Dua dekade lebih berlalu sejak All Saints mendominasi tangga lagu, namun denyut nadi musik mereka masih terasa. Kali ini, sorotan tertuju pada duo Appleton bersaudari, Nicole dan Natalie, yang bukan hanya berbagi panggung, tetapi juga rentang waktu. Dari genangan air di belakang rumah hingga sorotan lampu panggung, perjalanan mereka adalah cerminan perubahan, persaudaraan, dan sedikit nostalgia yang dibumbui kejujuran.
Sentuhan Nostalgia dengan Kacamata Baru
Bayangkan ini: tahun 1982, dua bocah perempuan dengan sepeda, terperangkap dalam suasana London yang terasa seperti liburan musim panas abadi. Nicole, yang kala itu masih enam tahun, mengenang pengalaman mengayuh sepeda hingga lelah, sebuah kemewahan yang tak lagi bisa dirasakan di tengah kesibukan masa kini. Ia bercerita tentang warisan pakaian dari tiga kakak perempuan yang lebih tua, kontras dengan kegemarannya menghabiskan uang saku untuk permen ketimbang pakaian modis seperti sang adik, Natalie. Masa kecil di tengah kota besar justru terasa seperti di pedesaan, dipenuhi kawanan teman dan tetangga dari berbagai kalangan. Kenangan itu, meski terlihat nakal di foto, ternyata hanya diisi dengan permainan sederhana seperti mengetuk pintu lalu lari, atau meneguk air keran saat haus. Sebuah pengingat betapa polosnya masa lalu, jauh dari hiruk pikuk industri hiburan yang kelak menelan mereka.
Keinginan Nicole untuk tampil sejak dini terbukti nyata. Audisi pertama ke Sylvia Young Theatre School di usia yang begitu belia, menari mengikuti irama ‘Flashdance’ tanpa persiapan matang, menjadi tiketnya. Sekolah itu, sebuah wadah bagi talenta muda, mempertemukannya dengan Emma Bunton, yang digambarkan tetap sama manis dan baik hatinya. Tak lama, Natalie menyusul, karena ikatan persaudaraan mereka selalu menuntut kebersamaan. Kehadiran Mel Blatt di Sylvia Young juga tak kalah berarti; mereka langsung menjadi sahabat karib. Nasib mempertemukan Nicole dan Mel kembali di usia 19 tahun, saat Mel mengajaknya bergabung dengan sebuah band. Dengan cepat, Natalie pun turut serta, melengkapi formasi yang kelak dikenal dunia.
Bekerja bersama Natalie, sang adik yang juga ‘rumah’ dan penenang di tengah kegilaan All Saints, tak pernah menimbulkan tekanan. Kedekatan mereka sejak kecil membuat dinamika itu terasa alami. Momen Natal keluarga yang diwarnai drama kalkun gosong dan berakhir dengan pesanan KFC darurat, atau anjuran Gene, putra Nicole, untuk kembali membuat musik bersama sang bibi, menunjukkan betapa eratnya hubungan keluarga ini. Kolaborasi yang tercipta bukan sekadar proyek profesional, melainkan perpanjangan dari ikatan darah yang teruji oleh waktu. Kebersamaan mereka melintasi dekade, dari berbagi kamar tidur hingga kini saling mendukung dalam segala aspek kehidupan.
Di sisi lain, Natalie melihat masa kecilnya sebagai “tempat bahagia”. Di usia sembilan tahun, ia berpose dengan sepeda kesayangannya di depan perumahan di London barat. Sepeda itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan objek imajinasi; diperlakukan seperti mobil, dilumuri oli, dan diperbaiki layaknya mekanik andal. Area beton tempat mereka bermain menjadi pusat aktivitas, mulai dari *roller-skating* hingga mencuci mobil tetangga demi recehan. Latar belakang keluarga mereka yang berpindah dari Kanada ke London, lalu singgah di New York, turut membentuk identitas unik mereka, lengkap dengan aksen yang melekat dari masa kecil.
Dari Bangku Sekolah ke Panggung Dunia
Meskipun ada empat personel dalam All Saints, status sebagai saudara kandung tidak mengubah dinamika kelompok. Semua berada dalam satu visi, tanpa terpecah belah. Periode itu dipenuhi kejutan besar, terutama saat melihat jadwal band yang mencakup “ROW” (Rest of World), sebuah indikasi magnitud skala kesuksesan yang akan diraih. Era 90-an memang penuh kemewahan dan aliran dana besar di industri musik, namun melunasi uang muka dari label rekaman menjadi perjuangan panjang. Pengalaman di berbagai program televisi seperti *The Big Breakfast*, *Live and Kicking*, *CD:UK*, dan *Top of the Pops* membuka pintu kesempatan yang tak terhingga. Terkadang, pertanyaan presenter berputar pada urusan asmara atau penampilan, sebuah keniscayaan pada masa itu yang harus diterima.
Pengalaman bersama All Saints diibaratkan seperti terperangkap dalam pusaran angin kencang. Pada tahun 2001, saat grup tersebut bubar, rasanya seperti keluar dari *pressure cooker* – sebuah kebutuhan mendesak untuk jeda, namun bukan akhir segalanya. Kini, terlepas dari hiruk pikuk industri, ikatan Nicole dan Natalie tetap kuat. Percakapan telepon setiap hari, ungkapan “sayang” yang mungkin jarang terucap secara mendalam, mencerminkan kekaguman yang tumbuh seiring bertambahnya usia. Nicole dipandang sebagai ibu dan bibi yang luar biasa, sosok yang selalu siap siaga, tak tergantikan.
Ikatan yang Tak Tergoyahkan
Hubungan persaudaraan mereka patut diacungi jempol. Tidak pernah ada perbedaan pandangan mendasar atau tarikan ke arah yang berlawanan. Mereka telah melalui segalanya bersama. Meskipun tidak lagi berbagi kamar tidur, komunikasi tetap intens. Pertanyaan tentang apa yang dibicarakan setiap hari dijawab dengan santai: “Tidak banyak,” yang kemudian diperjelas dengan tontonan serial *Married at First Sight Australia*. Sebuah gambaran realistis tentang bagaimana hubungan dekat berevolusi, menemukan kesamaan dalam hal-hal paling biasa.
Natalie juga menekankan peran Nicole sebagai “buku catatan” dan sahabat terbaiknya. Meskipun ia selalu sedikit lebih serius, temperamen mereka yang sama-sama playful dan easygoing memastikan minimnya perselisihan. Kolaborasi terbaru mereka, single “Falling Into You”, adalah bukti nyata bahwa api kreativitas mereka belum padam. Dorongan dari putra Nicole, Gene, untuk kembali berkreasi bersama sang bibi, menjadi penanda penting. Proses rekaman berjalan lancar, penuh kenyamanan dan kenaturalan, sebuah cerminan kedekatan yang sudah terjalin puluhan tahun.


