Dan Forden, sang legenda “Toasty!” yang suaranya menghantui mimpi para pemain Mortal Kombat selama tiga dekade, baru saja pensiun. Tapi tunggu dulu, kejutan belum berakhir! Ternyata, bapak “Toasty!” ini lebih memilih karakter dari era Mortal Kombat yang bahkan dia sendiri nggak mainin lagi. Ibarat koki andal yang lebih suka makan masakan restoran sebelah, ini plot twist yang bikin kita garuk-garuk kepala sambil ketawa.
Buat yang belum tahu, Dan Forden adalah sosok di balik suara ikonik “Toasty!” yang muncul tiba-tiba saat ada kombo maut di Mortal Kombat. Suara itu sudah jadi bagian nggak terpisahkan dari sejarah game fighting ini. Pensiunnya Forden dari NetherRealm Studios tentu saja meninggalkan lubang besar di hati para penggemar. Ed Boon, bos besar Mortal Kombat, bahkan sampai memberikan tribut khusus buat sang “Toasty Guy”.
Nah, baru-baru ini, Forden muncul di podcast Realm Kast dan Mortal Kombat Online. Di sana, dia cerita banyak hal tentang pengalamannya selama berkecimpung di dunia Mortal Kombat. Salah satu yang menarik adalah pengakuan Forden tentang karakter favoritnya. Padahal, dia sendiri sudah angkat tangan dari urusan main game sejak era Mortal Kombat 3. Alasannya? Kombo-kombo yang makin kompleks bikin dia merasa “udah nggak level“.
“Aku sebenarnya nggak terlalu main game-nya, karena, menurutku, sejak Mortal Kombat 3 dengan kombo-kombonya, rasanya kayak, ‘Oke, ini udah di luar kemampuanku’. Jadi, aku nggak terlalu sering main,” kata Forden. “Dulu, aku masih lumayan sering main yang pertama dan kedua.” Ironisnya, di Mortal Kombat pertama sebenarnya sudah ada kombo, meskipun lebih banyak dianggap sebagai glitch yang cuma bisa dilakukan oleh pemain dewa.
Ketika “Toasty!” Lebih Memilih Serangga
Lalu, siapa karakter yang berhasil mencuri hati seorang Dan Forden? Jawabannya adalah… D’Vorah! Ya, si wanita serangga dari Mortal Kombat X. Mungkin ini terdengar aneh, mengingat Forden sudah nggak main game-nya lagi sejak lama. Tapi, ternyata, ada alasan khusus di balik pilihan ini. “Menurutku, salah satu karakter paling keren yang pernah kami buat adalah D’Vorah. Teknologi yang kami gunakan untuk dia, bagaimana dia digunakan dan ditampilkan dalam mode cerita, itu benar-benar membuatku kagum,” lanjut Forden.
Forden lebih menyoroti aspek desain suara dari D’Vorah. Sebagai seorang sound designer, dia sangat terkesan dengan detail suara yang diberikan pada karakter ini. “Dulu, aku banyak mengerjakan musik di sepanjang seri, tapi di tahun-tahun terakhir, aku lebih banyak mengimplementasikan efek suara, terutama efek suara karakter, untuk memastikan semuanya dimainkan dengan durasi yang tepat, di lokasi yang tepat, dan terdengar bagus.”
Dengan D’Vorah, Forden menyoroti bagaimana suara dari enam kakinya dibuat sedemikian rupa hingga terdengar realistis dan mengerikan. Tentu saja, proses implementasinya nggak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh ketelitian dan keahlian khusus untuk menciptakan suara yang pas dan sesuai dengan gerakan D’Vorah. Kita bisa membayangkan betapa pusingnya Forden dan timnya saat harus merekam suara setiap gerakan kaki serangga ini.
Dari “Toasty!” Hingga Kaki Serangga: Evolusi Selera Dan Forden
Pilihan Forden ini seolah menunjukkan bahwa selera itu memang nggak bisa ditebak. Seorang legenda yang identik dengan suara “Toasty!” ternyata lebih mengagumi karakter yang muncul di era modern dengan desain suara yang kompleks. Ini seperti seorang kritikus film yang lebih suka film indie eksperimental daripada film blockbuster yang penuh ledakan.
Mungkin, bagi Forden, D’Vorah adalah representasi dari kemajuan teknologi dan kreativitas di dunia game. Karakter ini bukan cuma sekadar jagoan yang bisa bertarung, tapi juga sebuah karya seni audio visual yang memukau. Dari sudut pandang seorang sound designer, D’Vorah adalah puncak pencapaian yang patut dibanggakan. Sementara “Toasty!” adalah nostalgia yang menyenangkan, D’Vorah adalah masa depan yang menjanjikan.
Mortal Kombat: Dulu Kombo Glitched, Sekarang Karakter Serangga
Kisah Dan Forden ini juga memberikan kita perspektif baru tentang perkembangan Mortal Kombat. Dulu, game ini dikenal dengan kombo-kombo glitched yang cuma bisa dilakukan oleh para master. Sekarang, game ini menawarkan karakter-karakter kompleks dengan desain suara yang detail dan memukau. Dari sekadar adu jotos, Mortal Kombat telah berevolusi menjadi sebuah pengalaman audio visual yang imersif.
Tentu saja, ada juga yang merindukan masa-masa kejayaan Mortal Kombat dengan grafis piksel dan suara “Toasty!” yang ikonik. Tapi, kita juga nggak bisa menutup mata terhadap kemajuan teknologi dan kreativitas yang telah membawa game ini ke level yang lebih tinggi. Sama seperti Forden yang lebih memilih D’Vorah, kita juga harus bisa menghargai evolusi dan inovasi di dunia game.
Jadi, Apa Hikmahnya?
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari kisah Dan Forden dan kecintaannya pada D’Vorah? Pertama, selera itu memang subjektif dan bisa berubah seiring waktu. Kedua, jangan pernah berhenti belajar dan menghargai inovasi. Ketiga, bahkan seorang legenda pun bisa punya preferensi yang nggak terduga. Dan yang terpenting, jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah desain suara yang baik. Siapa tahu, suara kaki serangga bisa jadi lebih ikonik daripada “Toasty!” di masa depan. Siapa tahu?


