Mendengar kisah David Ellefson, eks bassist MEGADETH, tentang hubungannya yang penuh gejolak dengan pentolan band, Dave Mustaine, terasa seperti menonton episode panjang serial drama metal yang tak kunjung usai. Mulai dari momen keakraban yang diklaim tulus layaknya ngopi bareng di Starbucks, hingga gesekan soal kontribusi lirik dan pergantian bassis di album terbaru. Siapa sangka, di balik riff-riff cadas dan teriakan yang memekakkan telinga, tersimpan intrik yang tak kalah panas dari ballad cinta yang ditolak.
Tak Sekadar Bassist, Sebuah “Kakak” yang Terbuang?
Ellefson mengisahkan, di awal kembalinya ke MEGADETH pada tahun 2010, hubungannya dengan Mustaine terjalin sangat erat. Saking eratnya, ia bahkan menyebut momen-momen berdua, tanpa ada pihak ketiga, adalah yang paling otentik. Mereka bisa saja duduk santai, minum kopi, dan berbagi cerita layaknya saudara kandung. Ini bukan tentang panggung megah atau sorakan ribuan penggemar, melainkan percakapan jujur antar pria. Pengalaman seperti inilah yang Ellefson yakini sebagai fondasi persaudaraan yang sesungguhnya, sebuah kontras tajam dengan citra metal yang seringkali diasosiasikan dengan amarah dan kekacauan.
Namun, seiring berjalannya waktu, jembatan keakraban itu seolah mulai retak. Ellefson merasa Mustaine mulai menunjukkan gelagat tak menyenangkan, terutama terkait proyek album “The Sick, The Dying… And The Dead!”. Ia bahkan menyatakan bahwa Mustaine tidak ingin menggunakan musiknya sama sekali untuk rekaman tersebut, sebuah indikasi kuat adanya rasa sakit hati atau penolakan personal. Ada sebuah ballad yang ia ciptakan, bahkan melibatkan gitaris Kiko Loureiro untuk menggarapnya, namun lagu tersebut akhirnya tidak masuk dalam album. Ini bukan sekadar penolakan karya, tetapi penolakan terhadap eksistensi Ellefson sebagai kontributor dalam album yang ia bantu ciptakan.
Puncak kekecewaan Ellefson terlukis jelas ketika ia menyinggung proses penulisan lirik untuk lagu “Soldier On!”. Ia mengaku diundang untuk menyumbangkan lirik, yang kemudian diterima oleh Mustaine dan diubah menjadi judul lagu tersebut. Namun, yang membuatnya miris adalah perlakuan Mustaine terhadap dirinya yang berbeda drastis ketika Mustaine sendiri dipecat dari METALLICA. Ellefson menyindir bahwa setidaknya METALLICA tetap menghargai karya dan kontribusi Mustaine dengan tetap membayarnya dan memberikan kredit. Sebaliknya, ia merasa Mustaine tidak sebaik itu padanya, melakukan pemecatan, menghapus performanya dari rekaman, bahkan mengambil lirik yang telah ia tulis.
Perasaan ini semakin diperkuat oleh pengakuan Ellefson bahwa “perpisahan” sejatinya dengan MEGADETH terjadi pada tahun 2018, yang ia sebut sebagai tur perpisahannya. Ia merasa telah berkontribusi pada album terakhir yang dianggapnya “hebat” dari MEGADETH, yaitu “Dystopia” (2016). Pengumuman Mustaine dari panggung di Buenos Aires pada November 2017 mengenai rencana pengerjaan album baru, baginya, adalah sebuah penutup yang baik. Justru, ia merasa dilepaskan dari beban dan kini bisa fokus pada proyek-proyek lain. Menariknya, Ellefson menegaskan bahwa ia tidak menyimpan rasa pahit, berbeda dengan Mustaine yang ia sebut memiliki rasa pahit terhadap METALLICA.
Badai Muncul: Skandal dan Pemecatan yang Membekas
Semua masalah ini akhirnya memuncak pada pengusiran Ellefson dari MEGADETH kurang lebih lima tahun lalu. Kejadian ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah pesan bernuansa seksual dan rekaman video eksplisit yang melibatkan bassist tersebut beredar di Twitter. Ellefson sendiri telah merilis pernyataan yang membantah tudingan bahwa ia “memanipulasi” penggemar di bawah umur. Ia bahkan melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian di Scottsdale, Arizona, menuduh adanya distribusi ilegal gambar eksplisit dirinya oleh pihak tak dikenal.
Dalam laporan polisi tersebut, Ellefson mengakui adanya pertukaran pesan teks bernada seksual dengan seorang remaja asal Belanda. Remaja tersebut kemudian merekam video “pertemuan masturbasi virtual” tanpa seizin Ellefson dan membagikannya kepada teman-temannya. Ellefson menyatakan bahwa wanita tersebut berusia 19 tahun saat pertemuan virtual pertama mereka. Ia baru mengetahui video tersebut beredar pada 9 Mei 2021, ketika muncul klaim di Instagram bahwa “David Ellefson dari MEGADETH adalah pedofil.” Tanggal 14 Mei, ia diinformasikan oleh MEGADETH bahwa band tersebut akan berpisah dengannya, dan tiga hari kemudian, ia resmi dipecat.
Dalam wawancaranya dengan Gustavo Olmedo, Ellefson mengisahkan bahwa pihak MEGADETH meneleponnya untuk memberhentikan dirinya. Ia sempat meyakinkan mereka bahwa tidak ada alasan kuat untuk memecatnya, menyebut isu yang beredar hanyalah “omong kosong di internet.” Ia juga menyatakan bahwa ia akan tetap pada pendiriannya tersebut. Ellefson menggarisbawahi betapa melelahkannya berurusan dengan para troll dan berbagai macam fitnah di internet. Tidak ada “polisi internet” atau “SDM internet” yang bisa dijadikan tempat mengadu ketika reputasi dirusak secara masif dan berpotensi menghambat karier. Ironisnya, semua itu terjadi di “tempat yang tidak nyata,” namun dampaknya merembet ke dunia nyata.
Menghadapi “Iblis” Internet dan Warisan yang Tergerus
Ellefson menganggap pernyataan Mustaine yang terkesan memberikan “angin segar” pada cerita tersebut, dengan mengatakan bahwa ada “aspek-aspek kehidupan pribadi David yang ia tutupi,” sebagai tindakan deflectionary yang bertujuan menjauhkan diri dari masalah. Ia justru menyatakan tidak ada yang perlu ditutupi dan tim hukumnya sendiri memberikan “restu” jika ia ingin “meluapkan kemarahan” di internet. Ia bahkan merujuk pada firma hukum ternama di Phoenix yang menyebut tindakan tersebut “unconscionable” atau tidak berperikemanusiaan.
Mengutip sebuah ayat Alkitab mengenai melawan iblis, Ellefson memilih untuk tidak terlibat dalam pertarungan hukum kembali, seperti yang pernah ia lakukan dengan gugatan senilai $18,5 juta terhadap Mustaine pada tahun 2004 atas tuduhan kurangnya pembagian keuntungan dan kesepakatan pengalihan Megadeth Inc.. Gugatan tersebut akhirnya dihentikan setelah penyelesaian di luar pengadilan, dan Ellefson kembali ke MEGADETH pada tahun 2010. Ia menegaskan bahwa Mustaine tidak memenangkan gugatan tersebut dan penyelesaian itu justru menempatkannya pada posisi yang jauh lebih baik, meskipun prosesnya sangat berat.
Kekesalan Ellefson semakin memuncak ketika Mustaine menolak kemungkinan reuni semua mantan anggota MEGADETH untuk konser perpisahan. Mustaine beralasan, “tidak bisa melakukan itu karena perilaku salah satu anggota band di masa lalu.” Ellefson secara tegas menolak hal ini, mengatakan, “Cukup sudah. Siapa orang itu? Bukan saya, karena saya tidak melakukan apa pun yang akan menghalangi saya kembali.” Ia menganggap Mustaine mencari pembenaran moral yang dangkal. Bahkan, ia mengaku banyak musisi rock besar yang lebih terkenal dari Mustaine datang kepadanya menawarkan bantuan dan dukungan, menyatakan kekecewaan mereka atas cara Ellefson diperlakukan dan memilih “bisnis di atas persaudaraan.”
Dialog Antar Dua Legenda: Perspektif yang Berbeda
Mustaine sendiri dalam wawancara dengan Metal Hammer pada tahun 2022, menggambarkan keputusan untuk memecat Ellefson sebagai keputusan yang sulit. Ia mengakui bahwa ia juga pernah membuat kesalahan dan tahu rasanya menjadi sasaran kritik. Namun, ia menekankan kompleksitas MEGADETH yang melibatkan banyak pihak, mulai dari anggota band lain, keluarga mereka, manajemen, hingga kru. Mustaine juga mengakui pernah membuat keputusan yang merugikan keamanan band di masa lalu, tetapi enggan membahas lebih jauh tentang individu yang tidak dapat membela diri.
Mustaine menyatakan, sebagai pemimpin, ia harus mengambil keputusan sulit dan “menghadapinya.” Ia berharap perpisahan ini dapat berjalan lancar tanpa menyakiti siapa pun, termasuk penggemar dan Ellefson. Ia juga menyinggung pengalamannya sendiri saat dipecat dari METALLICA, dan mengatakan bahwa ia telah memaafkan Ellefson atas gugatannya, namun tidak akan lagi bermain musik bersamanya.
Ellefson, dalam penampilannya di “Trunk Nation With Eddie Trunk” pada Oktober 2021, merinci bagaimana ia langsung menghadapi isu yang beredar. Pihak MEGADETH sempat memintanya untuk tidak berkomentar, namun penasihat hukumnya menyarankan untuk membela diri karena adanya tuduhan palsu. Pembelaan diri ini, menurutnya, berujung pada pemecatan. Ia mengungkapkan kekecewaan atas cara pemecatan tersebut berlangsung, terutama karena rencana awal untuk membuat pernyataan bersama tidak terlaksana.
Ellefson juga sempat mengaku tidak familiar dengan istilah “grooming” dan tidak menyadari makna di balik istilah yang digunakan para ahli untuk menggambarkan tindakan predator seksual. Ia menegaskan bahwa tidak ada unsur ilegal dalam interaksinya, dan ia segera menyewa pengacara kriminal serta melaporkan kejadian ke polisi. Ia berargumen bahwa orang yang tidak bersalah justru akan mendatangi pihak berwajib untuk membersihkan nama.
Menanggapi isu “cancel culture,” Ellefson menyatakan bahwa ia tidak bersalah dan berhak membela diri. Ia memilih untuk menyerahkan urusan tersebut kepada pengacara dan polisi. Ia juga memutuskan untuk rehat sejenak dari media sosial dan wawancara untuk menenangkan diri, baik secara personal maupun profesional. Baginya, “waktu dapat menyembuhkan luka.” Ellefson juga menekankan bahwa mereka yang menyebarkan konten eksplisit tanpa izin justru melakukan kejahatan. Meskipun ia mengakui bahwa internet bisa menjadi tempat yang sulit dijangkau secara hukum karena perbedaan geografis, ia menyarankan untuk menjauhi platform tersebut yang bisa menjadi lahan subur bagi tindakan semacam itu.
Kisah Ellefson yang berulang kali keluar masuk MEGADETH, dari awal pendiriannya pada tahun 1983 hingga 2002, dan kembali dari 2010 hingga pemecatan terbarunya, memberikan gambaran betapa rumitnya dinamika dalam sebuah band legendaris. Ini bukan hanya soal musik, tetapi juga tentang persahabatan, kesetiaan, dan bagaimana individu menavigasi badai kehidupan pribadi yang tak terhindarkan, bahkan di puncak karier mereka.
