Bayangkan kamu lagi asyik main game, udah level dewa, eh tiba-tiba listrik mati. Gelap gulita. Begitulah kira-kira nasib Eidos-Montreal saat ini. Studio game yang pernah bikin kita terpukau dengan Marvel’s Guardians of the Galaxy ini lagi kena “pemadaman listrik” massal. Bukan cuma listrik, tapi juga proyek dan karyawan.
Eidos-Montreal: Dari Galaxy ke Galau-xy
Eidos-Montreal, rumah bagi para kreator yang dulu menyulap Guardians of the Galaxy jadi masterpiece, kini sedang menghadapi badai layoff yang bikin geleng-geleng kepala. Ibarat lagi main game, tiba-tiba karakter utama kena nerf habis-habisan. Beberapa mantan karyawan curhat di LinkedIn, mengumumkan perpisahan mereka dengan perusahaan. Gameplay director Samuel Daher bahkan menulis, “Dulu kerja di Eidos, cinta banget dan pengennya sih stay, tapi ya namanya juga hidup, kadang sulit.” Sebuah curhatan yang menggambarkan betapa pahitnya realita industri game.
Setidaknya ada belasan orang yang kini mencari pekerjaan baru. Ini bukan layoff pertama, sebelumnya di bulan Maret sudah ada 75 orang yang dipangkas. Alasan klasik: “mandat proyek berakhir”. Tapi, apakah ini akhir dari drama Eidos-Montreal? Sepertinya belum. Sumber-sumber terpercaya membisikkan bahwa sebagian besar proyek di studio telah dibatalkan. Fokusnya sekarang beralih ke kolaborasi dengan Microsoft dan Xbox, seperti Grounded 2 dan Fable. Ada juga satu proyek internal yang sudah digarap sejak 2019, tapi kabarnya biaya produksinya udah nggak ketolong lagi.
Layoff: Ketika “Game Over” Jadi Kenyataan
Setelah proyek-proyek itu selesai, kabarnya “pengurangan staf tambahan sudah diperkirakan”. Hmm, kayaknya ini bukan pertanda baik. Insider Gaming sudah mencoba menghubungi Eidos-Montreal dan perusahaan induknya, Embracer, tapi belum ada tanggapan. Embracer memang terkenal pelit bicara soal layoff dan proyek internal. Mungkin mereka pikir, diam itu emas. Tapi, buat para karyawan yang terancam, diamnya Embracer ini lebih kayak petir di siang bolong.
Industri game memang keras, Bung! Satu hari kamu bisa jadi pahlawan dengan game laris manis, besoknya kamu bisa jadi pengangguran gara-gara proyek dibatalkan. Ini bukan pertama kalinya studio game besar melakukan layoff. Dulu, THQ bangkrut dan menjual asetnya setelah bertahun-tahun jadi raksasa. Telltale Games juga pernah mengalami nasib serupa, sebelum akhirnya bangkit kembali. Pertanyaannya, apakah Eidos-Montreal punya resep rahasia untuk selamat dari krisis ini? Atau, apakah mereka akan jadi sejarah kelam industri game?
Industri Game: Panggung Sandiwara Modal Digital?
Layoff di Eidos-Montreal ini bukan cuma soal hilangnya pekerjaan. Ini juga soal model bisnis industri game yang semakin nggak jelas. Dulu, bikin game itu sederhana: ada ide, ada modal, ada tim, jadi deh game. Sekarang, bikin game itu kayak bikin film blockbuster: butuh modal gede, tim ratusan orang, dan marketing yang gila-gilaan. Kalau gagal, ya wassalam.
Model bisnis game modern ini juga bikin studio game jadi rentan terhadap perubahan tren. Dulu, orang suka game single-player yang fokus pada cerita. Sekarang, orang lebih suka game online yang bisa dimainkan bareng teman. Kalau studio game nggak bisa adaptasi, ya siap-siap aja ditinggalin pemain. Eidos-Montreal sendiri sudah mencoba berbagai macam genre, dari action-adventure (Tomb Raider) sampai superhero (Guardians of the Galaxy). Tapi, sepertinya itu belum cukup untuk menyelamatkan mereka dari badai layoff.
Kolaborasi dengan Microsoft: Jurus Pamungkas?
Fokus Eidos-Montreal sekarang adalah kolaborasi dengan Microsoft dan Xbox. Ini bisa jadi jurus pamungkas untuk bertahan hidup. Grounded 2 dan Fable adalah proyek besar yang punya potensi sukses besar. Tapi, apakah ini cukup untuk menjamin masa depan studio? Kita lihat saja nanti.
“Grounded 2” dan “Fable”: Taruhan Masa Depan Eidos-Montreal
Grounded 2, sekuel dari game survival yang unik ini, punya potensi besar untuk menarik perhatian pemain. Konsepnya yang unik, di mana pemain berperan sebagai anak kecil yang menyusut dan harus bertahan hidup di halaman belakang rumah, bikin game ini beda dari game survival lainnya. Sementara itu, Fable adalah franchise RPG klasik yang punya banyak penggemar setia. Reboot dari franchise ini diharapkan bisa mengembalikan kejayaan Fable di masa lalu.
Tapi, kolaborasi dengan Microsoft ini juga punya risiko. Eidos-Montreal harus tunduk pada visi dan arahan Microsoft. Mereka nggak bisa lagi sebebas dulu dalam berkreasi. Ini bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka punya sumber daya dan dukungan dari Microsoft. Di sisi lain, mereka kehilangan independensi dan kreativitas.
Proyek Misterius 2019: Beban atau Berkah?
Selain kolaborasi dengan Microsoft, ada juga satu proyek internal yang sudah digarap sejak 2019. Proyek ini masih misterius, nggak ada yang tahu genre-nya apa, ceritanya tentang apa, atau gameplay-nya kayak gimana. Tapi, satu yang pasti: biaya produksinya udah nggak ketolong lagi. Sumber-sumber membisikkan bahwa proyek ini nggak punya harapan untuk balik modal. Apakah proyek ini akan jadi beban yang semakin memberatkan Eidos-Montreal? Atau, apakah proyek ini justru jadi kejutan yang menyelamatkan mereka dari kebangkrutan? Waktu yang akan menjawab.
Nasib Eidos-Montreal: Antara “Continue” dan “Game Over”
Apa yang akan terjadi pada Eidos-Montreal? Apakah mereka akan berhasil bangkit dari keterpurukan? Atau, apakah mereka akan mengikuti jejak studio game lain yang gulung tikar? Kita nggak tahu. Tapi, satu yang pasti: industri game itu kejam. Studio game harus terus berinovasi, beradaptasi, dan mengambil risiko. Kalau nggak, ya siap-siap aja kena layoff.
“Additional Staff Reductions Are Already Forecasted”: Kode Kiamat?
Kalimat “additional staff reductions are already forecasted” itu kayak kode kiamat buat para karyawan Eidos-Montreal. Ini berarti, setelah proyek-proyek yang ada selesai, akan ada lagi layoff yang lebih besar. Ini bukan cuma soal kehilangan pekerjaan, tapi juga soal masa depan industri game. Apakah industri game akan semakin terpusat di tangan segelintir perusahaan raksasa? Atau, apakah akan ada studio game independen yang berani melawan arus?
Masa Depan Eidos-Montreal: Pertaruhan di Tangan Embracer
Masa depan Eidos-Montreal ada di tangan Embracer. Perusahaan induk ini punya dua pilihan: menyelamatkan studio atau membiarkannya tenggelam. Kalau Embracer peduli dengan kualitas game dan keberlangsungan industri game, mereka seharusnya berinvestasi di Eidos-Montreal. Mereka harus memberi studio ini kebebasan untuk berkreasi dan mengambil risiko. Tapi, kalau Embracer cuma peduli dengan keuntungan jangka pendek, mereka mungkin akan menjual aset Eidos-Montreal dan membiarkannya mati.
Jadi, mari kita saksikan bersama drama Eidos-Montreal ini. Apakah mereka akan berhasil melewati badai layoff? Atau, apakah mereka akan jadi kenangan pahit dalam sejarah industri game? Kita tunggu saja episode berikutnya.


