Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

EBV: Virus Langganan Kanker dan MS, Kini Punya Lawan Baru!

Virus Epstein-Barr (EBV) itu ibarat tamu tak diundang yang punya kartu penduduk permanen di tubuh 95% orang dewasa di planet ini. Kebanyakan sih adem ayem, nggak bikin ulah. Tapi jangan salah, EBV ini lebih dari sekadar flu musiman; dia bisa nempel seumur hidup, lalu dengan santainya dikaitkan sama berbagai jenis kanker, multiple sclerosis, dan komplikasi kesehatan serius lainnya. Nah, baru-baru ini ada secercah harapan, kayak ada polisi baru yang siap ngasih kartu merah ke virus ini.

Musuh dalam Selimut, Siap Diberantas?

Tim riset dari Fred Hutchinson Cancer Center dan University of Washington nggak main-main. Mereka berhasil mengembangkan antibodi yang menarget dua protein di permukaan partikel EBV. Protein-protein ini adalah ‘kunci’ yang dipakai EBV untuk membuka pintu sel B, jenis sel darah putih yang krusial banget buat sistem kekebalan tubuh. Dengan memblokir kedua protein ini, EBV bakal kesulitan untuk masuk dan bikin masalah, bahkan mungkin bisa dicegah buat ‘bangun’ lagi di kemudian hari.

Bayangin aja, EBV ini licik banget. Dia bisa menginfeksi hampir semua sel B. Ini yang bikin nyari antibodi spesifik buat ngelawannya jadi PR besar. “Menemukan antibodi manusia yang bisa memblokir EBV dari menginfeksi sel imun kita itu sangat menantang karena, tidak seperti virus lain, EBV menemukan cara untuk mengikat hampir setiap sel B kita,” jelas Andrew McGuire, seorang ahli biokimia. Nah, makanya mereka pakai teknologi baru buat ngisi ‘lubang’ pengetahuan ini, dan akhirnya ngambil langkah krusial buat ngehadang salah satu virus paling umum sedunia ini.

Prosesnya pun cerdas. Mereka pakai tikus yang sudah direkayasa genetikanya untuk memproduksi antibodi manusia. Tujuannya jelas: biar antibodi yang dihasilkan nanti lebih gampang diterima sama tubuh manusia kalo emang udah masuk tahap uji klinis. Waktu hewan percobaan ini dihadapkan sama dua protein kunci EBV, yaitu gp350 dan gp42, sel-sel tikus itu langsung ngasih respons imun yang persis kayak diharapkan peneliti. Hasilnya? Antibodi yang sangat tertarget.

Dari situ, peneliti berhasil mengisolasi 10 antibodi baru di laboratorium. Dua di antaranya menarget gp350, sementara delapan lainnya menarget gp42. Yang bikin makin semangat, ketika diuji ke tikus hidup, salah satu antibodi ini nunjukkin perlindungan yang menjanjikan terhadap EBV. “Nggak cuma berhasil mengidentifikasi antibodi penting melawan virus Epstein-Barr, tapi kami juga memvalidasi pendekatan baru yang inovatif untuk menemukan antibodi pelindung terhadap patogen lain,” ujar Crystal Chhan, seorang patobiologis. Kerennya lagi, penemuan ini muncul dari rasa penasaran dan kerja keras yang nggak nyangka bakal ngasih hasil segede ini.

EBV: Dari Mono Sampai Kanker Ganas

Kalo EBV udah bikin orang sakit, biasanya dimulai dari infeksi mononukleosis, alias ‘demam kelenjar’. Setelah itu, virusnya ‘tidur’ dalam tubuh, nggak menular, tapi bisa jadi jauh lebih berbahaya, apalagi buat yang sistem kekebalan tubuhnya lagi melempem. Salah satu harapan besar dari antibodi baru ini adalah penggunaannya di ratusan ribu prosedur transplantasi organ dan sumsum tulang setiap tahunnya.

Kenapa penting? Prosedur transplantasi itu butuh penekanan sistem imun (imunosupresi) biar tubuh nggak nolak organ baru. Nah, kondisi ini bikin pasien jadi rentan banget sama EBV. Contoh paling jelas adalah gangguan limfoproliferatif pasca-transplantasi (PTLD) yang dipicu EBV. Ini kondisi di mana sel B (lymphocytes) jadi ‘liar’, nggak terkendali, dan bisa memicu kanker yang mengancam jiwa. Dengan suntikan antibodi baru ini, pertumbuhan sel yang nggak terkendali itu bisa dikendalikan.

“Mencegah viremia EBV punya potensi kuat untuk mengurangi kejadian PTLD dan membatasi kebutuhan untuk menurunkan imunosupresi,” kata Rachel Bender Ignacio, seorang dokter penyakit infeksi. Mencegah infeksi EBV bakal sangat membantu, terutama pada kasus transplantasi anak-anak yang mungkin belum pernah terpapar virus ini sebelumnya.

Memang sih, perjalanan sampai ke tahap pengobatan yang siap pakai masih panjang. Tapi, fakta bahwa ada cara baru buat ngehadang EBV biar nggak nginfeksi sel imun manusia itu patut disyukuri. Tahap selanjutnya adalah pengujian keamanan pada manusia dan tentu saja, clinical trials. Nggak sedikit juga ilmuwan lain yang udah lagi ngejar kandidat vaksin EBV, jadi makin banyak jalan yang dibuka buat ngelawan virus ini.

“Setelah bertahun-tahun mencari cara yang layak untuk melindungi diri dari virus Epstein-Barr, ini adalah langkah maju yang signifikan bagi komunitas ilmiah dan bagi orang-orang yang paling berisiko mengalami komplikasi akibat virus ini,” ungkap McGuire. Penelitian ini sendiri sudah dipublikasikan di jurnal Cell Reports Medicine, bukti konkret kalau kemajuan ilmiah ini bukan sekadar omong kosong.

Previous Post

Gran Turismo 7: Gratis Ngalir Sampai Mei, Buruan Gaspol!

Next Post

Magic: The Gathering: Multiverse Kena ‘Reality Fracture’, Siap-siap Aneh!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *