Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Fertilitas Turun: Peran Wanita & Dampak Gender Menurut Claudia Goldin

Dulu, punya anak banyak itu kayak investasi. Sekarang? Kayak download aplikasi yang makan memori HP. Ironisnya, makin maju peradaban, makin ogah kita reproduksi. Ada apa dengan dunia ini? Kenapa kita lebih milih scroll TikTok daripada ganti popok?

Fenomena penurunan angka kelahiran alias fertilitas ini bukan lagi gosip warung kopi, tapi sudah jadi headline berita serius. Dari Amerika Serikat yang mulai ‘sepi’ sejak 70-an, sampai sub-Sahara Afrika yang dulunya gudangnya bayi, semua kompak nurunin produksi anak. Profesor Claudia Goldin, ekonom yang baru dapet Nobel (keren!), punya penjelasan yang bikin kita mikir keras.

Dulu, ekonomi lagi bagus atau abis resesi, orang langsung bikin anak. Baby boom pasca Perang Dunia II jadi buktinya. Sekarang? Justru kebalikannya. Makin banyak duit, makin males punya anak. Ini kayak paradoks di game strategi: makin tinggi level, makin susah nyari resource.

Menurut Goldin, semua ini gara-gara satu hal: emansipasi wanita. Dulu, perempuan cuma punya dua pilihan: masak atau momong anak. Sekarang? Mereka bisa jadi CEO, astronot, atau influencer. Pilihan yang makin banyak ini bikin mereka mikir dua kali sebelum ‘investasi’ ke anak.

Tapi, tunggu dulu. Jangan salah paham. Ini bukan berarti perempuan jadi egois. Mereka cuma pengen punya kendali atas hidup mereka sendiri. Pengen kuliah, pengen karir, pengen me time. Dulu semua itu mustahil. Sekarang, semua itu ada di ujung jari.

Masalahnya, perubahan ini nggak selalu disambut baik sama kaum adam. Banyak cowok yang masih nyaman dengan peran tradisional: istri di rumah, suami cari nafkah. Nah, di sinilah muncul gesekan. Cowok nggak mau ‘kehilangan’ apa yang dulu mereka punya, sementara cewek pengen hak yang sama. Ini kayak rebutan joystick di depan TV.

Kenapa Cowok Lebih Pilih Jadi Sultan TikTok daripada Ganti Popok?

Penurunan angka kelahiran ini bukan cuma masalah perempuan. Ini masalah sosial yang kompleks. Cowok juga punya peran penting di sini. Kalo cowok nggak mau berbagi peran, ya jangan heran kalo cewek ogah reproduksi. Ini kayak main game online: kalo timnya nggak kompak, ya susah menang.

Goldin bilang, solusi dari masalah ini nggak bisa instan kayak mie rebus. Nggak bisa cuma modal subsidi atau insentif. Kita harus ngubah mindset. Kita harus bikin lingkungan yang mendukung perempuan untuk punya karir dan keluarga. Kita harus bikin cowok sadar kalo ganti popok itu bukan aib, tapi bentuk cinta.

Faktanya, penurunan angka kelahiran ini terjadi di semua kalangan, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi. Mereka yang punya duit, punya karir bagus, justru makin males punya anak. Ini bukti kalo masalahnya bukan cuma ekonomi. Ada faktor lain yang lebih dalam.

Goldin nyebutnya “mismatch factors”. Cowok pengen berkeluarga, tapi nggak mau repot. Cewek pengen dua-duanya: karir dan anak, tapi nggak mau dikorbankan salah satunya. Ini kayak nyari cheat code di game kehidupan: pengen menang, tapi nggak mau usaha.

Singkatnya, laki-laki masih belum merasakan beban yang sama dalam mengurus anak dan keluarga. Mereka masih bisa fokus ke karir tanpa terbebani urusan domestik. Sementara itu, perempuan merasakan betul bagaimana sulitnya menyeimbangkan keduanya. Alhasil, banyak perempuan yang memilih untuk menunda atau bahkan tidak memiliki anak sama sekali.

Emang Salah Kalo Perempuan Lebih Milih Liburan ke Bali daripada Beranak-Pinak?

Goldin heran, kenapa masalah ini baru rame sekarang? Padahal, angka kelahiran udah turun sejak 50 tahun lalu. Mungkin, baru sekarang kita sadar kalo populasi dunia nggak se-stabil dulu. Mungkin, baru sekarang kita takut kalo generasi penerus kita bakal punah kayak dinosaurus.

Yang jelas, masalah ini bukan cuma urusan negara. Ini urusan kita semua. Kita sebagai individu, sebagai keluarga, sebagai masyarakat. Kita harus mulai ngobrolin ini dengan serius, tanpa menghakimi, tanpa menyalahkan. Kita harus cari solusi bareng-bareng, sebelum kita semua jadi penghuni museum sejarah.

Goldin juga menekankan bahwa masalah ini bukan cuma urusan kaum liberal. Bahkan, perempuan konservatif pun pengen dihormati di tempat kerja. Mereka pengen dipromosikan, pengen dibayar sesuai dengan kinerja mereka. Ini bukti kalo semua perempuan, apapun ideologinya, pengen hak yang sama.

Isu penurunan angka kelahiran ini adalah isu fundamental. Ini menyangkut masa depan peradaban manusia. Ini menyangkut hak perempuan, peran laki-laki, dan keseimbangan sosial. Ini kayak main catur: satu langkah salah, bisa bikin kita kalah telak.

Antara Karier, Keluarga, dan Kesejahteraan Mental: Pilih Mana? (Nggak Bisa Ketiganya?)

Intinya, Goldin pengen kita mikir lebih dalam tentang masalah ini. Jangan cuma nyalahin perempuan, jangan cuma nyalahin cowok. Tapi, cari akar masalahnya dan cari solusi yang adil untuk semua. Kalo nggak, ya siap-siap aja jadi spesies langka di masa depan.

Jadi, daripada ributin siapa yang salah, mending kita fokus ke solusi. Gimana caranya bikin perempuan nyaman punya karir dan keluarga? Gimana caranya bikin cowok sadar kalo ganti popok itu keren? Gimana caranya bikin masyarakat yang mendukung kesetaraan gender? Ini kayak nyari easter egg di game kehidupan: susah, tapi kalo ketemu, puasnya bukan main.

Previous Post

Lily Allen & David Harbour Jual Rumah: Drama Perceraian Berdampak ke Karir?

Next Post

Zygarde: Cara Mendapatkan, Mengubah Forme, dan Menguasai Pokémon Legendaris Di Legends: Z-A

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *