada November 2025. Ketiga negara ini mengalami penurunan angka vaksinasi di bawah 95% dan wabah mereka mungkin memiliki kaitan epidemiologis.

Ancaman Serius, Jangka Panjang bagi Kesehatan AS

Secara umum, wabah campak yang sedang berlangsung di AS menandakan penyakit ini kembali dengan konsekuensi kesehatan yang parah. Pada tahun 2025, tiga orang meninggal akibat campak di AS—angka tertinggi sejak penyakit ini dinyatakan hilang 25 tahun lalu. Dari 2.283 kasus campak yang dikonfirmasi di tahun 2025, 11% membutuhkan rawat inap. Di South Carolina, di mana sebagian besar kasus campak dilaporkan pada tahun 2026, rumah sakit tidak diwajibkan melaporkan pasien yang dirawat karena komplikasi campak, jadi angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Orang yang sembuh dari campak berisiko mengalami komplikasi seperti pneumonia yang bisa berakibat fatal, atau encephalitis—pembengkakan otak yang dapat menyebabkan ketulian atau disabilitas intelektual. Virus ini juga dapat merusak sistem kekebalan tubuh, membuat orang lebih rentan terhadap infeksi lain dalam jangka panjang, bahkan infeksi yang pernah diderita sebelumnya. Dalam kasus langka—meskipun lebih mungkin terjadi jika terinfeksi saat kecil—pasien campak bisa mengembangkan demensia progresif yang dikenal sebagai subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), dalam kurun waktu dua hingga 10 tahun setelah infeksi. SSPE selalu berujung kematian. Tahun lalu, seorang anak usia sekolah di Los Angeles meninggal karena kondisi ini bertahun-tahun setelah terinfeksi campak saat bayi, sebelum cukup umur untuk divaksinasi.

Campak: Momok Ekonomi yang Mengerikan

Wabah campak yang berulang di AS berarti biaya ekonomi yang tinggi. Negara-negara telah berupaya menghilangkan campak sebagian karena manfaat ekonomi yang jelas dari menghentikan transmisi domestik virus ini. Studi menunjukkan biaya penahanan wabah campak seringkali mencapai puluhan ribu dolar per kasus. Satu wabah di Washington pada 2018-2019, dengan 72 kasus—yang tergolong kecil dibandingkan laporan negara bagian saat ini—menelan biaya respons kesehatan masyarakat, biaya medis, dan kerugian produktivitas sebesar US$3,2 juta. Common Health Coalition memperkirakan penurunan 1% cakupan MMR secara berkelanjutan akan merugikan AS miliaran dolar di sistem layanan kesehatan dan ekonomi.

Kontrol wabah campak, seperti yang terjadi di South Carolina sejak 2025, bisa memakan biaya jutaan dolar.

Celaka Bagi Penyakit Menular

Sebagaimana mengkhawatirkannya wabah campak baru-baru ini, hal tersebut menunjukkan masalah sistemik yang lebih besar. Cara sebuah negara mengendalikan campak dapat menjadi tolok ukur seberapa baik mereka menangani penyakit lain. Langkah-langkah pencegahan penyebaran campak sama dengan penyakit lain: mengerahkan vaksin, mendeteksi dan mengisolasi kasus, melacak kontak erat, dan memastikan penanganan pasien yang aman. Namun, selain campak, penyakit yang dulunya terkontrol seperti batuk rejan (whooping cough) juga melonjak tajam pada 2024 dan tetap tinggi di 2025 dibandingkan sebelum pandemi COVID-19.

Hal ini terjadi karena pengendalian penyebaran banyak penyakit menular bergantung pada kepercayaan publik terhadap komponen dasar kesehatan masyarakat. Penurunan cakupan vaksin MMR menunjukkan tantangan mendasar dalam dukungan publik terhadap vaksin. Kepercayaan publik terhadap Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga terus terkikis, menurut survei KFF dari 2023 hingga awal 2026. Kurang dari separuh responden survei yang memercayai pemerintah “cukup banyak” dalam memberikan informasi vaksin yang andal. Retaknya kepercayaan publik ini akan mempersulit upaya perlindungan dari ancaman penyakit di masa depan, baik itu wabah, pandemi, maupun serangan biologis.

Previous Post

Bali Makin Aman: Turis Merasa Nyaman, Tapi Hati-hati Sama Tukang Tukar Uang!

Next Post

Capcom Cup: Dilarang Nonton, Streamer Ngaca Malah Kena Banned

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *