Peaches, sang ikon electroclash yang namanya lebih kontroversial daripada skripsi mahasiswa abadi, akhirnya kembali dari persembunyian. Setelah lebih dari satu dekade vakum album (mungkin sibuk menghitung royalti?), ia muncul lagi dengan single yang judulnya saja sudah bikin tetangga cosplay jadi hansip: “Not in Your Mouth None of Your Business”. Tapi, kenapa baru sekarang? Apakah selama ini dia terjebak di labirin hak cipta musik atau sekadar lupa cara bikin lagu?
Alasan “kesibukan” klasik tentu saja jadi tameng utama. Tur keliling dunia, kolaborasi dengan kelompok tari yang mungkin lebih aneh dari eksperimen seni kampus, hingga menjadi pemeran utama dalam produksi teater Bertolt Brecht yang judulnya saja sudah bikin alis berkerut: “The Seven Deadly Sins”. Intinya, dia sangat sibuk sampai lupa kalau punya fans yang sudah rindu berat. Tapi, mari kita telaah lebih dalam, apakah kesibukan ini hanya alibi seorang artis yang kehabisan ide?
Kenapa Comeback-nya Lama Banget? Apakah Royaltinya Kurang?
Bagi yang belum tahu, Peaches ini bukan sekadar penyanyi. Dia adalah manifesto berjalan, simbol perlawanan terhadap norma-norma sosial yang kaku. Liriknya seringkali vulgar, provokatif, tapi juga jujur dan berani. Musiknya adalah perpaduan antara punk, electronic, dan sedikit sentuhan disko dari neraka. Jadi, wajar kalau banyak yang bertanya-tanya, kenapa sosok seberani ini baru muncul lagi sekarang, di saat dunia sedang keriting-keritingnya?
Menurut pengakuannya, “you” dalam single terbarunya adalah mereka yang merasa berhak mengatur tubuh orang lain, terutama kaum queer dan trans. Lagu ini adalah mantra pemberdayaan, cara untuk mengatakan “Mingkem!” kepada mereka yang merasa paling benar. Sebuah pesan yang sangat relevan di era di mana intoleransi berkedok agama dan moralitas semakin merajalela. Tapi, apakah ini hanya sekadar marketing gimmick atau memang panggilan jiwa seorang aktivis?
Pertanyaan ini tentu saja sulit dijawab. Seorang artis memang berhak untuk vakum, mencari inspirasi, atau sekadar menikmati hidup dari hasil jerih payah masa lalu. Tapi, di sisi lain, seorang artis juga punya tanggung jawab untuk menyuarakan kebenaran, terutama jika dia punya platform dan pengikut yang cukup besar. Jadi, kembalinya Peaches ini bisa jadi adalah kombinasi antara keduanya: kebutuhan untuk aktualisasi diri dan panggilan untuk melawan ketidakadilan.
Kostum Opera Bekas: Antara Daur Ulang dan Nostalgia?
Selain musik, Peaches juga dikenal dengan kostum konsernya yang nyeleneh. Kali ini, dia memilih pendekatan yang lebih berkelanjutan dengan membeli kostum opera bekas di Berlin dan mengubahnya menjadi kreasi yang lebih aneh lagi dengan bantuan Charlie Le Mindu. Sebuah langkah yang patut diapresiasi, mengingat industri fashion adalah salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Tapi, apakah ini hanya sekadar tren atau memang refleksi dari kesadaran lingkungan yang meningkat?
Ada juga sentuhan personal dalam penampilannya. Di video “Not in Your Mouth”, ia mengenakan jaket kulit milik saudara perempuannya yang sudah meninggal lima tahun lalu. Sebuah cara untuk mengenang dan menghormati orang terkasih. Jaket itu bukan sekadar pakaian, tapi juga simbol dari kenangan dan cinta yang abadi. Sebuah momen yang mengharukan di tengah hingar bingar musik electroclash yang provokatif.
“No Lube So Rude”: Judul Album yang Bikin Mikir Keras
Peaches memang jago dalam memilih judul album yang kontroversial. Setelah “The Teaches of Peaches” dan “Impeach My Bush”, kini ia hadir dengan “No Lube So Rude”. Sebuah judul yang secara harfiah berarti “Tidak Ada Pelumas, Sangat Kasar”. Tapi, tentu saja ada makna yang lebih dalam dari sekadar itu. Menurutnya, album ini adalah tentang bagaimana kita bisa mengurangi gesekan di dunia yang penuh dengan iritasi dan kekeringan. Sebuah metafora yang cerdas dan relevan dengan kondisi sosial politik saat ini.
Judul ini juga mencerminkan gaya Peaches yang selalu terus terang dan tanpa basa-basi. Dia tidak takut untuk membahas isu-isu tabu, menggunakan bahasa yang vulgar, dan menantang norma-norma yang ada. Sebuah pendekatan yang mungkin tidak disukai oleh sebagian orang, tapi juga menjadi daya tarik bagi mereka yang mencari kebebasan dan kejujuran dalam berekspresi.
Toronto Era 90an: Ketika Feist Jadi Teman Sekamar dan Kecoa Jadi Santapan
Siapa sangka, Peaches ternyata pernah menjadi teman sekamar Feist di Toronto pada era 90an. Mereka tinggal di atas toko seks queer bernama “Come As You Are” dan sering mengadakan pesta gila-gilaan sebelum akhirnya masuk kamar masing-masing untuk membuat album. Sebuah potret kehidupan seniman yang unik dan inspiratif. Bayangkan saja, dua musisi dengan genre yang berbeda, tinggal di satu atap, saling mendukung, dan menginspirasi satu sama lain.
Selain Feist, Peaches juga dekat dengan Chilly Gonzales, yang dulu punya band riff-rock bernama Freedom. Mereka semua adalah bagian dari komunitas seni yang vibrant dan saling mendukung. Sebuah contoh bagaimana kolaborasi dan persahabatan bisa menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Tapi, tentu saja, ada juga sisi gelapnya. Mereka juga harus berjuang melawan kecoak dan tikus yang seringkali menjadi tamu tak diundang di apartemen mereka.
Berlin: Masihkah Jadi Surga Bagi Para Seniman?
Sebagai penduduk Berlin selama 20 tahun, Peaches merasakan betul perubahan yang terjadi di kota itu. Gentrifikasi, kesenjangan ekonomi, dan perubahan politik membuat Berlin kehilangan sebagian dari daya tariknya. Tapi, ia tetap percaya bahwa masih ada kantong-kantong kreatif yang bisa dipertahankan. Berlin tetap menjadi tempat yang lebih terbuka dan toleran dibandingkan Kanada pada saat ia pindah ke sana. Sebuah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus takut dihakimi.
Namun, ia juga mengakui bahwa situasinya semakin sulit. Pendanaan untuk seni dipotong, dan banyak seniman yang terpaksa pindah karena biaya hidup yang semakin tinggi. Sebuah ironi, mengingat Berlin dulunya dikenal sebagai kota yang murah dan penuh dengan ruang untuk berekspresi. Tapi, Peaches tetap optimis dan percaya bahwa para seniman akan terus berjuang untuk mempertahankan eksistensi mereka.
Dulu Band-nya Namanya “The Shit”: Kok Bisa?
Fakta menarik lainnya, Peaches ternyata pernah tergabung dalam band bernama “The Shit” bersama Chilly Gonzales dan Mocky. Mereka sering berkumpul di ruang bawah tanah, menghisap ganja, dan berteriak tentang apa pun yang mereka rasakan. Sebuah proses kreatif yang sangat impulsif dan improvisasional. Setelah jam session pertama, mereka bertukar instrumen dan Peaches jatuh cinta pada keyboard. Dari situlah nama “The Shit” muncul, sebagai bentuk ekspresi kekaguman terhadap diri sendiri.
Band ini memang tidak terlalu sukses secara komersial, tapi sangat penting bagi perkembangan musik Peaches. Di situlah ia menemukan jati dirinya sebagai seorang seniman yang berani, provokatif, dan tanpa kompromi. Semangat “The Shit” inilah yang kemudian ia bawa ke dalam karier solonya.
Kembalinya Peaches ke dunia musik bukan hanya sekadar comeback biasa. Ini adalah deklarasi bahwa semangat perlawanan dan kebebasan berekspresi tidak akan pernah padam. Di tengah dunia yang semakin konservatif dan intoleran, kehadiran Peaches adalah oase bagi mereka yang mencari kejujuran, keberanian, dan sedikit kegilaan.


