Bayangkan dunia di mana skill main game justru mengurangi tingkat kebahagiaan. Ironis, bukan? Padahal, katanya, game itu hiburan. Tapi, sebuah penelitian terbaru dari Gallup menunjukkan fakta yang mungkin bikin para gamer—terutama yang hardcore—mikir dua kali. Apakah push rank setiap hari sepadan dengan kesejahteraan hidup yang merosot?
Singkatnya, survei ini menemukan bahwa semakin sering seseorang bermain game, semakin kecil kemungkinan mereka merasa “berkembang” atau “thriving” dalam hidup. Tapi, tunggu dulu, jangan langsung banting keyboard. Ada nuansa penting yang perlu digarisbawahi: bukan sekadar frekuensi bermain, tapi juga dengan siapa dan bagaimana kita bermain yang memengaruhi kesejahteraan.
Main Game Sendirian Bikin Merana?
Menurut data dari Gallup, sekitar 48% orang dewasa di Amerika Serikat bermain game secara rutin. Yang menarik, mereka yang bermain setiap hari cenderung kurang bahagia dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah bermain. Hanya 45% gamer harian yang merasa thriving, sementara angka ini mencapai 55% pada mereka yang jarang bermain. Secara keseluruhan, tingkat thriving di AS adalah 51%, jadi para gamer garis keras ini berada di bawah rata-rata.
Tapi, sebelum menyalahkan game sepenuhnya, mari kita lihat lebih dalam. Ternyata, bermain game sendirian atau dengan orang asing secara online memiliki dampak negatif yang lebih besar. Sebaliknya, mereka yang bermain dengan teman atau keluarga, terutama secara langsung, cenderung lebih bahagia. Jadi, bisa dibilang, game itu seperti pisau bermata dua: bisa jadi sumber kebahagiaan, bisa juga jadi biang keladi kesepian.
Kita semua tahu, kan, sensasi menang main Mobile Legend bareng teman-teman sambil teriak-teriak di warung kopi? Nah, itu dia poinnya. Kesenangan bukan cuma soal menang, tapi juga soal interaksi sosial yang terjadi di sekitarnya. Kalau cuma main solo rank sambil nge-toxic di kolom komentar, ya, jangan heran kalau hidup terasa pahit.
Data dari Gallup ini diambil dari survei National Health and Well-Being Index yang melibatkan lebih dari 5.000 orang dewasa di AS. Survei ini dirancang khusus untuk melihat hubungan antara kesejahteraan dan kebiasaan bermain game. Pendekatan ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada bagaimana game membuat orang merasa. Gallup mencoba mengukur dampak game secara objektif terhadap kesejahteraan hidup.
Efek Gengsi: Main Game Bareng Lebih Asyik Daripada Pamer Skin
Mayoritas gamer (83%) mengaku sering bermain sendirian. Sisanya bermain dengan teman atau keluarga secara langsung (31%), dengan teman atau keluarga secara online (28%), atau dengan orang asing secara online (23%). Nah, dari sini kelihatan pola yang jelas: semakin sedikit interaksi sosial, semakin rendah tingkat kebahagiaan.
Mereka yang bermain game dengan teman atau keluarga secara langsung memiliki tingkat thriving yang lebih tinggi, bahkan jika mereka bermain setiap hari. Ini kontras dengan mereka yang bermain dengan orang asing secara online, yang memiliki tingkat thriving paling rendah. Jadi, jelas bahwa konteks sosial bermain game itu penting banget.
Mungkin, analoginya begini: pamer skin mahal di game itu cuma kesenangan sesaat. Tapi, ketawa-ketiwi bareng teman saat main game itu investasi jangka panjang untuk kesehatan mental. Sama seperti nongkrong di warung kopi, kadang bukan kopinya yang dicari, tapi obrolan dan kebersamaannya.
Si Paling Lonely: Gamer Muda Cowok
Survei ini juga menemukan bahwa pria muda adalah kelompok demografis yang paling sering bermain game. Sayangnya, pria muda juga cenderung memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan kelompok usia dan gender lainnya. Apakah ada hubungannya? Mungkin saja. Apalagi, kalau kita lihat data lebih detail, pria muda yang sering bermain game memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang bermain.
Memang, sih, ada faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan, seperti usia, status pernikahan, dan наличие anak. Tapi, setelah semua faktor ini dikontrol, ternyata frekuensi bermain game memiliki dampak yang signifikan terhadap tingkat thriving. Artinya, kebiasaan main game memang perlu diperhatikan, terutama pada kelompok yang rentan seperti pria muda.
Tapi, jangan buru-buru menyuruh semua cowok berhenti main game. Ingat, konteks sosial tetap penting. Pria muda yang bermain game dengan teman atau keluarga secara langsung cenderung lebih bahagia dibandingkan mereka yang bermain sendirian atau dengan orang asing. Jadi, solusinya bukan berhenti main game, tapi mengubah cara kita bermain.
Game: Dari Sumber Stres Jadi Sumber Sosialisasi?
Temuan Gallup ini menantang pandangan umum tentang game sebagai sumber hiburan semata. Game bisa jadi lebih dari sekadar sarana mengisi waktu luang. Ia bisa jadi alat untuk membangun koneksi sosial, mempererat hubungan dengan keluarga dan teman, atau bahkan meningkatkan kesejahteraan hidup. Tapi, semua tergantung pada bagaimana kita memanfaatkannya.
Penelitian lain mungkin menunjukkan hasil yang berbeda, karena mereka fokus pada manfaat yang dirasakan oleh pemain game itu sendiri. Padahal, persepsi subjektif ini bisa jadi bias. Gallup mencoba melihat dampak game dari sudut pandang yang lebih objektif, dengan mengukur kesejahteraan hidup secara independen.
Jadi, lain kali kamu main game, coba ajak teman atau keluarga. Jangan cuma fokus pada menang, tapi nikmati prosesnya. Siapa tahu, dengan bermain game bersama, kamu bisa level up tidak hanya di dalam game, tapi juga di kehidupan nyata.


