Siapa sangka sebuah festival sekelas Coachella bakal jadi panggung pembuktian sebuah band baru untuk membawakan lagu pop ikonik dekade lalu? Geese, yang lagi naik daun dari New York, memutuskan untuk sedikit ‘nyeleneh’ di penampilan perdana mereka di 2026 Coachella Valley Music & Arts Festival. Di tengah gemuruh Gobi Tent, alih-alih memainkan ‘Taxes’ atau ‘100 Horses’ tanpa jeda, mereka justru mengejutkan penonton dengan rendisi lagu ‘Baby’ milik Justin Bieber. Bukan sembarang cover, ini adalah langkah berani yang, jujur saja, memicu berbagai macam reaksi – mulai dari kaget, terhibur, hingga mungkin ada yang bertanya, “Ini seriusan, nih?”. Tapi ya, begitulah seni pertunjukan; tak pernah ada yang benar-benar tahu apa yang akan dilempar ke muka penonton, apalagi di panggung sebesar Coachella.
Momen ‘Baby’ di Tengah Lanskap Indie Rock
Band ini memilih untuk tidak sekadar memainkan cover ‘Baby’ begitu saja. Alih-alih, mereka mengintegrasikannya dengan salah satu nomor mereka sendiri, “2122”. Trik ini, yang kabarnya sudah menjadi semacam ‘trademark’ saat mereka tampil live, berhasil menciptakan jembatan yang tak terduga antara nuansa indie rock Geese dan beat pop yang familiar dari era 2010-an. Bayangkan saja, di tengah dentuman gitar dan vokal yang khas, tiba-tiba melodi yang lekat di ingatan jutaan orang muncul. Ini bukan sekadar pengulangan lirik, tapi sebuah eksperimen dalam mengolah elemen-elemen musik yang berbeda menjadi satu kesatuan yang kohesif. Keputusan ini jelas bukan tanpa risiko; bisa jadi dianggap brilian atau justru malah jadi bumerang, tergantung bagaimana audiens menangkapnya. Namun, melihatnya sebagai bagian dari setlist yang juga mencakup materi dari album Getting Killed seperti “Taxes”, “100 Horses”, “Husbands”, “Trinidad”, dan “Cobra”, ini menunjukkan Geese punya keberanian untuk bermain di luar batas aman mereka.
Fenomena cover lagu yang sangat berbeda genre di festival besar seperti Coachella ini bukan hal baru, tapi tetap saja selalu menarik untuk diamati. Ini bukan sekadar nostalgia, tapi lebih kepada bagaimana sebuah band mendefinisikan ulang identitas mereka di depan audiens yang sangat beragam. Mengambil lagu “Baby” yang identik dengan Justin Bieber muda yang lugu dan mengubahnya menjadi bagian dari narasi musik Geese adalah sebuah pernyataan. Ini menunjukkan bahwa Geese tidak takut untuk bereksperimen, melampaui ekspektasi genre, dan mungkin juga menggunakan momen ini untuk menarik perhatian audiens yang lebih luas, yang mungkin belum terlalu akrab dengan diskografi mereka. Keberanian untuk memasukkan elemen pop yang begitu kuat ke dalam set mereka di Coachella, yang seringkali didominasi oleh genre yang lebih ‘serius’ atau ‘alternatif’, adalah sebuah pertaruhan yang cukup berani.
Tradisi yang Mulai Terbentuk: “Baby” Sebagai Simbol
Integrasi “Baby” ke dalam “2122” ini sepertinya bukan sekadar iseng. Ini adalah sebuah tradisi yang mulai terbentuk, sebuah ritual di mana Geese memberikan sentuhan unik pada penampilan live mereka. Di era di mana orisinalitas seringkali menjadi mata uang utama, keputusan untuk mengcover lagu yang sudah sangat ikonik, dan kemudian menjadikannya bagian dari identitas live mereka, adalah langkah yang cerdas. Ini menciptakan momen kejutan yang diingat penonton, sebuah ‘highlight’ dari sebuah set yang penuh dengan energi. Frontman Cameron Winter yang menjanjikan kembalinya band minggu depan “barring any emergencies” seolah menegaskan bahwa ini baru permulaan. Musim festival tahun ini, termasuk slot di Primavera Sound, Bonnaroo, Lollapalooza, dan Outside Lands, akan menjadi medan uji coba yang menarik untuk melihat bagaimana evolusi Geese terus berlanjut.
Apa yang membuat cover ini begitu menarik? Mungkin karena “Baby” adalah lagu yang sarat dengan kenangan bagi banyak orang, sebuah soundtrack masa muda yang tak terhindarkan. Ketika sebuah band indie rock yang sedang naik daun mengambilnya, apalagi tanpa lirik rap dari Ludacris yang ikonik, mereka secara efektif menciptakan sebuah narasi baru. Ini bukan lagi lagu pop tentang patah hati remaja, melainkan sebuah kanvas kosong yang diisi dengan interpretasi Geese. Apakah ini sebuah komentar sarkastik terhadap dominasi pop, atau sekadar sebuah bentuk apresiasi yang disajikan dengan gaya mereka sendiri? Pertanyaan ini tentu mengundang diskusi lebih lanjut tentang batas-batas genre dan bagaimana sebuah lagu bisa hidup dalam berbagai konteks.
Dari Coachella ke Panggung Dunia: Geese Melangkah Maju
Penampilan di Coachella ini menandai debut Geese di salah satu festival musik terbesar di dunia. Ini bukan sekadar tampil, tapi sebuah langkah strategis untuk menempatkan diri mereka di peta musik global. Dengan jadwal festival yang padat setelah Coachella, mulai dari Primavera Sound di Eropa hingga Bonnaroo, Lollapalooza, dan Outside Lands di Amerika Utara, Geese sedang membangun momentum yang kuat. Mereka tidak hanya membawa materi orisinal mereka, tetapi juga menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan memukau berbagai jenis audiens. Keputusan untuk membawakan “Baby” di Coachella, di mana Justin Bieber sendiri akan menjadi headliner, tentu saja menimbulkan sedikit kehebohan ironis. Ini adalah semacam ‘nod’ halus, sebuah pengakuan atas pengaruh budaya pop yang tak terbantahkan, yang diolah kembali dengan sentuhan indie.
Melihat daftar setlist mereka yang utuh – “Husbands”, “Getting Killed”, “Baby/2122”, “I See Myself”, “100 Horses”, “Cobra”, “Bow Down”, “Au Pays Du Cocaine”, “Taxes”, “Trinidad” – kita bisa melihat sebuah harmoni yang disengaja. Ada perpaduan antara lagu-lagu yang mungkin lebih langsung dan energik dengan nomor-nomor yang lebih kompleks dan eksperimental. Penempatan “Baby/2122” di nomor ketiga menunjukkan bahwa ini bukan sekadar ‘cameo’ singkat, melainkan sebuah bagian integral dari pertunjukan mereka. Ini bukan upaya untuk menyaingi popularitas Justin Bieber, tetapi lebih kepada demonstrasi keterampilan artistik dalam menyajikan sesuatu yang tak terduga, namun tetap relevan dalam konteks sebuah festival yang merayakan keberagaman musik.
Intinya, Geese telah memanfaatkan panggung Coachella dengan sangat cerdas. Cover “Baby” bukan hanya sekadar cover, melainkan sebuah pernyataan artistik yang menunjukkan kedalaman pemikiran mereka tentang musik dan budaya. Ini adalah cara untuk menarik perhatian, memicu percakapan, dan tentu saja, menghibur. Dengan fondasi yang kuat dari materi orisinal dan keberanian untuk bereksperimen, Geese membuktikan bahwa mereka bukan sekadar band yang mengikuti tren, tetapi juga mereka yang berani menciptakan tren baru, bahkan dari lagu yang sudah berusia lebih dari satu dekade.


