Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

DeepSeek: Startup AI China Saingi ChatGPT, Pengaruhi Adopsi Global di Negara Berkembang

Dunia kecerdasan buatan (artificial intelligence) ini memang bikin geleng-geleng kepala. Dulu, AI cuma ada di film fiksi ilmiah, sekarang sudah bisa dipakai buat bikin konten sampai bikin kopi (walau hasilnya kadang masih bikin dahi berkerut). Tapi, ada satu hal yang bikin kita makin penasaran: kenapa ya, kok ada AI yang lebih populer di negara berkembang daripada di negara maju? Apakah ini konspirasi tingkat tinggi, atau jangan-jangan ada udang di balik batu?

AI Kok Ada Kelas Ekonominya?

Begini, kawan. Layaknya maskapai penerbangan, dunia AI pun ternyata mengenal kelas ekonomi dan kelas bisnis. Kalau OpenAI dengan ChatGPT-nya itu ibarat kelas bisnis yang menawarkan fasilitas mewah dan harga selangit, maka DeepSeek, startup asal Tiongkok, ini hadir sebagai kelas ekonomi yang lebih merakyat. Bayangkan saja, DeepSeek ini memberikan akses gratis dan open source ke model AI mereka. Ibaratnya, kamu dikasih kunci bengkel dan boleh utak-atik mesinnya sesuka hati. Tapi, apakah ini berarti DeepSeek lebih inferior dari ChatGPT? Belum tentu!

Microsoft dalam laporan terbarunya mengungkapkan bahwa adopsi AI generatif secara global mencapai 16,3% pada kuartal terakhir tahun lalu. Angka ini naik dari 15,1% pada kuartal sebelumnya. Namun, yang menarik adalah kesenjangan adopsi AI antara negara maju dan berkembang justru semakin melebar. Negara-negara yang duluan investasi di infrastruktur digital dan AI seperti Uni Emirat Arab, Singapura, Prancis, dan Spanyol, jelas lebih unggul. Tapi, di sinilah DeepSeek hadir sebagai game changer.

DeepSeek: Sang Penantang dari Negeri Tirai Bambu

DeepSeek, yang baru lahir di tahun 2023, ternyata mampu menarik perhatian banyak negara berkembang berkat model AI gratis dan open source-nya. Juan Lavista Ferres, kepala ilmuwan data dari Microsoft’s AI for Good Lab, bahkan menyebut DeepSeek sebagai “model yang bagus” untuk tugas-tugas seperti matematika atau coding. Tapi, ada satu hal yang perlu digarisbawahi: DeepSeek beroperasi sedikit berbeda dari model-model AI buatan Amerika Serikat, terutama dalam hal pandangan politik.

Menurut Lavista Ferres, DeepSeek cenderung mengikuti akses internet yang berlaku di Tiongkok. Artinya, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tertentu, terutama yang bersifat politis, bisa sangat berbeda. “Dalam banyak hal, hal itu dapat memengaruhi dunia,” ujarnya. Apakah ini berarti DeepSeek adalah alat propaganda terselubung? Mungkin saja. Tapi, yang jelas, keberadaan DeepSeek telah membuka pintu bagi jutaan pengguna di negara-negara berkembang yang selama ini kesulitan mengakses platform AI buatan Barat.

Open Source AI: Senjata Geopolitik Baru?

Negara-negara maju seperti Australia, Jerman, dan Amerika Serikat, ternyata sudah mulai membatasi penggunaan DeepSeek karena alasan keamanan. Microsoft bahkan melarang karyawannya sendiri untuk menggunakan AI ini. Tapi, di sisi lain, adopsi DeepSeek justru melonjak di Tiongkok, Rusia, Iran, Kuba, dan Belarus – negara-negara yang akses ke teknologi asingnya terbatas. Di banyak tempat, popularitas DeepSeek berkorelasi dengan posisinya sebagai chatbot default di ponsel-ponsel buatan perusahaan teknologi Tiongkok seperti Huawei. Ini tentu saja bukan kebetulan.

“Open‑source AI can function as a geopolitical instrument, extending Chinese influence in areas where Western platforms cannot easily operate,” begitu bunyi laporan Microsoft. Artinya, AI open source bisa menjadi alat geopolitik yang ampuh untuk memperluas pengaruh Tiongkok di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh platform buatan Barat. Ibaratnya, Tiongkok memberikan “kail” berupa teknologi gratis, dan negara-negara berkembang pun terpikat.

DeepSeek: Lebih dari Sekadar Chatbot Gratisan

Persentase pangsa pasar DeepSeek di Tiongkok mencapai 89%. Sementara di Belarus 56% dan Kuba 49%. Di Rusia pangsa pasarnya sekitar 43%. Di Suriah dan Iran, pangsa pasar DeepSeek masing-masing mencapai 23% dan 25%. Bahkan, di beberapa negara Afrika seperti Ethiopia, Zimbabwe, Uganda, dan Niger, pangsa pasar DeepSeek berkisar antara 11% hingga 14%. Ini menunjukkan bahwa DeepSeek bukan sekadar chatbot gratisan, tapi juga memiliki dampak yang signifikan di berbagai belahan dunia.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari fenomena DeepSeek ini? Pertama, akses dan ketersediaan ternyata sama pentingnya dengan kualitas model AI itu sendiri. Kedua, AI open source bisa menjadi alat geopolitik yang sangat efektif. Dan ketiga, persaingan di dunia AI ternyata tidak hanya didominasi oleh perusahaan-perusahaan raksasa dari Amerika Serikat, tapi juga melibatkan pemain-pemain baru dari Tiongkok. Jadi, siap-siap saja untuk menyaksikan pertarungan sengit di arena kecerdasan buatan ini.

Yang Gratisan Emang Bikin Penasaran…

DeepSeek mungkin tidak sempurna, dan mungkin juga memiliki agenda terselubung. Tapi, yang jelas, kehadirannya telah memberikan warna baru di dunia AI. Ibaratnya, DeepSeek ini seperti cheat code yang memungkinkan negara-negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya dengan bijak. Jadi, apakah kamu sudah siap untuk mencoba DeepSeek dan melihat sendiri bagaimana AI ini bisa mengubah dunia?

Previous Post

Starcraft Shooter: Blizzard Siapkan Kejutan di BlizzCon 2026?

Next Post
Mengejutkan! Bukan ke MIND ID maupun ANTM, Danantara dikabarkan akan mengalihkan tambang emas Martabe ke Perminas, ini alasannya

Indonesia Hapus Batasan Ekuitas Asuransi & Dana Pensiun Demi Stabilisasi Pasar

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *