Mengapa lagu Radiohead berjudul “Daydreaming” terasa begitu menusuk kalbu? Apakah karena aransemennya yang melankolis, liriknya yang penuh teka-teki, atau karena video klipnya yang surealis? Atau jangan-jangan, semua itu hanyalah kedok dari kisah pilu di balik layarnya, seperti cheat code untuk membuka memori kelam?
Asal-Usul “Daydreaming”: Lebih dari Sekadar Mimpi di Siang Bolong
Dirilis pada tahun 2016 sebagai bagian dari album A Moon Shaped Pool, “Daydreaming” langsung dicap sebagai salah satu mahakarya Radiohead. Tapi, seperti film horor yang terinspirasi dari kisah nyata, lagu ini menyimpan cerita yang lebih dalam dari sekadar nongkrong sambil menghayal di siang bolong.
Sesi rekaman A Moon Shaped Pool dimulai sejak tahun 2014 di studio pribadi Radiohead di Oxfordshire, Inggris, sebelum akhirnya pindah ke La Fabrique Studios di Prancis. Konon, prosesnya tidak semulus jalan tol. Band ini kesulitan menentukan arah yang tepat setelah album The King of Limbs yang eksperimental di tahun 2011.
Namun, berkat tangan dingin produser langganan mereka, Nigel Godrich, “Daydreaming” muncul sebagai titik terang yang membuka jalan bagi album tersebut. Sebelumnya, mereka berkutat dengan lagu-lagu lama seperti “Burn the Witch”, “Ful Stop”, dan “True Love Waits” yang sudah menjadi bagian dari perjalanan musikal Radiohead selama bertahun-tahun.
Yang menarik, “Daydreaming” lahir dari improvisasi piano dan vokal antara Jonny Greenwood dan Thom Yorke. Greenwood menciptakan fondasi musiknya, lalu Yorke menambahkan melodi vokal di atasnya. Ini adalah pendekatan yang berbeda dari biasanya, di mana Yorke selalu menjadi motor utama dalam penulisan lagu.
“Kami tidak menemukan cara untuk masuk, jadi kami membuat kerangkanya tanpa dia,” kata Jonny Greenwood kepada NPR. “[Thom] datang dan bernyanyi. Maksudku, dia menulis lagunya, tapi aku akhirnya memainkan bagian piano dan kami menyodorkan trek backing ini untuk dia nyanyikan, dan aku pikir itu adalah perubahan yang menyenangkan baginya. Dia sudah terbiasa memulai semuanya.”
Rahasia di Balik Arpeggio yang Menghipnotis
Aransemen “Daydreaming” berpusat pada permainan piano Greenwood yang hipnotis. Arpeggio melingkar dan repetitif itu mengalun di atas progresi chord yang melankolis, dimainkan dalam birama 3/4 (atau 12/8, tergantung bagaimana Anda merasakan beat-nya). Jika diterjemahkan ke dalam bahasa piano, chord-chord tersebut adalah Asus4, F6/9, Csus2/E, dan kembali ke F6/9. Bagian kedua dari pola verse bergeser ke Badd2/D dan G7 sus4/Gsus4, yang menarik kembali ke titik awal.
Seiring berjalannya lagu, riff versi oktaf tinggi muncul dalam mix, berenang dalam sup aural yang juga menampilkan drone synth yang berputar-putar, sampel vokal yang diputar terbalik, dan string yang menyapu – dan seringkali kasar. Bagian tengah lagu yang diulang dua kali berputar dari kemurungan repetitif dari verse dan mendorong suasana hati ke atas. Bagian ini dipimpin oleh bagian arpeggio yang dihiasi dan dimainkan lebih cepat di mana Greenwood melesat melalui Dmaj7/A, FMaj7/A, Bm7/a, BbMaj7 dan Fmaj7.
Arpeggio yang berderap ini melepaskan lagu dari bagian verse yang berkabut, sementara bass elektrik Colin yang berdenyut menggarisbawahi emosi. Selama bagian ini vokal terbalik yang tertekan dari Thom secara terbuka menggerogoti jalan mereka melalui campuran, dan terus menghantui aransemen yang berkembang.
“Dreamers”: Ketika Mimpi Berubah Jadi Mimpi Buruk
Lirik “Daydreaming” ditulis oleh Yorke, yang terinspirasi oleh musik yang dibuat oleh Greenwood. Liriknya menggambarkan tentang “dreamers” yang naif dan berakhir dengan rasa sakit. Verse kedua menggambarkan “ruangan putih, di dekat jendela, tempat matahari masuk” yang terletak “di luar jangkauanku” dan “di luar jangkauanmu”. Ini menyiratkan pelarian ke dalam realitas alternatif yang menenangkan dan bebas dari bahaya.
Dreamers
They never learn
They never learn
Beyond the point
Of no return
Of no return
Then it’s too late
The damage is done
The damage is done
Perpisahan dan Kehilangan: Tragedi di Balik Layar
Namun, untuk memahami lagu ini sepenuhnya, kita perlu melihat konteks yang lebih luas. Selama pembuatan album, Yorke dan istrinya selama 23 tahun, Rachel Owen, bercerai. Tak lama kemudian, Owen didiagnosis menderita kanker. Ia meninggal dunia beberapa bulan setelah perilisan A Moon Shaped Pool, pada tanggal 18 Desember 2016.
Yorke tetap bungkam tentang periode sulit dalam hidupnya ini. Namun, ia pernah bercerita kepada BBC tentang bagaimana ia berusaha mendukung kedua anaknya dalam menghadapi kehilangan ini. “Ketika ibu anak-anak meninggal, itu adalah periode yang sangat sulit dan kami mengalami banyak hal,” kata Thom. “Itu sangat sulit. Dia sangat menderita dan ambisi saya adalah memastikan bahwa kami telah keluar dari semuanya dengan baik, dan saya harap itulah yang terjadi.”
Meskipun Yorke tidak pernah secara langsung membahas bagaimana perpisahannya dengan Owen memengaruhi album Radiohead ini, suasana refleksi yang penuh kesedihan terasa jelas di banyak lagu, terutama “Daydreaming”.
Bisikan Terbalik: Petunjuk Tersembunyi dalam Lagu
Terpendam di dalam campuran outro “Daydreaming” terdapat salah satu alusi paling langsung ke periode kelam ini. Selama itu, Yorke dengan penuh minat mengulangi kata-kata ‘separuh hidupku’ dan ‘separuh cintaku’ – meskipun diputar terbalik.
Bagi sebagian orang, ini berfungsi sebagai bukti kuat bahwa “Daydreaming”, setidaknya sebagian, adalah lagu yang merenungkan kehancuran pernikahan Yorke. Alasannya adalah, hubungannya selama 23 tahun dengan Owen adalah tepat separuh dari kehidupan Thom yang saat itu berusia 47 tahun.
Video Klip: Perjalanan Sunyi Thom Yorke
Video klip “Daydreaming” disutradarai oleh Paul Thomas Anderson dan semakin memperdalam misteri lagu ini. Dalam video tersebut, Thom Yorke berjalan melewati banyak pintu, memasuki berbagai lokasi yang berbeda, termasuk rumah sakit, hotel, berbagai rumah, toko kelontong, dan bahkan pantai. Sebagian besar orang yang ditemui tampaknya mengabaikan Yorke yang berjalan-jalan di rumah atau tempat kerja mereka.
Seolah mengejar pintu berikutnya, atau pintu ‘yang benar’, Thom akhirnya berakhir sendirian di gunung yang tertutup salju, sebelum memasuki gua dan berbaring di dekat api, mengucapkan lirik yang diputar terbalik selama kesimpulan lagu. Apakah video tersebut mencerminkan perjalanan mundur melalui kehidupan Yorke, melalui pencarian lokasi-lokasi ingatannya yang mengingatkan pada Eternal Sunshine of the Spotless Mind? Atau, apakah ziarah Yorke mencerminkan pencarian koneksi di dunia yang tidak peduli dan tidak responsif?
“Daydreaming”: Lebih dari Sekadar Lagu
Pada akhirnya, daya tarik universal dari lagu ini adalah bagaimana ia berfungsi untuk menarik pendengar ke dalam lanskap yang meyakinkan seperti mimpi. Ruang aman untuk mengevaluasi penyesalan dan luka kita sendiri. Mempertahankan hubungan yang sehat dengan alam bawah sadar telah menjadi subjek yang telah lama diminati oleh Thom Yorke, dan, di luar judulnya, aspek lagu ini tentunya merupakan bagian utama dari bagaimana “Daydreaming” meresap di bawah kulit begitu banyak pendengar hingga saat ini.
“Mimpi itu penting, secara fundamental bagi siapa kita,” kata Thom kepada Stephen Colbert pada tahun 2019. “Kita mengisi hari kita dengan aktivitas, tetapi [tidur] sama pentingnya dengan sisi lain dari diri kita itu”


