Bayangkan ini: dunia Formula 1 yang penuh adrenalin bertemu dengan keajaiban musikalitas Broadway. Kedengarannya seperti fanfic absurd? Tunggu dulu. Cynthia Erivo, sang Elphaba dari Wicked, baru saja memberikan penilaian vokal yang jujur pada para pembalap F1. Mari kita bedah, karena kalau bukan sekarang, kapan lagi kita lihat Vettel nyanyi “Who Let the Dogs Out” dengan gentle?
Ketika Sirkuit Balap Jadi Panggung Audisi
Di tengah gemerlap Las Vegas Grand Prix, Erivo tidak hanya terpukau oleh kecepatan mobil, tapi juga oleh keberanian para pembalap untuk unjuk gigi. Dibekali klip-klip para pembalap yang sedang bernyanyi ria di kokpit, ia pun menjadi juri dadakan. Hasilnya? Sebuah pertunjukan yang lebih menghibur dari drama strategi pit stop.
Lando Norris membuka audisi dengan semangat membara menyanyikan Friday Dopamine Re-Edit. Sayangnya, semangat saja tidak cukup. “Lando, aku tidak tahu nadanya apa. Usaha sih ada, tapi aku nggak bisa dengar nadanya. Jadi, 4/10 untuk usahanya,” komentar Erivo. Mungkin Lando lebih baik fokus menyetir saja, ya?
Fernando Alonso, dengan pengalaman dua kali juara dunia, memilih lagu We Are the Champions. Hasilnya lumayan, “Fernando, aku bisa dengar nadanya. Aku mengerti apa yang kau nyanyikan, dan aku langsung mengenalinya. 5.5/10.” Setidaknya, Fernando membuktikan bahwa dirinya adalah seorang juara, meski hanya dalam level karaoke.
Vettel yang Terlalu Kalem dan Sainz yang Kurang Smooth
Sebastian Vettel membuat kejutan dengan lagu Who Let the Dogs Out. Tapi, ada yang kurang. “Seb, kalau kita mau menyanyikan lagu itu, kita butuh sedikit lebih banyak…oomph! Terlalu lembut. Aku harus mengurangi beberapa poin karena kelembutannya. Ini bukan lagu yang lembut. 3/10. Aku butuh lebih banyak usaha,” ujar Erivo. Mungkin Vettel terlalu fokus pada isu lingkungan hingga lupa bagaimana caranya menggonggong.
Kemudian, ada Carlos Sainz dengan Smooth Operator. Lagu ini memang sudah menjadi bagian dari identitasnya, tapi Erivo punya pendapat lain. “Carlos, aku suka lagunya, tapi nyanyiannya nggak smooth. Tapi, aku suka pilihan lagunya. Itu salah satu favoritku. Jadi, 6/10. Aku tahu ini favorit banyak orang.” Sepertinya, “Smooth Operator” lebih cocok jadi nama panggilan daripada deskripsi akurat kemampuan vokal Sainz.
Max Verstappen Mencuri Perhatian, Jenson Button Punya Potensi Vibrato
Max Verstappen, sang juara bertahan, membuat Erivo terkesan dengan Viva Las Vegas. “Max! Aku terkesan! 8/10 untuk itu. Tepat untuk di mana kita berada. Nadanya pas. Ritmenya bagus. Kerja bagus, keren,” pujinya. Sepertinya, bakat Verstappen tidak hanya terbatas pada sirkuit balap, tapi juga dunia tarik suara.
Jenson Button, sang juara dunia 2009, memilih cara unik dengan berteriak We Are The Champions melalui radio tim. “Sebenarnya, aku suka! Aku suka karena aku bisa mendengar potensi vibrato di sana. Dan itu tinggi. Kau menyanyikannya di sana. Jenson, 7/10. Itu yang paling merdu yang aku dengar sejauh ini,” komentar Erivo. Siapa sangka, di balik helm balap, Jenson Button menyimpan bakat terpendam seorang penyanyi opera?
Wicked di Garasi Williams dan Hot Lap Bersama Button
Tidak hanya menilai kemampuan vokal, Erivo juga mendapatkan kesempatan untuk merasakan langsung dunia F1. Ia melakukan hot lap di sekitar sirkuit Las Vegas bersama Jenson Button dan mengunjungi garasi Williams. Momen yang paling ikonik? Saat Erivo duduk di kokpit mobil Carlos Sainz, seperti Elphaba yang sedang mencoba kendaraan baru.
Momen ini diabadikan oleh tim Williams melalui akun Twitter mereka dengan caption yang menggelitik, “Ada seseorang yang wicked di mobil Carlos.” Tentu saja, ini adalah referensi cerdas untuk peran Erivo sebagai Elphaba di film Wicked. Seolah-olah, dunia F1 dan dunia sihir Broadway bertemu dalam satu bingkai foto.
Ketika Formula 1 Jadi Lebih dari Sekadar Balapan
Kehadiran Cynthia Erivo di Las Vegas Grand Prix membuktikan bahwa Formula 1 lebih dari sekadar balapan. Ini adalah panggung hiburan yang menawarkan berbagai macam cerita, mulai dari drama persaingan di lintasan hingga momen-momen lucu di luar sirkuit. Penilaian vokal Erivo pada para pembalap F1 adalah contoh sempurna bagaimana dunia olahraga dan seni dapat berkolaborasi untuk menciptakan konten yang menarik dan menghibur.
Apakah ini berarti kita akan melihat para pembalap F1 merilis album karaoke di masa depan? Mungkin saja. Tapi, yang pasti, kita sudah mendapatkan bukti bahwa beberapa dari mereka memiliki bakat terpendam yang layak untuk diapresiasi, meski hanya dalam skala 4/10.
Apa Selanjutnya? Opera Kokpit?
Aksi Cynthia Erivo memberikan kita semua pelajaran penting: jangan pernah meremehkan kemampuan seseorang untuk membuat kejutan. Siapa sangka, di balik helm dan seragam balap, para pembalap F1 menyimpan suara-suara yang… unik. Apakah ini akan memicu tren baru, di mana para pembalap akan dinilai tidak hanya dari kecepatan, tapi juga dari kemampuan menyanyi? Hanya waktu yang akan menjawab.
Yang jelas, kita semua menunggu dengan penuh harap. Siapa tahu, suatu hari nanti, kita akan melihat pertunjukan opera di kokpit mobil F1. Jangan kaget kalau tiba-tiba Max Verstappen atau Fernando Alonso muncul di panggung Broadway. Dunia ini penuh kejutan, dan Formula 1 adalah salah satu sumber kejutan yang paling tak terduga.


