Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Dari Karantina ke Karier Catur: Kisah Streamer Wanita yang Mencuri Perhatian

Dahulu kala, di era karantina yang membosankan, Nemo Zhou menemukan pelarian dari kebosanan dan hasrat terpendam untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah melalui papan catur. Siapa sangka, aksi iseng ini ternyata memutarbalikkan nasibnya dari mahasiswa biasa menjadi ratu streaming catur, membuktikan bahwa keberuntungan bisa datang dalam balutan langkah kuda dan skakmat digital.

Zhou, seorang Woman Grandmaster (gelar tertinggi khusus putri), kala itu sedang sibuk mengejar gelar sarjana ekonomi dan matematika di Universitas Toronto. Namun, ketika dunia terpaksa berdiam diri di rumah, ia justru menemukan panggung globalnya. Setelah sempat menjadi bintang tamu di kanal milik seorang teman, Zhou meluncurkan stream-nya sendiri di tahun 2020. Sebuah langkah yang terukur sempurna, sebab tak lama berselang, serial Netflix “The Queen’s Gambit” meledak, memicu gelombang demam catur global yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menyadari bahwa ini bukan sekadar tren sesaat, Zhou memutuskan untuk mengorbankan toga akademis demi gemerlap layar dan sorak-sorai penonton daring.

Kini, di usianya yang ke-26, Zhou bukan lagi sekadar mahasiswi yang iseng bermain catur. Ia telah bertransformasi menjadi magnet konten digital dengan lebih dari dua juta pengikut tersebar di Twitch, Instagram, YouTube, dan TikTok. Jadwalnya padat, lima hingga enam jam sehari, minimal lima hari seminggu, dengan puncak audiens di akhir pekan. Kontennya bervariasi, mulai dari duel daring yang sengit hingga pertandingan tatap muka yang menantang, termasuk melawan para ‘hustler’ legendaris di Washington Square Park, New York – sebuah bukti bahwa ia tak gentar menghadapi siapa pun, di mana pun.

Pendapatan mengalir deras dari berbagai sumber. YouTube memberinya cuan dari tayangan iklan dan kesepakatan brand, sementara Instagram disumbang oleh postingan bersponsor. Di Twitch, langganan bulanan yang dimulai dari sekitar $5 dan donasi berupa “bits”, mata uang virtual platform tersebut, menjadi pundi-pundi tambahan. Seorang peneliti dari Universitas York memperkirakan, kreator dengan jangkauan sebesar Zhou bisa saja meraup gaji enam digit gabungan dari seluruh platform. Namun, angka pasti tetap menjadi misteri, sebab tak banyak streamer yang blak-blakan soal urusan finansial mereka.

Perjalanan Zhou mencerminkan pergeseran paradigma dalam dunia catur. Olahraga yang dulu identik dengan keheningan ruang tertutup, permainan berjam-jam tanpa upaya menarik penonton awam, kini menjelma menjadi tontonan yang dinamis. Turnamen-turnamen besar mulai mengadopsi format “rapid” dan “blitz” dengan waktu bermain super singkat, bahkan menyertakan monitor detak jantung pemain untuk menampilkan ketegangan di momen krusial. Tak heran jika catur bahkan sudah debut di Esports World Cup, ajang kompetisi gim terbesar dunia di Riyadh. Perubahan ini, menurut Fiona Steil-Antoni, seorang Woman International Master, adalah sebuah “makeover” yang sangat dibutuhkan untuk melepaskan citra catur sebagai permainan ‘orang tua’.

‘Kita Perlu Sedikit Makeover’

Upaya mempercantik citra catur ini turut dirasakan oleh generasi kreator baru. Sarah El Barbry, 24 tahun, adalah salah satu contohnya. Lahir dari orang tua Mesir-Maroko dan besar di Paris, ia mulai membangun kanal catur di TikTok sejak 2023. Keputusannya menjadi streamer tahun lalu dipicu oleh minimnya kreator perempuan yang berbahasa Prancis. Kontennya adalah perpaduan antara aksi bermain catur daring, materi edukatif, dan tantangan unik seperti bermain sambil mata tertutup – sebuah demonstrasi ketajaman visualisasi yang memukau.

Salah satu videonya yang menampilkan permainan catur hanya dengan Raja dan Ratu, yang berujung pada checkmate, viral dan meraup 28 juta penonton, membawa serta 10.000 pengikut baru. Kini, ia memiliki lebih dari 75.000 pengikut lintas platform. El Barbry mengakui bahwa dunia kreasi konten catur bisa sangat menggiurkan, namun garansi kesuksesan sama sekali tidak ada. Awalnya, ia hanya mengantongi $117 per bulan dari streaming sebelum merambah ke YouTube. Kini, pendapatannya berkisar $1.700 per bulan, angka yang ironisnya masih di bawah upah minimum Prancis. Fenomena ini menggarisbawahi kenyataan pahit: kesuksesan segelintir streamer papan atas seringkali menutupi fakta bahwa ribuan, bahkan jutaan, kreator lain berjuang keras tanpa hasil.

Fenomena menarik lainnya adalah komposisi audiens. Di platform seperti Twitch, kanal yang dikelola perempuan kini mendominasi separuh dari daftar 20 kanal catur terpopuler, mengalahkan kanal korporat raksasa. Namun, mayoritas kreator dan penonton catur secara keseluruhan masih didominasi laki-laki. El Barbry memperkirakan audiensnya, yang awalnya 95% laki-laki, kini beranjak ke angka 85%. Ia sendiri tak segan mengakui bahwa ia mendapat lebih banyak penonton karena faktor gender. “Nggak apa-apa sih, karena itu kan bagian dari permainan,” ujarnya santai. Zhou pun mencatat hal serupa di YouTube, di mana 80% audiensnya laki-laki, meskipun di Instagram, laman caturnya memiliki pembagian 50-50 – sebuah keseimbangan yang ia anggap “gila” sekaligus “keren”.

Perempuan di Puncak Permainan

Booming catur ini terbukti ampuh menarik lebih banyak perempuan dan anak perempuan untuk berkompetisi. Proporsi pemain perempuan yang terdaftar di FIDE (Federasi Catur Dunia) untuk kontrol waktu standar meningkat dari 10% pada 2020 menjadi 16,5% pada 2026. Namun, panggung elite catur masih didominasi laki-laki. Saat ini, tidak ada perempuan dalam daftar 100 pemain teratas dunia, dan hanya tiga perempuan sepanjang sejarah yang berhasil mencapai prestasi serupa. Studi menunjukkan bahwa kesenjangan performa ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk partisipasi perempuan yang lebih rendah, minimnya pelatih perempuan, dan lingkungan bermain yang kerap dianggap tidak ramah bagi kaum hawa.

Situasi ini berbanding terbalik di negara-negara seperti Mongolia, Sri Lanka, dan Uganda, di mana catur diajarkan sejak sekolah dasar. Di Mongolia, hampir 40% pemain terdaftar FIDE adalah perempuan, sementara Sri Lanka mencatat 35% dan Uganda 30%. Fiona Steil-Antoni optimis bahwa perubahan sedang terjadi, dan ia “cukup optimis” catur akan mencapai “semacam kesetaraan” di masa hidupnya. Namun, jejak Judit Polgar, satu-satunya perempuan yang berhasil menembus elit absolut catur, menjadi pengingat akan tantangan yang masih ada. Ia menjadi Grandmaster termuda di usianya 15 tahun, memecahkan rekor dunia Bobby Fischer, dan sempat menduduki peringkat kedelapan dunia – sebuah pencapaian monumental yang sayangnya belum tersusul oleh perempuan lain hingga kini.

‘Semua Atau Tidak Sama Sekali’

Ambisi Zhou tidak berhenti pada papan catur. Ia telah merambah ke konten gaya hidup, perjalanan, dan mode, bahkan sempat unjuk gigi di Paris Fashion Week. Target berikutnya adalah menandatangani kontrak dengan agensi model dan menembus satu juta pengikut di laman Instagram caturnya. Sementara itu, El Barbry menargetkan enam bulan ke depan untuk benar-benar menancapkan kiprahnya sebagai streamer. Jika tidak berhasil, rencananya adalah kembali ke dunia korporat dengan bekal gelar teknik sipil dan magister manajemen bisnisnya. Bulan Januari lalu, ia bahkan sudah menjajal peran sebagai komentator di ajang esports besar. Pengalaman beberapa bulan terakhir baginya adalah sebuah “petualangan”, dan ia merasa tahun ini akan menjadi penentu segalanya: “Ini akan jadi segalanya atau tidak sama sekali.”

Previous Post

Obat HIV: Solusi Lupakan Narkoba Lewat ‘Efek Samping’ GLP-1

Next Post

Monster Langka: Tantangan Malam Hari yang Menguras Stamina

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *