Mendengar nama Hiroyuki Kobayashi, para veteran Capcom pasti langsung teringat pada deretan franchise legendaris seperti Dino Crisis dan Devil May Cry, bahkan game-game orisinal yang eksperimental macam P.N.03 dan Killer7. Kini, setelah lebih dari seperempat abad berkecimpung dalam industri gim, sang produser kawakan ini kembali tertantang untuk melahirkan sebuah Intellectual Property (IP) orisinal dari nol besar. Bukan sekadar membuat gim baru, ini adalah pembangunan ulang seluruh ekosistem pengembangan, mulai dari fondasi studio, infrastruktur teknis, hingga merajut tim impian yang didorong oleh semangat menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Memulai Babak Baru Tanpa Jaringan Warisan
Kobayashi sendiri mengakui bahwa memulai dari nol mutlak memiliki tantangan tersendiri. Namun, justru dari proses inilah sebuah anomali terjadi: terkumpulnya para kreator yang memiliki motivasi membuncah, baik dari dalam maupun luar studio, yang memiliki visi sejalan untuk membangun IP baru. Kebebasan inilah yang memungkinkan mereka membentuk alur kerja pengembangan sesuai keinginan, mendefinisikan bagaimana sebuah gim seharusnya diciptakan tanpa terbelenggu ekspektasi waralaba yang sudah ada. Ini adalah kesempatan emas untuk bereksperimen, membentangkan kanvas kosong dan melukis mahakarya tanpa batasan imajinasi, sebuah kemewahan langka di industri gim yang kerap terperangkap dalam siklus sekuel dan remake.
Gim yang dimaksud adalah Stupid Never Dies, sebuah action RPG yang tampil mencolok dengan visualnya yang cerah, intensitas permainannya yang tanpa henti, narasi yang cenderung absurd, dan mekanika pertarungan yang tak kalah gila. Kobayashi menganggap ini sebagai sebuah karya yang ditujukan bagi para penggila action core, sebuah proposisi yang mungkin sulit diterima oleh penerbit besar jika diajukan sebagai IP baru. Keputusan untuk menargetkan segmen spesifik ini menunjukkan keberanian untuk tidak berkompromi pada visi artistik demi potensi pasar yang lebih luas, sebuah pertaruhan yang patut diapresiasi di tengah dominasi gim-gim generik.
Stupid Never Dies merupakan debut dari GPTRACK50, sebuah studio independen berlokasi di Osaka yang hanya dihuni sekitar 30 kreator inti. Preferensi Kobayashi untuk bekerja dalam tim kecil bukanlah tanpa alasan; ia ingin tetap dekat dan terhubung dengan setiap anggota tim. Namun, untuk mewujudkan ambisi proyek ini, studio tersebut juga menggandeng lebih dari 150 kontraktor eksternal. Kolaborasi skala besar ini menunjukkan bahwa meski idealisme tim inti dijaga, realitas produksi membutuhkan sumber daya yang lebih luas, sebuah keseimbangan yang seringkali menjadi kunci keberhasilan proyek ambisius.
Latar cerita Stupid Never Dies membawa pemain ke dunia yang porak-poranda akibat perang besar dan kini dipenuhi oleh berbagai macam monster. Karakter utama yang dimainkan adalah Davy, seekor zombie pemalu yang berada di kasta terendah dalam rantai sosial monster. Kehidupan Davy berubah drastis saat ia menemukan sesosok gadis manusia yang membeku hingga tewas di dalam freezer. Terpesona pada pandangan pertama, Davy bertekad melakukan apa pun untuk menghidupkan kembali gadis pujaannya.
Daya Tarik Gameplay yang Agresif dan Adaptif
Untuk menyelesaikan misi Davy, pemain harus menjelajahi dungeon dalam format run-based. Setiap sesi permainan mengharuskan Davy untuk terus naik level, memperoleh kemampuan bertarung baru, dan mengumpulkan perlengkapan untuk menyesuaikan gaya bermain. Semakin banyak monster yang berhasil dikalahkan, semakin cepat Davy meningkatkan levelnya, menciptakan rasa momentum yang terasa di setiap pengulangan sesi. Pertumbuhan ini memberikan ritme yang berbeda pada setiap permainan, dan semakin jauh melangkah, aksi yang tersaji akan semakin intens dan memacu adrenalin. Ambisi untuk menarik perhatian gamer Barat sejak tahap perencanaan awal menunjukkan pemahaman mendalam tentang preferensi pasar global, dengan harapan gim ini dapat merayap perlahan ke pasar Jepang dan wilayah lain.
Untuk menciptakan diferensiasi dari gim action lainnya, Stupid Never Dies dirancang sebagai gim action hyper offense-focused yang dijuluki ‘Funky Zombie Action’. Filosofi utamanya adalah menyerang tanpa henti, terus bergerak maju. Karena Davy adalah zombie, ketakutan akan kematian menjadi tidak relevan. Davy dapat memulihkan diri dengan mengigit musuh dan menyerap energi mereka, menciptakan siklus permainan yang berpusat pada agresi murni. Mekanika ini secara fundamental mengubah cara pemain memandang risiko dan hadiah dalam sebuah pertarungan, mendorong pendekatan yang lebih berani dan ekspresif.
Inti dari sistem pertarungan Stupid Never Dies adalah Style Eat system. Selama sesi permainan, Davy dapat ‘memakan’ monster elite untuk mendapatkan gaya bertarung mereka. Gaya bertarung ini dapat disimpan dan diubah secara mulus selama permainan. Terdapat lebih dari sepuluh gaya bertarung yang berbeda, masing-masing dengan karakteristik uniknya, seperti serangan jarak jauh, jarak dekat, fokus pada kecepatan, atau kekuatan. Kemampuan untuk mengganti gaya bertarung secara dinamis memungkinkan pemain untuk beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi pertempuran, menciptakan lapisan strategi tambahan yang membuat setiap pertarungan terasa segar dan menantang.
Eksperimentasi Gaya Bertarung dan Modifikasi Karakter
Desain Stupid Never Dies mendorong pemain untuk membaca pola serangan dan kelemahan musuh, lalu menyesuaikan pendekatan mereka. Gagasan utamanya adalah pemain didorong untuk bereksperimen dengan berbagai kombinasi gaya bertarung dan menemukan sinergi serta combo tak terduga. Konsep ini sangat kental dengan elemen Roguelike, di mana setiap sesi permainan di dungeon menawarkan pengalaman bermain yang berubah-ubah. Sebagai contoh, setiap gaya bertarung memiliki kumpulan lima skill yang mungkin, dan pemain akan mendapatkan salah satunya secara acak saat memperoleh gaya tersebut, menambah unsur ketidakpastian pada setiap sesi permainan. Hal ini memastikan bahwa pemain tidak akan pernah merasa bosan, karena selalu ada elemen kejutan yang membuat setiap sesi terasa unik.
Ketika pemain berhasil mengisi gauge tersembunyi di bawah kondisi tertentu, mereka dapat mengaktifkan kemampuan spesial yang disebut Davy Burst. Saat terpicu, kemampuan ini secara signifikan meningkatkan serangan dan pertahanan Davy, mendorongnya ke dalam keadaan energi tinggi yang luar biasa. Secara visual, ini akan meledak menjadi tontonan spektakuler yang didorong oleh imajinasi, menghidupkan dunia batin Davy dengan cara yang mencolok dan berlebihan. Pemain juga dapat lebih meningkatkan efek Davy Burst, memungkinkan mereka untuk membentuk seberapa kuat momen transformatif ini akan menjadi, memberikan sentuhan personal pada kekuatan pamungkas Davy.
Sumber strategi utama lainnya berasal dari pilar gameplay kedua, Body Hack, sebuah sistem progresi di mana pemain mengumpulkan dan menetapkan bagian ‘OT’ dari monster. Selama permainan, bagian-bagian ini dapat digunakan untuk membuat perlengkapan OT dan memasangnya ke tubuh Davy, seperti lengan kiri, kepala, lengan kanan, dan kaki. Sistem ini memberikan kebebasan kustomisasi yang mendalam, memungkinkan pemain untuk menciptakan Davy yang unik sesuai dengan preferensi mereka.
Pertanyaan NetEase dan Komitmen Proyek
Tentu saja, isu yang tak bisa diabaikan adalah status GPTRACK50 di bawah perusahaan induknya, NetEase Games. Sejak studio ini didirikan, NetEase diketahui telah mengambil langkah agresif dalam operasi gim internasionalnya, menutup banyak startup sebelum sempat merilis gim debut mereka. Laporan terbaru menyebutkan Nagoshi Studio, yang didirikan oleh kreator legendaris Yakuza, dilaporkan menghadapi penutupan akibat pencabutan pendanaan oleh pemiliknya. Sementara itu, studio NetEase lainnya, Grasshopper milik Suda51, baru saja berhasil merilis proyek terbarunya, Romeo is a Deadman, meskipun tanpa penyebutan nama perusahaan induknya.
Meskipun Kobayashi tidak memberikan komentar langsung mengenai status GPTRACK50 di bawah NetEase, ia memberikan jaminan kepada para penggemar bahwa proyek ini akan berhasil dirilis. Pengembangan berjalan lancar, dan jalur menuju versi final terlihat jelas. Harapan untuk dapat membagikan tanggal rilis dalam waktu dekat menjadikan proyek ini patut dinanti. Sebagai sebuah IP baru, dukungan dari para pemain akan sangat berarti dalam menghadapi tantangan ini, menunjukkan bahwa keberanian untuk memulai dari nol tetap membutuhkan ekosistem yang suportif untuk berkembang.
Di samping sistem-sistem tersebut, terdapat pula elemen progresi persisten yang meningkatkan parameter inti Davy dari waktu ke waktu. Yang membuatnya menarik adalah perlengkapan OT yang terpasang akan tetap ada bahkan saat mengganti gaya bertarung, membuka berbagai macam sinergi antara perlengkapan dan gaya bertarung yang berbeda. Hal ini mendorong pemain untuk bereksperimen dan menemukan kombinasi unik mereka sendiri. Namun, produser mengakui bahwa, jika dipikirkan kembali, ini mungkin bukan ide terbaik untuk tim kecil mereka. Tingkat kesulitan dalam hal seni maupun implementasi sistem ternyata sangat ambisius. Perhatian mendalam pada desain UI juga menghasilkan tingkat detail yang luar biasa, yang berujung pada volume pekerjaan yang sama mengesankannya. Meski begitu, ini adalah sesuatu yang dinikmati seluruh tim, dan energi tersebut terasa jelas dalam gim ini.
Dengan hadirnya proyek-proyek dari veteran Capcom lainnya seperti Itsuno dengan Lightspeed, Kamiya dengan Clovers, Mikami dengan Unbound, dan kini Kobayashi dengan GPTRACK50, para penggemar gim action produksi Capcom sedang menikmati masa keemasan. Jika semua proyek ini tampil secerah dan seunik Stupid Never Dies, beberapa tahun ke depan akan menjadi waktu yang sangat menarik bagi para penikmat genre ini. Kegigihan para kreator kawakan ini dalam terus berinovasi menjadi inspirasi, membuktikan bahwa semangat menciptakan hal baru tidak pernah pudar, bahkan setelah puluhan tahun malang melintang di industri yang terus berubah.


