Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Deadbeat Tame Impala: Eksperimen Gagal, Nostalgia ‘The Slow Rush’ Menggema?

Bayangkan, Anda sedang asyik main game favorit. Grafisnya memukau, gameplay-nya seru, tapi kok soundtrack-nya malah bikin ngantuk? Itulah kira-kira yang terjadi dengan album terbaru Tame Impala, “Deadbeat”. Kevin Parker, sang nahkoda Tame Impala, mencoba peruntungan dengan genre dance music. Sayangnya, alih-alih bikin kita joget sampai lupa diri, album ini malah membuat kita bertanya-tanya, “Ini Tame Impala yang dulu kita kenal, gimana sih?”

Ketika Eksperimen Berujung Eksperimen… yang Kurang Jadi

Tame Impala memang dikenal sebagai band yang doyan bereksperimen. Dari psychedelic rock yang nge-bass banget di album awal hingga sentuhan disko di “Currents”, Kevin Parker selalu punya kejutan. Tapi, “Deadbeat” terasa seperti eksperimen yang kurang matang. Ada upaya untuk menggabungkan elemen house, trance, dan bahkan sedikit Enya, tapi hasilnya malah terdengar seperti masakan yang kebanyakan bumbu. Alih-alih menciptakan hidangan lezat, kita malah mendapatkan rasa yang aneh dan bikin bingung.

Salah satu contohnya adalah lagu “Oblivion”. Lagu ini mencoba memadukan falsetto khas Parker dengan ritme dembow yang sedang naik daun. Namun, hasilnya terasa hambar. Seolah-olah Parker hanya menaburkan falsetto-nya di atas ritme yang lesu, tanpa ada energi atau groove yang menggigit. Bahkan, DJ Python, yang notabene jagoan di genre dembow, bisa melakukan hal ini dengan lebih baik.

“Not My World”: Antara Potensi dan Kekecewaan

“Not My World” juga senada. Di separuh awal lagu, kita disuguhi beat yang kosong dan membosankan. Untungnya, di pertengahan lagu, muncul melodi bell-tone yang lumayan enak didengar. Tapi, tetap saja, kita bertanya-tanya, “Kenapa harus dengerin ini, kalau ada banyak produser deep house di luar sana yang bisa bikin musik seperti ini dengan lebih baik?” Ini seperti mencoba memainkan game dengan spek PC kentang. Ada potensi, tapi sayang, nggak bisa dimaksimalkan.

Parker seolah terjebak di tengah-tengah. Dia berusaha mencapai level epik ala R&S di “Ethereal Connection” yang berdurasi delapan menit, tapi gagal mencapai klimaks yang memuaskan. Dia juga terus-menerus menyabotase momentum yang sudah dibangun di “End of Summer”. Ini seperti main game yang selalu ke-reset sebelum kita mencapai checkpoint. Frustrasi!

“Piece of Heaven” dan “See You On Monday (You’re Lost)”: Misfire yang Fatal

Di antara upaya-upaya yang kurang berhasil itu, ada beberapa misfire yang benar-benar fatal. “Piece of Heaven” adalah perpaduan setengah hati antara Enya dan “Hollaback Girl” yang gagal memenuhi janjinya untuk memberikan kesenangan. Sementara itu, “See You On Monday (You’re Lost)” terdengar seperti lagu yang seharusnya tidak kita dengar. Ini seperti menemukan bug di game yang bikin kita pengen uninstall secepatnya.

Hilangnya Sentuhan Magis Tame Impala

Sebenarnya, patut diacungi jempol bahwa Parker berani keluar dari zona nyaman dan terus mencoba hal-hal baru. Tapi, sayangnya, sentuhan magis yang membuat Tame Impala begitu istimewa seolah menghilang. Alih-alih memanjakan kita dengan beat R&B yang snappy atau efek flanger-pedal yang memukau, kita malah disuguhi drum machine yang dicolokkan sembarangan ke ampli gitar dan dibiarkan berputar-putar dengan loop yang itu-itu saja. Ini seperti main game yang grafisnya burik dan gameplay-nya repetitif.

Asa yang Tak Terwujud

Yang paling menyedihkan adalah, di balik semua kekurangan ini, sebenarnya ada potensi yang terpendam. Kita bisa membayangkan “Deadbeat” sebagai soundtrack untuk bad trip, komentar tentang kedewasaan dan kesuksesan, atau bahkan ritme hipnotis yang mengiringi spiral Parker ke dalam keraguan diri. Sayangnya, potensi ini tidak pernah benar-benar terwujud. Sebagian besar lagu di album ini tidak terlalu buruk. “Dracula” mungkin tidak istimewa, tapi boogie-nya cukup catchy. “Afterthought” mungkin menjadi lagu terlemah di “Currents”, tapi di album ini, lagu ini justru menjadi yang terkuat. Tapi, efek kumulatif dari semua lagu ini adalah kelelahan. Seperti rantai setengah jadi yang tidak terasa berkomitmen untuk menjadi sesuatu yang lebih baik.

Apakah Ini Lebih Baik dari “The Slow Rush”? Jangan Harap!

Parker dan Eksperimen Dance yang Lebih Sukses di Masa Lalu

Parker sebenarnya sudah mencoba bereksperimen dengan genre dance di album sebelumnya, “The Slow Rush”. Dan hasilnya jauh lebih baik. Di momen-momen terbaik di album itu, kita bisa melihat bagaimana konsep Parker membangun track house dari nol dengan peralatan analognya bisa menghasilkan sesuatu yang segar dan inovatif. Tapi, di “Deadbeat”, Parker seolah hanya terpesona dengan suara beat besar dan kosong yang bergema di angkasa. Ini seperti seorang gamer yang terlalu fokus pada setting grafis ultra, tapi lupa bahwa gameplay-nya sendiri membosankan.

“There’s a party in my head/And no one is invited.” – Ironi yang Menyedihkan

Di single pertama dari album debutnya, Parker pernah bernyanyi, “There’s a party in my head/And no one is invited.” Lima belas tahun kemudian, dia mewujudkan lirik itu dalam skala superclub. Tapi, alih-alih pesta yang meriah, kita malah disuguhi pemandangan yang menyedihkan. Ini seperti pesta ulang tahun yang dihadiri oleh satu orang saja: Kevin Parker sendiri. Dan dia terlihat tidak menikmati pestanya sama sekali.

Jadi, Layakkah “Deadbeat” Didengarkan?

Pertanyaan yang muncul, apakah “Deadbeat” layak didengarkan? Jawabannya tergantung. Jika Anda adalah penggemar berat Tame Impala dan penasaran dengan eksperimen terbaru Parker, silakan saja. Tapi, jangan berharap terlalu banyak. Jika Anda mencari album dance music yang benar-benar asyik dan bikin joget, ada banyak pilihan lain di luar sana. “Deadbeat” mungkin lebih cocok didengarkan saat Anda sedang ingin merenung dan mempertanyakan eksistensi. Atau mungkin saat Anda sedang mengerjakan tugas dan butuh soundtrack yang tidak terlalu mengganggu. Tapi, ingat, jangan salahkan kami kalau Anda malah jadi ngantuk.

“Deadbeat”: Sebuah Refleksi Diri?

Mungkin, “Deadbeat” adalah refleksi diri Parker tentang perjuangannya sebagai seorang musisi. Tentang tekanan untuk terus berinovasi dan memenuhi ekspektasi penggemar. Atau mungkin, album ini adalah cara Parker untuk melarikan diri dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru. Apapun alasannya, “Deadbeat” adalah album yang jujur dan personal. Walaupun tidak selalu berhasil, album ini menunjukkan bahwa Parker tidak takut untuk mengambil risiko dan terus bereksperimen. Dan itu, dalam dirinya sendiri, adalah sesuatu yang patut dihargai.

Di Mana Bisa Mendapatkan “Deadbeat”?

Bagi yang penasaran dan ingin mencoba mendengarkan “Deadbeat”, album ini tersedia di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music. Anda juga bisa membeli album fisiknya di toko-toko musik terdekat atau melalui e-commerce seperti Amazon dan Tokopedia. Tapi, ingat, jangan terlalu berharap. Anggap saja ini sebagai eksperimen yang mungkin berhasil, mungkin juga tidak.

Tame Impala: Masa Depan yang Masih Misteri

Dengan “Deadbeat”, Tame Impala telah memasuki babak baru dalam perjalanan musik mereka. Apakah mereka akan terus bereksperimen dengan genre dance music? Atau apakah mereka akan kembali ke akar psychedelic rock mereka? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, satu hal yang pasti: Tame Impala akan terus memberikan kejutan dan menantang ekspektasi kita. Dan itulah yang membuat mereka tetap relevan dan menarik untuk diikuti.

Previous Post

Ultimas Dihapus: Anggaran Dipangkas, Dampaknya Bagi Seni Flanders?

Next Post

Halo: Drama Eks Animator Bocor? Implikasi Hukum & Masalah Internal Terungkap

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *