Ketika seorang pemain sepak bola melakukan kesalahan fatal yang berujung pada penalti dan gol lawan, rasa malunya mungkin bisa ditoleransi. Namun, bagi Lucas Digne, momen “salah angkat tangan” itu terjadi di panggung semifinal Europa League, sebuah panggung di mana setiap keputusan bisa menjadi penentu nasib. Kesalahan yang berawal dari kelalaian wasit João Pinheiro dalam menentukan bola keluar atau tidak, akhirnya berujung pada hukuman dari titik 12 pas, sebuah skenario yang tentu tak diinginkan oleh kubu Aston Villa.
Kekalahan tipis 1-0 di leg pertama semifinal Europa League melawan Nottingham Forest ini bukan hanya soal skor. Ini adalah tentang momentum yang hilang, keputusan krusial yang dipertanyakan, dan potensi kerusakan mental yang bisa saja merembet hingga laga berikutnya. Penalti yang dieksekusi sempurna oleh Chris Wood menjadi pukulan telak, membuat pelatih Unai Emery harus berjuang menenangkan pendukungnya yang bergemuruh. Namun, di balik ketenangan yang coba ditunjukkan Emery, tersembunyi kekesalan mendalam terhadap Elliot Anderson yang, menurutnya, seharusnya diganjar kartu merah atas tekel kerasnya terhadap Ollie Watkins di babak pertama. Pertanyaan besar pun menggantung: seberapa besar dampak “kegilaan sesaat” Digne ini terhadap ambisi Villa di kompetisi ini?
Kartu Merah yang Tak Terlihat
Sejatinya, Emiliano Martínez tampil gemilang sepanjang laga, nyaris menjadi pahlawan bagi Villa. Penyelamatan krusialnya terhadap peluang emas Igor Jesus di babak pertama mengingatkan pada aksinya musim lalu yang bahkan menyabet gelar ‘Save of the Season’ di Premier League. Namun, bahkan kiper sekaliber Martínez pun tak berdaya menghadapi eksekusi penalti Wood. Sorakan “olés” dari pendukung tuan rumah mengiringi pertukaran umpan antara Anderson dan Gibbs-White di sisi lapangan, sebuah pemandangan yang kontras dengan kekecewaan yang mungkin dirasakan Martínez dan rekan-rekannya.
Bagi Villa, yang dijadwalkan menjamu Tottenham Hotspur pada akhir pekan, rentetan pertandingan ini bisa terasa sangat panjang. Kekecewaan di wajah Martínez yang terlihat nyaris menitikkan air mata saat meninggalkan lapangan menjadi simbol kekecewaan tim secara keseluruhan. Malam itu, keputusan-keputusan krusial tampaknya lebih memihak lawan, menyisakan rasa pahit yang mendalam. Damian Vidagany, direktur sepak bola Villa, bahkan menyampaikan kekesalannya melalui media sosial, menyebut situasi yang dihadapi timnya “tidak adil” dan bertekad untuk membalas di leg kedua dengan “pertandingan hidup mati” di kandang sendiri.
Emery sendiri tidak mempermasalahkan keputusan penalti tersebut, namun ia bersikeras mempertanyakan apakah bola yang dikirim Hutchinson benar-benar masih dalam permainan sebelum insiden handsball terjadi. Ini membuka kembali luka lama terkait kontroversi keputusan wasit, seperti yang pernah dialami Sean Dyche saat timnya dikalahkan Manchester United di stadion yang sama, di mana sebuah tendangan sudut yang kontroversial berujung gol. Ironisnya, peraturan VAR saat ini tidak memungkinkan tinjauan untuk keputusan pemberian tendangan sudut yang berpotensi menghasilkan gol.
Ambisi dan Kesialan di City Ground
Suasana di City Ground sebelum pertandingan dimulai sangat hangat, mencerminkan rivalitas sengit antara kedua tim dan status mereka sebagai kandidat kuat juara. Generasi penggemar dari kedua kubu telah lama mendambakan trofi mayor, dan kini mereka hanya berjarak dua pertandingan lagi. Bagi Emery, gelar Europa League kelima yang akan memecahkan rekor pribadi menjadi target utama, sementara pemilik Forest, Evangelos Marinakis, sejak awal musim telah yakin bahwa skuadnya mampu melangkah jauh di kompetisi ini.
Di kubu Villa, kembalinya Amadou Onana yang dinyatakan fit setelah cedera lutut sempat menjadi suntikan moral. Ia berduet dengan Youri Tielemans di lini tengah, menggantikan Lamare Bogarde. Namun, keberuntungan tak berpihak pada Villa, karena Onana harus ditarik keluar di awal babak kedua akibat masalah hamstring. Pertandingan yang awalnya berlangsung hati-hati, dengan cepat berubah menjadi laga yang frenetik. Ezri Konsa sigap memblok tembakan Igor Jesus, sementara Emiliano Buendía juga melakukan penyelamatan krusial di lini pertahanan. Tekel Anderson terhadap Watkins, yang membuat striker Inggris itu mengeluh kesakitan, luput dari hukuman kartu, menambah daftar panjang kontroversi di laga ini.
Sang Penyelamat yang Gagal Tahan Bola
Momen paling menentukan di paruh pertama laga tak lain adalah penyelamatan luar biasa Martínez yang menggagalkan keunggulan tuan rumah pada menit ke-33. Anderson meluncurkan umpan terobosan manis untuk Gibbs-White, yang kemudian memberikan bola kepada Igor Jesus. Meski bola hanya mengenai betisnya, upaya Jesus nyaris berbuah gol. Namun, Martínez dengan sigap melakukan pergerakan di garis gawangnya untuk menahan bola, membuat Jesus tak percaya melihat gawangnya tetap aman.
Emery sendiri telah memprediksi jalannya pertandingan akan berlangsung “panjang” alias ketat. Keseimbangan laga sempat terjaga hingga menit ke-54, ketika Villa terpaksa melakukan pergantian pemain. Sesaat setelah itu, Villa nyaris unggul melalui Watkins, yang mencoba menyontek bola hasil umpan silang Morgan Rogers. Namun, kiper Stefan Ortega menunjukkan refleks tajam dengan menepis bola menggunakan lengannya.
Kesalahan Fatal dan Keuntungan Berharga
Ancaman dari Forest sempat mereda sebelum akhirnya Digne melakukan kesalahan fatal. Umpan silang Gibbs-White dari sisi kiri lapangan tampak akan keluar dari batas permainan, sebuah persepsi yang sama dengan Digne. Namun, Hutchinson tetap berjuang mengejar bola, melancarkan umpan dari garis akhir. Digne, yang tampaknya yakin akan ada tendangan gawang, mengangkat kedua tangannya, sebuah gestur yang menjadi bumerang. VAR Tiago Martins kemudian meminta wasit untuk meninjau kembali insiden tersebut di monitor pinggir lapangan. Setelah penalti diberikan, Wood dengan tenang mengeksekusi bola mati tersebut, memberikan keunggulan berharga bagi Forest yang bisa saja krusial di leg kedua.


